Tampilkan postingan dengan label Friendship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Friendship. Tampilkan semua postingan

17 Sep 2017

Puti dan Teman Geblek-nya vol. 2

Sesaat setelah gue membaca selembar KRS yang baru saja gue isi, gue seperti mendengar sebuah bisikan ghaib yang membuat bulu kuduk gue merinding.

“Puti, you have no power here…!”

Gue kira itu benar-benar suara makhluk halus, gue sempat takjub karena gue pikir, kok keren amat ya, hantu ngomongnya pake bahasa Inggris. Tapi untungnya gue cepat-cepat menyadari kalau ternyata itu adalah bisikan dari hati kecil gue sendiri.
Yha~ 

Selamat datang di semester baru.

Di mana di semester ini semuat mata kuliahnya adalah mata kuliah program. Entah harus sedih atau sedih banget malahan, ternyata pikiran tentang gue yang salah jurusan ini semakin gencar menghantui gue. 

Gue bingung sama diri gue sendiri, gue merasa hidup gue nggak match di dalam bidang apapun. Gue nggak tau gue suka apaan, selain suka drama Korea dan suka sama dia, tapi-dianya-engga.

Untungnya, gue masih punya alasan lain kenapa gue harus semangat berangkat kuliah. Alasan itu adalah, untuk bertemu dengan teman-teman gue.

Ciye Puti akhirnya punya temen juga.

Iya, ini mungkin konspirasi yang dibuat oleh alam semesta untuk gue. Di saat gue hampir menyerah untuk bisa berbaur dengan teman-teman perempuan gue di kelas, akhirnya Tuhan mengirimkan gue sekelompok orang yang... rasanya sulit gue deskripsikan dengat kata-kata.

Rasanya mereka bisa melengkapi ruang kosong di hidup gue. 

Kok jadi sok sedih, gini ya?

Padahal di bawah, gue mau beberin aib mereka semua.

HAHAHAHA

Berawal dari percakapan laknat antara gue, Meta, Musa dan Aji pada saat mata kuliah Bahasa Inggris sedang berlangsung.
“Banana is eaten by me…” kata dosen sambil menuliskannya di papan tulis

Gue : “ppppppfffftttttt, the big banana…” sambil nglirik Meta.

Meta : “Musa tuh suka banana yang big..”

Musa : “Bener, kan enak kalau yang big gitu..”

Gue : “Aji kamu mau nga dikasih big banana sama Musa?”

Aji : “Bayanginnya aja udah merinding…”

Gue, Meta, dan Musa saling tukar pandangan sambil nahan ketawa.

Semenjak saat itu lah gue tau kalau ternyata ada yang tidak beres dengan Aji dan Musa. Obrolan kita jadi meluas kesegala aspek yang tidak bisa gue bayangkan sebelumnya.

Gue nggak perlu jaga image buat berteman dengan mereka berdua. Gue bisa bebas ngomongin hal apa saja termasuk hal ‘jorok’ sekalipun (masih dalam batas wajar dan tidak melanggar norma kesopanan). Gue bisa pake jokes apa aja tanpa khawatir mereka akan sakit hati karena ucapan gue. Gue merasa menemukan kembaran-kembaran gue yang lain, yang sama sinting dan nggak beresnya.

Sumber : Pinteret
Jadi, beginilah kurang lebih dunia gue dan teman-teman gue; 

Aji dan Musa adalah sepasang suami istri. Mereka berdua sudah menikah ketika lebaran kemarin. Aji sebenernya akan di boyong ke Lampung supaya tinggal sama orang tuanya Musa. Tapi karena alasan masih kuliah, Aji memilih untuk tetap tinggal di Tangerang bersama Musa di satu petak kontrakan 3x4 meter. Mereka bilang sih, biar romantis.

Beberapa minggu setelah pernikahan mereka, akhirnya mereka di karuniai seorang Putra, atau mungkin Putri? Entahlah, anak itu baru bisa memilih gendernya ketika nanti sudah menginjak usia 30 tahun. Masalah gender ini agaknya memang cukup pelik bagi keluarga kecil  mereka. Terbukti ketika gue bertanya beberapa hal kepada Aji atau Musa.

“Kalian kalau lagi 'gitu', biasanya yang jadi cewe siapa?” tanya gue antusias.

