12 Nov 2016

Perihal Dibanding-bandingkan

“ Kamu kok nggak pernah ngucapin” medh bobo” ke aku pas aku mau tidur? Gak kayak mantan aku dulu ” –pacar

“ Liat tuh si Ijah, anak tetangga sebelah, anaknya rajin, suka bantu-bantu orang tua. Gak kayak kamu, kerjaannya Cuma makan –tidur, makan-tidur, sama buang hajat doang” –emak

Siapa sih disini yang suka dibanding-bandingin? Sebagai seorang manusia, gue rasa kalian juga bakalan ngerasa kesel kalau dibanding-bandingin sama orang lain.Terutama sama emak sendiri.

Tenang, gue lagi nggak mau bahas mak-emak, takut kualat.
Dan, entah kita sadar atau enggak, kita juga pernah melakukan hal yang sama terhadap orang lain, membandingkan. Misalnya aja gue, gue suka ngebanding-bandingin harga makanan di warteg A dan B, nyari mana yang lebih murah makanannya, yang lebih enak dan porsinya banyak, tanpa memperdulikan perasaan tukang wartegnya. Gue yakin kalo mereka tau gue sering ngebanding-bandingin mereka, mereka bakalan sedih banget.   
Tuhkan jadi ikut baper gini.

Itumah beda lagi anjir!

Hari ini, gue abis kena omel Dosen. Eh? Bukan.. bukan gue, tapi kelas gue. Dia adalah Dosen yang ketiga yang complain tetang  kelas gue. 
 
Yang pertama, panggil aja namanya Bu Ani. Dia ngajar mata kuliah PTI di kelas gue. Cara dia mengajar adalah dengan metode prsentasi yang dilakukan oleh kita para mahasiswa. Gue inget, dia sempet marah-marah di pertemuan kedua. 

Begini dia bilang ;

“ Ibu heran sama kelas ini, kenapa yang presentasi kayak kurang faham sama apa yang dia presentasikan. Dan kalian (nunjuk anak-anak sekelas ), nggak pernah mau memperhatikan temannya yang lagi presentasi “


“ kalian sudah Ibu kasih tau buat memahami isi materi, tapi kenapa malah kayak kurang persiapan banget? Jangankan audience bisa ngerti isi materi yang disampaikan, lha wong yang nyampein aja nggak ngerti kok! ”


“ Ibu nggak tau yah, apa ini cuma perasaan Ibu atau bukan. Tapi di kelas lain tuh nggak kayak gini loh. Mereka semua aktif di kelas, baik pemateri, ataupun yang menerima materi. Padahal, cara Ibu ngajar kelas ini sama kelas yang lain itu sama” 

Yang kedua , panggil aja namanya Bapak Budi. Dia ngajar mata kuliah Ekonomi. Dari awal, udah ketauan kalau dia killer. Dan ini yang dia katakana di suatu Sabtu yang sangat melelahkan buat gue ;

“ Dikelas sebelumnya, anak-anaknya aktif semua. Mereka banyak nanya karena mereka belum ngerti. Nggak kayak kelas ini, ngerti nggak ngerti yang penting udah absen”


“ Selain nilai tugas, absen, etc. Saya juga menilai etika anak-anak di kelas ini. dan hasilnya nggak lebih bagus dari kelas lain, malah bisa dibilang kelas ini yang terburuk”


Dan yang terakhir, adalah dosen gue yang paling cantik, panggil aja bu Cantik. Dia adalah tipe orang yang menurut gue, dosen yang paling sabar diantara dosen yang lain. Tapi malam ini, dia baru aja marah-marah di kelas. Dan guepun hanya bisa tercengang.




Dia bilang dia sempet beristigfar berkali-kali di belakang, ketika presentasi sedang berlangsung. Materi presentasi kali ini lumayan berat, tapi temen-temen gue sempet-sempetnya pleset-plesetin materi. Mungkin itu yang bikin Bu cantik kecewa.
  
