Perihal Dibanding-bandingkan
“ Kamu kok nggak pernah ngucapin” medh bobo” ke aku pas aku mau tidur? Gak kayak mantan aku dulu ” –pacar
“ Liat tuh si Ijah, anak tetangga sebelah, anaknya rajin, suka bantu-bantu orang tua. Gak kayak kamu, kerjaannya Cuma makan –tidur, makan-tidur, sama buang hajat doang” –emak
Siapa sih disini yang suka dibanding-bandingin? Sebagai seorang
manusia, gue rasa kalian juga bakalan ngerasa kesel kalau dibanding-bandingin
sama orang lain.Terutama sama emak sendiri.
Tenang, gue lagi nggak mau bahas mak-emak, takut kualat.
Dan, entah
kita sadar atau enggak, kita juga pernah melakukan hal yang sama terhadap orang
lain, membandingkan. Misalnya aja gue, gue suka ngebanding-bandingin harga
makanan di warteg A dan B, nyari mana yang lebih murah makanannya, yang lebih
enak dan porsinya banyak, tanpa memperdulikan perasaan tukang wartegnya. Gue yakin
kalo mereka tau gue sering ngebanding-bandingin mereka, mereka bakalan sedih
banget.
Tuhkan jadi ikut baper gini.
Tuhkan jadi ikut baper gini.
Itumah beda
lagi anjir!
Yang pertama,
panggil aja namanya Bu Ani. Dia ngajar mata kuliah PTI di kelas gue. Cara dia mengajar adalah dengan metode prsentasi yang dilakukan oleh kita para mahasiswa. Gue inget, dia sempet marah-marah di pertemuan kedua.
Begini dia bilang ;
“ Ibu heran
sama kelas ini, kenapa yang presentasi kayak kurang faham sama apa yang dia
presentasikan. Dan kalian (nunjuk anak-anak sekelas ), nggak pernah mau
memperhatikan temannya yang lagi presentasi “
“ kalian
sudah Ibu kasih tau buat memahami isi materi, tapi kenapa malah kayak kurang
persiapan banget? Jangankan audience bisa ngerti isi materi yang disampaikan,
lha wong yang nyampein aja nggak ngerti kok! ”
“ Ibu nggak
tau yah, apa ini cuma perasaan Ibu atau bukan. Tapi di kelas lain tuh nggak
kayak gini loh. Mereka semua aktif di kelas, baik pemateri, ataupun yang
menerima materi. Padahal, cara Ibu ngajar kelas ini sama kelas yang lain itu
sama”
Yang kedua , panggil aja namanya Bapak Budi. Dia ngajar mata kuliah Ekonomi. Dari awal, udah ketauan kalau dia killer. Dan ini yang dia katakana di suatu Sabtu yang sangat melelahkan buat gue ;
Yang kedua , panggil aja namanya Bapak Budi. Dia ngajar mata kuliah Ekonomi. Dari awal, udah ketauan kalau dia killer. Dan ini yang dia katakana di suatu Sabtu yang sangat melelahkan buat gue ;
“ Dikelas
sebelumnya, anak-anaknya aktif semua. Mereka banyak nanya karena mereka belum
ngerti. Nggak kayak kelas ini, ngerti nggak ngerti yang penting udah absen”
“ Selain
nilai tugas, absen, etc. Saya juga menilai etika anak-anak di kelas ini. dan
hasilnya nggak lebih bagus dari kelas lain, malah bisa dibilang kelas ini yang
terburuk”
Dan yang
terakhir, adalah dosen gue yang paling cantik, panggil aja bu Cantik. Dia
adalah tipe orang yang menurut gue, dosen yang paling sabar diantara dosen yang
lain. Tapi malam ini, dia baru aja marah-marah di kelas. Dan guepun hanya bisa tercengang.
Dia bilang
dia sempet beristigfar berkali-kali di belakang, ketika presentasi sedang
berlangsung. Materi presentasi kali ini lumayan berat, tapi temen-temen gue
sempet-sempetnya pleset-plesetin materi. Mungkin itu yang bikin Bu cantik kecewa.
“ Ibu tau, kalian nggak punya banyak waktu untuk belajar tentang materi ini, tapi Ibu harapkan kalian jangan bikin lelucon tentang agama kalian sendiri. Kelas lain juga sama, mereka nggak ngerti, tapi mereka semua memperhatikan”
“ Ibu tau, kalian nggak punya banyak waktu untuk belajar tentang materi ini, tapi Ibu harapkan kalian jangan bikin lelucon tentang agama kalian sendiri. Kelas lain juga sama, mereka nggak ngerti, tapi mereka semua memperhatikan”
Kemudian bu
Cantik keluar kelas.
Hening seabad.
Gue tengak-tengok kebelakang, ternyata masih ada aja muka-muka yang asing buat gue.
Ehehe
malah salah fokus.
Sebenernya momen ini tepat banget untuk gue jadikan sebagai ajang pencitraan, gue bisa aja langsung maju kedepan kelas dan ngasih kata-kata motivasi buat temen-temen gue, supaya mereka nggak down mentalnya karena kebanyakan dibanding-bandingin sama kelas lain.
Baru aja nyusun rencana buat bikin pencitraan. Temen-temen gue malah ikutan
bubar keluar kelas dengan ekspresi wajah riang gembira, tanpa dosa. ((TANPA DOSA))
“Bhangkay! Kalian
memang pantas dilaknat Dosen” umpat gue,
di dalem
hati tapi.
Setelah kejadian ini, gue sadar akan satu hal.
Setiap kelas yang gue huni, pasti ada aja yang nggak beres.