“ Ibu tau, kalian nggak punya banyak waktu untuk belajar tentang materi ini, tapi Ibu harapkan kalian jangan bikin lelucon tentang agama kalian sendiri. Kelas lain juga sama, mereka nggak ngerti, tapi mereka semua memperhatikan”
Kemudian bu Cantik keluar kelas.

Hening seabad.

Gue tengak-tengok kebelakang, ternyata masih ada aja muka-muka yang asing buat gue. 
Ehehe 
malah salah fokus.

Sebenernya momen ini tepat banget untuk gue jadikan sebagai ajang pencitraan, gue bisa aja langsung maju kedepan kelas dan ngasih kata-kata motivasi buat temen-temen gue, supaya mereka nggak down mentalnya karena kebanyakan dibanding-bandingin sama kelas lain.
Baru aja nyusun rencana buat bikin pencitraan. Temen-temen gue malah ikutan bubar keluar kelas dengan ekspresi wajah riang gembira, tanpa dosa. ((TANPA DOSA))

“Bhangkay! Kalian memang pantas dilaknat Dosen” umpat gue,
di dalem hati tapi.

Setelah kejadian ini, gue sadar akan satu hal.

Setiap kelas yang gue huni,  pasti ada aja yang nggak beres.
Ah, bukan.
Apapun itu, kalau ada guenya, pasti nggak bakalan beres.

Mungkinkah, kesalahan ternyata ada di diri gue sendiri?

Gimana kalau seandainya gue ini pembawa sial buat mereka?

Tidaaaakkkkhhhh!

*Flashback 

SMP.
Gue waktu itu di tempatin di kelas 7C, banyak yang bilang kalau kelas 7C adalah kelas buangan. Kelas sisa-sisan kelas A dan B, dan anak-anak dari kelas 7C ini jarang banget diikut sertakan dalam kegiatan lomba yang diadakan di sekolah.

Lalu kemudian gue naik ke genteng kelas 8. Kelas 8.1 tepatnya, gue pindah sekolah ke Jakarta. Gue kira ceritanya bakalan beda, ternyata sama aja.

Kelas 8.1 adalah kumpulan anak-anak nakal kelas 7 yang sengaja dijadiin satu di kelas 8-nya. Yang setiap hari Senin selalu jadi langgana dijemur di lapangan. Bahkan dulu, ketika SMP yang notabennya masih jarang banget siswi perempuan yang Married by Acsident, di kelas gue ada dua orang yang MbA. 
Warrrbyazaak!

Kelas 9.2, adalah kelas unggulan di kelas 9. Berbanding dengan kelas 8.1 yang merupakan kumpulan anak-anak nakal, kelas 9.2 adalah kumpulan anak-anak (yang katanya)  pintar dan imoedh. Mereka yang dapet peringkat 1-10 di kelas 8, sengaja di satukan di kelas 9.2, ya walaupun nggak semuanya, tapi average-nya sih gitu.

Tadinya, gue pikir kelas ini bakalan jadi kelas dengan kekuatan super power. Ternyata tidak! Justru, kelas ini dicap sebagai kelas yang punya sifat individualis terparah. Nggak jadi, jadi kelas unggulan, kalimat khas yang sering kita terima dari para guru adalah ;

“Percuma kalau kalian pinter tapi nggak kompak, contoh lah anak-anak kelas 9.5, wlaupun mereka biasa aja tapi mereka kompak, yang bisa ngajarin yang nggak bisa. Kalau kalian sih Ibu percaya udah pada bisa semua, makannya nggak butuh temen lagi kan ya?” 

Oh God why???

SMK
Gue masuk jurusan Akuntasi, dan kelas gue seratus persen penghuninya adalah cewek semua. Harapan di tempatkan di kelas yang normalpun sirna, ketika gue justru malah ketemu sama orang-orang sinting yang hobinya minggat pas jam pelajaran buat main monopoli.

Rusak moral adek bang.

Bukan hanya perbandingan yang kelas gue dapatkan, tapi juga cacian dan makian. 
Tsadest! 

Akuntansi 3 berhasil bikin wali kelasnya sendiri nangis dan mengundurkan diri jadi wali kelas.
Dan kelas gue juga memenaangkan rekor pencetak MbA terbanyak, bahkan tanpa terkecuali temen deket gue sendiri.

*Flashback end

Dan sekarang, 
Di tempat kerja.
Kebetulan gue ditempatin di salah satu cabang pabrik gue yang dulu. Pabrik pertama ada di daerah Kosambi, Dadap. Dan cabangnya adalah di tempat gue saat ini, di Cikupa.

Karyawan pabrik cikupa sebagian besar staffnya adalah pindahan dari pabrik Dadap. Sialnya, yang dipindahin adalah yang anak-anak masih kecil, model gue ini. Di cikupa, yang megang kendali pabrik umurnya baru 23 tahun. Sedangkan di Dadap, orang lama semua. Mereka udah bisa dibilang professional.
Kami team Cikupa sering dikatain nggak becus kerja. Sampai-sampai, SOP kerja di Cikupa harus sama dengan yang di Dadap. Dan kalau hasil outputnya nggak sama kayak di Dadap, salah satu diantara kita akan ditrainning di Dadap. 

“ Dadap aja yang pabriknya kecil bisa, masa Cikupa yang pabriknya lebih besar nggak bisa?”

Setiap manusia itu dilahirkan berbeda, kecuali yang dilahirkan kembar, itupun gue yakin pasti ada sifat yang berbeda. Apalagi kita, yang dilahirkan dari rahim yang berbeda-beda . Kalo semuanya baik pasti nggak seru, kalau semuanya rusuh juga ngeselin. Hidup ini harus seimbang. Ya gue ambil positifnya aja, kalau nggak ada kelas yang rusuh, pasti Dosen atau guru-guru aitu nggak bakalan bisa bilang “jangan tiru kelas yang itu ya…” ke kalian. Kalo nggak ada kita, si kelas yang rusuh, nggak bakal ada bahan judge-an. Iya nggak?

10 Nov 2016

Salam Sapa Blogger Personal

Halo kalian para Blogger Personal!



Kenalin, nama gue Puti. 

Duh, mau nulis apaan lagi ya? 

Jadi gini, ehm...

Sehubungan dengan diterbitkannya postingan ini, maka saya nyatakan bahwasanya , saya ingin bergabung dengan salah satu komunitas Blogger yang ada di Indonesia, yaitu Blogger Energy.

Tepuk tangannya dong teman-teman…

Oke, terima kasih.

Persyaratan untuk join jadi anggota Blogger Energy, gue anggap sangatlah mudah. Salah satunya adalah gue harus membuat sebuah postingan untuk menyapa para Blogger Personal lainnya. Tidak ada persyaratan yang mengharuskan gue untuk melupakan mantan terlebih dahulu, baru bisa keterima jadi anggota. Jadi, gue pastikan kalau gue bisa lolos.

Hanya saja, ada salah satu pertanyaan di formulir yang bikin gue dilema, yaitu, akun twitter. Gue udah lupa tepatnya kapan gue berhenti twitteran, bahkan gue juga udah lupa apa alamat e-mail dan passwordnya. Yang gue inget cuma nama akunnya aja.

Setelah bersemedi sekitar setengah jam di kamar mandi, gue akhirnya memutuskan untuk bikin akun twitter lagi supaya bisa mengisi formulir dengan baik dan benar. Walaupun gue juga belum tau, apakah gue akan kembali masuk ke dunia twitter lagi atau enggak, untuk kedepannya.

Berikut adalah alasan -alasan kenapa gue memilih personal blog dan juga memilih untuk bergabung dengan Blogger Energy.

Kenapa gue memilih Personal Blog?

Dari awal, gue nggak pernah merencanakan untuk membuat sebuah personal blog, ataupun blog-blog dengan genre lainnya. Gue hanya suka menuliskan segala hal yang bersifat personal atau hal yang memang gue alamin sendiri untuk kemudian gue share di blog ini, tanpa bantuan seorang admin. Yakali ah!
Semuanya mengalir gitu aja. Dan lama-lama blog ini undah gue anggap sebagai sebuah digital diary.