Ah, bukan.
Apapun itu,
kalau ada guenya, pasti nggak bakalan beres.
Mungkinkah, kesalahan ternyata ada di diri gue sendiri?
Gimana kalau seandainya gue ini pembawa sial buat mereka?
Tidaaaakkkkhhhh!
*Flashback
SMP.
Gue waktu
itu di tempatin di kelas 7C, banyak yang bilang kalau kelas 7C adalah kelas
buangan. Kelas sisa-sisan kelas A dan B, dan anak-anak dari kelas 7C ini jarang
banget diikut sertakan dalam kegiatan lomba yang diadakan di sekolah.
Lalu kemudian gue naik kegenteng kelas 8. Kelas 8.1 tepatnya, gue pindah sekolah ke
Jakarta. Gue kira ceritanya bakalan beda, ternyata sama aja.
Kelas 8.1 adalah kumpulan anak-anak nakal kelas 7 yang sengaja dijadiin satu di kelas 8-nya. Yang setiap hari Senin selalu jadi langgana dijemur di lapangan. Bahkan dulu, ketika SMP yang notabennya masih jarang banget siswi perempuan yang Married by Acsident, di kelas gue ada dua orang yang MbA.
Warrrbyazaak!
Lalu kemudian gue naik ke
Kelas 8.1 adalah kumpulan anak-anak nakal kelas 7 yang sengaja dijadiin satu di kelas 8-nya. Yang setiap hari Senin selalu jadi langgana dijemur di lapangan. Bahkan dulu, ketika SMP yang notabennya masih jarang banget siswi perempuan yang Married by Acsident, di kelas gue ada dua orang yang MbA.
Warrrbyazaak!
Kelas 9.2, adalah kelas unggulan di kelas 9. Berbanding dengan kelas 8.1 yang merupakan kumpulan anak-anak nakal, kelas 9.2 adalah kumpulan anak-anak (yang katanya) pintar
Tadinya, gue pikir kelas ini bakalan jadi kelas dengan kekuatan super power. Ternyata tidak! Justru, kelas ini dicap sebagai kelas yang punya sifat individualis terparah. Nggak jadi, jadi kelas unggulan, kalimat khas yang sering kita terima dari para guru adalah ;
“Percuma kalau kalian pinter tapi nggak kompak, contoh lah anak-anak kelas 9.5, wlaupun mereka biasa aja tapi mereka kompak, yang bisa ngajarin yang nggak bisa. Kalau kalian sih Ibu percaya udah pada bisa semua, makannya nggak butuh temen lagi kan ya?”
Oh God why???
SMK
Gue masuk jurusan Akuntasi, dan kelas gue seratus persen penghuninya adalah cewek semua. Harapan di tempatkan di kelas yang normalpun sirna, ketika gue justru malah ketemu sama orang-orang sinting yang hobinya minggat pas jam pelajaran buat main monopoli.
Rusak moral adek bang.
Bukan hanya perbandingan yang kelas gue dapatkan, tapi juga cacian dan makian.
Tsadest!
Akuntansi 3 berhasil bikin wali kelasnya sendiri nangis dan mengundurkan diri jadi wali kelas.
Dan kelas
gue juga memenaangkan rekor pencetak MbA terbanyak, bahkan tanpa terkecuali temen
deket gue sendiri.
*Flashback end
Dan sekarang,
*Flashback end
Dan sekarang,
Di tempat
kerja.
Kebetulan gue
ditempatin di salah satu cabang pabrik gue yang dulu. Pabrik pertama ada di
daerah Kosambi, Dadap. Dan cabangnya adalah di tempat gue saat ini, di Cikupa.
Karyawan pabrik cikupa sebagian besar staffnya adalah pindahan dari pabrik Dadap. Sialnya, yang dipindahin adalah yang anak-anak masih kecil, model gue ini. Di cikupa, yang megang kendali pabrik umurnya baru 23 tahun. Sedangkan di Dadap, orang lama semua. Mereka udah bisa dibilang professional.
Karyawan pabrik cikupa sebagian besar staffnya adalah pindahan dari pabrik Dadap. Sialnya, yang dipindahin adalah yang anak-anak masih kecil, model gue ini. Di cikupa, yang megang kendali pabrik umurnya baru 23 tahun. Sedangkan di Dadap, orang lama semua. Mereka udah bisa dibilang professional.
Kami team
Cikupa sering dikatain nggak becus kerja. Sampai-sampai, SOP kerja di Cikupa
harus sama dengan yang di Dadap. Dan kalau hasil outputnya nggak sama kayak di
Dadap, salah satu diantara kita akan ditrainning di Dadap.
“ Dadap aja yang pabriknya kecil bisa, masa Cikupa yang pabriknya lebih besar nggak bisa?”
“ Dadap aja yang pabriknya kecil bisa, masa Cikupa yang pabriknya lebih besar nggak bisa?”
Setiap manusia
itu dilahirkan berbeda, kecuali yang dilahirkan kembar, itupun gue yakin pasti
ada sifat yang berbeda. Apalagi kita, yang dilahirkan dari rahim yang
berbeda-beda . Kalo semuanya baik pasti nggak seru, kalau semuanya rusuh juga
ngeselin. Hidup ini harus seimbang. Ya gue ambil positifnya aja, kalau nggak
ada kelas yang rusuh, pasti Dosen atau guru-guru aitu nggak bakalan bisa bilang
“jangan tiru kelas yang itu ya…” ke kalian. Kalo nggak ada kita, si kelas yang
rusuh, nggak bakal ada bahan judge-an. Iya nggak?