Personal blog mungkin tidak selalu menjanjikan penghasilan untuk kita, tetapi, sebuah personal blog selalu berhasil menciptakan kebahagiaan bagi si empunya blog itu sendiri.
If you know what I mean.
Photobucket



Alasan kenapa gue memilih bergabung dengan Blogger Energy.?

Kenapa nggak bergabung jadi anggota MLM aja? Iya kan?
baiklah, berikut akan gue jelaskan secara singkat.

Yang pertama.
Jelas,gue ingin menambah teman baru. Dari kebanyakan blog yang sering gue kunjungi ketika gue blogwalking, rata-rata dari mereka adalah anggota Blogger Energy. Dan mereka semua keren! Makanya, gue yakin banget masih banyak anggota Blogger Energy lainnya yang harus gue kenal, yang punya energy positif  yang bisa disetrumkan ke gue.

Yang ke-dua.
Gue pengen sharing dengan blogger lain. Jujur aja, gue masih newbie banget di dunia blogger. Gue masih butuh banyak bimbingan dari temen-temen blogger yang lain, mulai dari tips-tips menulis sampe atur-atur template dan widget di blog. Gue butuh belajar banyak dari mereka.

Yang ke-tiga.
Gue butuh masuk kedalam “wadah” yang isinya orang orang kreatif dan positif, minimal supaya gue juga ketularan jadi kreatif.
 
Yang ke-empat
Supaya gue bisa menguasai dunia.

Sebenernya masih banyak lagi alasan lainnya. Karena gini-gini juga gue pernah jadi anak SMK yang punya seribu  alasaan ketika ditanya sama guru kenapa gue telat masuk kelas.

Gue rasa keputusan gue untuk bergabung dengan Blogger Energi adalah keputusan yang sangan telat. wqwq gapapalahya~ mending telat daripada telat banget.

Harapan gue, semoga gue bisa di terima disisi kalian ya, teman.

Blogger Energy! Hwaiting!

5 Nov 2016

Assalamu'alaikum, Pa :')

Bapa, gimana kabarnya ? Semoga Bapa selalu dalam lindungan Allah SWT, ya..
{}pelukdarijauh
 
Bapa… 

Ah, rasanya lidah Puti udah terlalu kaku buat ngucapin kata “Bapa” ke orang tua Puti sendiri. Selama 13 tahun kebelakang ini, Puti cuma bisa menggumam nama Bapa di dalam hati hati aja pas Puti lagi kangen-kangennya sama Bapa.
 
Dulu Mamah bilang, Bapa maunya punya anak laki-laki, makanya pas Puti lahir, Bapa keliatan kurang bahagia, Sampai-sampai Bapa malah dandanin Puti kayak anak laki-laki, beliin Puti mainan laki-laki, beliin Puti baju-baju laki-laki juga.  Tapi kenapa pas Aldo lahir, Bapa malah ninggalin kita semua? Katanya  Bapa mau punya anak laki-laki? 

Pa, Gimana jadinya ya kalo Bapa sekarang masih ada?
Mungkin kayaknya Puti nggak bakal kesasar jauh sampe ke Tangerang.
Mungkin juga Aldo nggak bakalan ngerasain yang namanya hidup sendiri di kota orang.
Atau mungkin Mamah nggak bakalan pernah bertemu sama orang yang sangat Puti benci.
Tapi Puti sadar kok, ini semua udah ditakdirkan Allah, udah digariskan dari sebelum Puti lahir.

Walaupun sebenarnya, Puti nggak ikhlas.

Sebulan yang lalu, Bapa nengokin Puti di dalam mimpi Puti. Saking bahagianya, Puti selalu certain mimpi Puti ketemen-temen Puti. Sampai sekarang, mimpi itu masih terekam dengan jelas di memori otak Puti dan menempati tempat teratas diantara kenangan-kenangan bahagia lainnya.

Setelah Bapa pergi, kehidupan keluarga Bapa ini nggak pernah bisa utuh lagi. Bapa sendiri tau kan? Mana pernah Puti sama Aldo tinggal serumah? Dari kecil Puti udah dititip-titipin sama saudara, entah itu saudaranya mamah, ataupun saudaranya Bapa. 

Apa boleh Puti bilang hidup ini nggak adil buat Puti, Pa? Puti iri sama temen-temen Puti, mereka selalu aja bilang, kangen rumah, kangen orang tua mereka, kangen sama adik mereka. Sedangkan Puti? Bahkan rumah yang bisa Puti rindukan buat pulang aja Puti nggak punya.

Masa-masa sulit Puti  dulu, yang membuat hati Puti keras kayak sekarang ini. Puti selalu ngerasa Puti nggak punya siapa-siapa. Puti udah terlalu jauh sama Aldo, dan Mamah nggak pernah bisa jadi telinga buat semua keluh kesah Puti. Rasanya Puti pengen teriak, tapi suara Puti cuma terjebak di kerongkongan dan berubah jadi awan mendung di dalam kelopak mata.

Pa, hari ini Puti inget sama kalian semua, dan tiba-tiba aja Puti kangen sama Aldo, Puti juga kangen sama Mamah. Rasanya Puti pengen nangis dipelukan kalian bertiga.

Source : Google Images

Untuk Bapa, sekali lagi maafin Puti karena Puti nggak tumbuh seperti anak perempuan lainnya. Puti bahkan udah bisa dikatakan gagal. Puti tau, Bapa pasti marah, kecewa dan malu punya anak kayak Puti. Ini semua bukan salah Bapa ataupun Mamah yang nggak bisa ngebimbing Puti jadi anak yang baik, ini semua mutlak karena kesalahan Puti Sendiri.

Salam kangen, Pa.

30 Okt 2016

Dua Hal yang Membuat Gue Dilema

Nggak kerasa ya tinggal dua bulan lagi kita ada di tahun 2016.

Nggak kerasa palelu mleduk! Udah lupa kali gimana rasanya waktu seakan bergulir melambat pas tanggal tua.

Ehek.
Kadang, yang bagian itu suka lupa.

Btw mau nanya nih sama klean, apa kabar sama resolusi yang kalian bikin di awal tahun kemarin? Sudah bisa terwujud-kah? 

Kalau sudah, nggih Alhamdulillah. 

Kalo belom, yuk ikut gue ngelem nangis di pojokan. 

Sebenarnya resolusi yang  “besar-besar” gue ditahun 2016 sudah ada beberapa yang bisa gue wujudkan, walaupun belum semua. Cuma ya gitu, ada beberapa resolusi yang justru malah bikin gue dilema, salah duanya adalah pengen konsisten ngeblog dan rajin baca buku.

Yang pertama, perihal nge-blog

Belajar buat konsisten nge-blog itu ternyata nggak segampang ketika kita mau nolak cowok dengan alasan “kamu terlalu baik buat aku”. Gue rasa, setiap blogger di belahan dunia manapun pernah mengalami  fase menjadi seorang blogger murtad, apalagi blogger recehan macam gue ini.

Gue masuk ke dunia blog sekitar dua tahun yang lalu, sebagai seseorang yang sama sekali nggak tau hakikat per-blog-an yang sesungguhnya seperti apa. Dan yang jadi alasan kenapa gue ngeblog  adalah, gue cuma butuh tempat untuk cerita tanpa bisa diketahui oleh orang-orang yang gue kenal. Rasanya suatu masalah kalau belum dilampiaskan dengan cara menuliskannya, perasaan gue belum bisa lega, belum bisa plong.

Gue terpaksa menutup blog gue yang dulu, karena banyak tulisan disana yang tidak lulus sensor KPI. Kalau kalian baca salah satunya, gue yakin kalian bakalan muntah beling. Karena jujur, nggak jarang gue nulis di blog sambil nangis. Yupz! Bisa kalian tebak blog macam apa yang gue  udah gue ciptakan.

Berikut spoilernya..

my EYEEEESSSS!!!

Postingan terakhir gue di sana sekitar bulan May 2015, gue berhenti nulis karena gue bingung mau nge-galau tentang apalagi. Gue kehabisan stok galau gara-gara gue jomblo. Orang yang biasanya jadi tokoh utama di dalam setiap cerita di blog akhirnya memilih buat mutusin gue dengan alasan “dia nggak bisa bahagiain gue”. 
Bentar..bentar… Ini kenapa jadi bahas mantan ya?

Ketika gue sedang desperate-desperatenya nge-jomblo, tiba-tiba munculah coc di kehidupan gue.  Nggak butuh waktu yang lama buat gue akhirnya kecanduan coc, sampai gue  bisa nangis cuma gara-gara kalah war doang. 

Lama-kelamaan, gue mulai cape sendiri sama game sialan itu, gue seperti punya tanggung jawab terhadap game itu dan gue juga merasa terbebani. Temen-temen gue pun mulai khawatir tentang kelakuan gue yang sepertinya malah dikenadalikan oleh game, mereka bilang kalau gue hampir stres gara-gara coc.

Setelah mendengar kata-kata mereka, gue akhirnya, 
baper.

Guys, kalian kampret bets!

Pada suatu hari, entah kapan tepatnya itu, gue cukup lama duduk di depan monitor sambil bengong, gue bingung keyword apa yang harus gue ketik di mesin pencarian google. Karena biasanya memang yang selalu gue cari tidak jauh-jauh dari “base war TH 8, anti naga”, “base farming TH 9” atau “cara attack menggunakan GoWiHog”.

Setelah berfikir selama seperempat abad, akhirnya gue mengetikan ini di google “Adakah orang stress gara-gara coc?” link demi link gue buka, sejauh gue membaca tiap artikel, gue belum menemukan adanya nya berita tentang kasus orang yang stress gara-gara coc, yang ada cuma kasus orang yang bunuh diri gara-gara coc. serem abis! Sampai akhirnya gue berhenti disalah satu artikel penjual obat kuat, gue pun langsung menutup tab artikel itu setelah sebelumnya gue bookmark terlebih dahulu. 

Lalu tiba-tiba gue memincingkan mata. 

#nocaption #nofilter #noedit #instamood #vscocam #likforlike

Gaya cerita dia beda dari semua artikel yang sebelum-sebelumnya. Akhirnya gue iseng ngubek-ngubek postingannya dia yang lain. Dan gue betah!

Tsssah! padahal dulu taglinenya blog seorang mahasiswa bejat.

Iya, kalian pasti nggak asing sama blog ini, blognya Joga Tjahja Poetra atau Yogaesce atau Yoga siluman Capung. Kalo kebanyakan blogger lain mungkin terinspirasi blog-blog yang sekarang bloggernya udah jadi artis macam Raditya Dika atau Alit Susanto, kalau gue justru terinspirasi dari blog bejatnya mas Yoga, Astaghfirullah.

Dari setipa postingannya Mas yoga ini lah gue bisa merasakan hakikat sesungguhnya menjadi seorang blogger itu seperti apa. Terlebih ketika gue baca komentar-komentar di setiap postingan yang mas Yoga, bikin gue pengen teriak pake toa masjid "Woy, itu kok kayaknya asik banget, ajakin gue dong!"
 
Lama-lama, intensitas gue maen coc pun berkurang karena gue lebih sering baca blognya mas Yoga, dari awal dia jadi blogger. Mungkin dari jaman dia SMA sampai dia mulai magang pas kuliah, kalau sekarang sih orangnya udah lulus. Asik dah! SE. 

Waktu itu gue memang cuma baca blognya mas Yoga aja, sampai suatu ketika pas gue baca postingannya mas Yoga yang ini, gue baca salah satu komentar dari akun google dengan nama Kresnoadi DH.

Wiiih, ini orang songong amat. Batin gue.

Karena gue penasaran, akhirnya gue klik link namanya dia, dan…

Terdamparlah gue di sebuah blog dengan nama Keriba-Keribo yang bahkan lebih sesat dari blognya mas Yoga. Guepun mulai mencium bau konspirasi para blogger yang lain, gue mencoba untuk masuk jauh lebih dalam lagi dan taraaaaa… guepun memutuskan buat bikin blog lagi.

Kemudian gue ketemu sama mas Tomi 

Ketemu Deva yang otaknya bocor alus

Ketemu sama Dibah, yang kadang masih galau gender

Terus ada blogger yang menurut gue dosanya paling banyak, mz Niki 

Dan masih banyak lagi yang lainnya. Mereka semua keren!

Rasanya gue seneng banget bisa ikut nyempil didunia blogger, walaupun gue sadar konten blog gue masih sangat sangat sangat ieuwh banget kalau dibandingin sama yang lain. Contohnya aja isi blognya, gue kadang suka bingung sendiri sama diri gue. Padahal dari awal gue udah tegaskan kalau nantinya isi blog ini ya cuma kayak diary digital milik gue. Gue nulis apa yang ada dipikiran gue,  gak usah yang berat-berat, cukup hal-hal yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari gue.

Tapi kadang mental gue mental jauh banget ketika gue mampir ke blog seseorang  yang konten dan isi blognya bagus. Gue berasa jadi remah-remah, gue minder. Kemudian yang terjadi adalah, gue bandingkan dengan blog milik gue, rasanya gue langsung pengen mandi junub Sholat tobat.

Yang ke dua, perihal baca buku

Sumber  : Google Image
Iya, itulah yang gue rasakan.

Ada begitu banyak buku, tapi nggak ada waktu  
ples nggak punya uang buat belinya.
Mungkin kalo perihal uang kita bisa coret ya, soalnya kalau kita mau, diluar sana ada banyak buku yang bisa kita baca tanpa perlu mengeluarkan uang.
Baca di Gramedia misalnya. ehe.

Yang susah itu nyari waktu  dan mood buat baca.
Timing buat baca yang pas itu kapan sih sebenernya ? Dan dimana ?  Waktu dimana kita bisa dengan tenang mencerna setiap kata yang kita baca.

Udah sebulan lebih gue nenteng-nenteng buku “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”-nya Kuntowijoyo, kemanapun gue bawa, sampai-sampai pas gue pergi ke bioskop pun bukunya tetap gue bawa, takut-takut mood gue buat baca muncul ketika lampu bioskop dimatikan. Ya nggak gitu juga sih.

Gue bukan tipe orang yang beli buku setelah bahan bacaan gue abis, justru sebaliknya, gue adalah si penimbun bacaan. Ada yang bilang kalau sebenernya gue itu nggak suka baca, gue cuma jatuh cinta sama buku.

W-w-what the--?! Jatuh cinta sama buku. Bentar deh gue coba tela’ah dengan seksama.

Mata gue selalu berbinar ketika gue melihat buku, buku apapun itu kecuali buku catatan hutang.

Jantung gue selalu berdebar kencang ketika gue ada di toko buku, apa lagi pas lagi ada diskonan.

Perasaan ingin memiliki sebuah buku yang sangat berlebihan.

Dan benci ketika temen sendiri punya buku yang sama dengan gue.

Lebih milih beli buku ketimbang beli baju lebaran

Mungkinkah itu semua yang dinamakan cinta?

Wallahualam~

Semoga secepatnya waktu bisa berpihak sama gue, supaya gue bisa dengan bebas menjamah seluruh tubuh buku yang gue punya.

Oke, itu adalah salah dua resolusi tahun 2016 yang belum bisa gue wujudkan, semoga tahun depan.
Yaelah kelamaan.  

Ya intinya gue berharap untuk kedepannya gue bisa menulis hal-hal yang lebih bermanfaat di blog, dan juga bisa dengan bijak menggunakan waktu.

Kalau kalian gimana? Resolusnya tahun 2016-nya apa kabar?

28 Okt 2016

Postingan Ter-Gak Jelas di Pagi Buta

“Welcome to the new world” begitu kata mahasiswa-mahasiswa terdahulu terhadap para mahasiswa baru.

Guepun sempat bertanya-tanya dalam hati, apa arti sebenarnya dari kalimat itu ? Apa kalimat itu memang benar merupakan sebuah  ucapan selamat datang bagi kami atau,
Hmmm...
yang tau hanyalah Tuhan dan mereka yang selalu bilang “welcome to the new world” sambil menebar senyum penuh arti-nya Mr. Bean si IYKWIM.

Genap sudah sebulan gue menjadi seorang mahasiswa yang sekaligus menyandang status sebagai ... maba tua.
-_-

Dan rasanya jadi mahasiswa itu,
hmmm...
biasa aja .
-______-

sumber : Google Image

“Put kok kayaknya kamu kuliahnya nggak antusias gitu sih?” tanya salah seorang temen gue. Gue cuma bisa nyengir tapir tanpa bisa menjawab pertanyaan dia.
Yaiyalah! jangankan mau jawab, mau buka mulut aja susah banget, anjis! Waktu itu gue lagi sariawan stadium empat, bahkan sampai mau dilarikan ke RSCM, tapi nggak jadi, karena gue tau itu bakalan cape banget.

Perihal kenapa gue keliatan nggak antusias di mata temen-temen gue,  menurut gue sih, cuma karena gue nggak pernah meng-ekspose kegiatan yang sedang gue lakukan di medsos. Gitu.
Misalnya nih ; gue lagi di kampus, terus foto selfie pake alamamater, fotonya di pake buat dp bbm, dan pmnya "rame banget sih kelasnya, udah kayak pasar malem aja"
Atau ketika gue pulang kemaleman dan gue bikin status di sosmed "pulang kampus malem-malem sendirian."
hestekceweksetrong.

Hih! Kekinian banget sih!

Justru biasanya yang over antusias di awal, nanti pas udah akhir-akhir malah memble, energinya udah habis kepake di awal, kan malah bahaya. Mending kayak gue *benerin kerah baju  
saiki tak setel kendo sik wae, urusan akhire arep kepie, pasrah wae neng gusti Allah.
#dilemparinbatujumroh

Balik lagi ke masalah antusias atau enggak nya gue di kampus. Siapa bilang gue enggak antusias, gue loh yang setiap hari duduk dikursi paling depan ((PALING DEPAN)) dalam arti yang sesungguhnya. Mungkin gue harus segera beli kacamata biar bisa ikut bergabung dengan genq-genq hitz yang gue yakini udah terbentuk di barisan-barisan belakang.

Jadi siklus gue ke kampus tiap hari adalah, masuk kelas-duduk-nerima materi-pulang. kesempatan gue untuk berinteraksi dengan teman-teman lainnya hampir jarang banget  buat dilakukan. 

Gue akui, gue masih payah dalam perihal berteman. hiks T.T
Masih banyak anak-anak di kelas yang bahkan belum tau nama gue itu siapa.
Entah karena  guenya yang terlalu asik sendiri di depan (ngitung berapa kali dosen nguap) atau sebenernya gue ini adalah makhluk tak kasat mata, sampai-sampai mereka nggak merasakan kehadiran gue.

wallahualam.

Eh iya, menurut kalian jadi introvert itu menyenangkan gak sih? kok gue tiba-tiba mikir kalo kayaknya malah asik ya? Seorang introvert itu hidupnya tenang, gak banyak drama, nggak rempong dan mandiri.

Iya mandiri, kan nggak punya temen. ehe.

itumah bukan introvert, tapi dikucilkan dari pergaulan -_-


Aku Adalah

Puti Andini

Pengabdi Wifi Telkom...

Bagian dari

Your Lucky Number

Kategori