“Batu kertas gunting dulu lah buat nentuin” Musa menjawab dengan mantap.

“Jadi yang kalah nanti di bawah…” tambah Aji.

Diambil dari nama Musa dan Aji, nama anak mereka yang baru saja menginjak 20 tahun adalah Pramusaji.

Gue sebenarnya agak kasian sama Pramusaji ini. Ya, gimana nggak kasian. Dia harus punya orang tua yang nggak jelas macem Aji sama Musa.

Masa iya, anak baru lahir udah disuruh kerja. Sementara bapaknya, si Musa, nganggur.

Nggak cuma itu, biar Musa dan Aji bisa bebas mau 'ngapain aja' di rumah, Pramusaji sering disuruh lembur kerja.

“Saya mah, mendingan lembur, teh, dari pada di rumah sama mereka dibius muluk, biar pingsan” Ujar Pramusaji dengan wajah sedihnya.

Benar-benar orang tua yang durhaka sama anaknya.

Belakangan juga baru ketahuan kalau ternyata proses pembuatan Pramusaji dilakukan di semak-semak. Gue nggak tau deh, kalau Pramusaji tahu tentang kebenaran ini, apakah dia akan tetap bertahan menjadi anak Aji dan Musa atau tidak.

Walaupun punya orang tua yang, katakanlah, bedebah, Pramusji masih bisa dibilang cukup beruntung, dia masih punya dua orang tante dan om yang tidak kalah bedebahnya juga.

INI BERUNTUNG DARI MANANYA, ASTAGA!! Jerit Pramusaji dalam hati

Melihat kondisi Pramusaji yang teramat sangat menderita itu, bahkan penderitaan bawang putih-pun masih belum apa-apa kalau dibandingkan dengan penderitaannya Pramusaji. Gue dan Meta akhirnya sepakat untuk menjadi tante angkatnya Pramusaji. Disusul oleh TB dan Mas Dani yang kemudian menjadi om angkatnya Pramusaji. 

Tugas kami berempat hanya satu, yaitu, mem-bully Aji dan Musa sampai kami di tegur dosen karena ribut terus.

Bhahaha

Beberapa waktu lalu, Aji sempat uring-uringan sama Musa. Setelah diselidiki, ternyata Musa memang telah berbuat salah kepada Aji.

Karena stress dan punya tekanan batin yang disebabkan oleh bully-an kami (om dan tantenya Pramusaji) yang selalu mengatai Musa sebagai orang tua yang tidak mau bertanggung jawab untuk menafkahi Aji dan pramusaji, Musa memutuskan untuk kembali bekerja lagi sebagai, cowok panggilan. 

Yap! Benar, Musa kembali lagi mangkal bersama dengan banci-banci Citra Raya.
Awalnya Aji tidak bisa menerima keputusan Musa itu, tapi karena diiming-imingi akan dibelikan lingering berenda warna pink, akhirnya Ajipun luluh.

Gue dan Meta memerankan Tante bedebah dengan sangat baik. Dimana ada kesempatan, pasti Aji dan Musa sudah kami bully habis-habisan. Kalau TB, dia bisa dikatakan lumayan jarang membully mereka berdua, tapi sekalinya udah niat, bisa bikin Aji sama Musa menyesal karena lahir ke dunia. Mas Dani? Hmmm, dia jarang banget memerankan om bedebah dengan baik dan benar. Masih dipertimbangkan apakah dia akan dipertahankan sebagai om yang bedebah atau akan diturunkan jabatannya sebagai tim hore saja.
Karena kami, khususnya gue dan Meta merasa belum puas jika hanya membully Aji dan Musa ketika di kampus saja, maka dari itu kamipun memutuskan untuk membuat sub-grup kelas di WhatsApp.

Kami merasa kami punya dunia sendiri, kami butuh wadah untuk menyalurkan aspirasi-aspirasi laknat kami, yang tidak mungkin kami tuangkan di dalam grup kelas, dan grup tersebut kami berinama “BANANA SWAG”.

Banyak percakapan-percakapan kami yang kadang tidak lulus sensor begitu saja di chat grup. Dan gue sama sekali nggak merasa risih. Padahal, dulu gue pernah left grup cuma gara-gara ada yang chat ‘jorok’, tapi dengan mereka, entah kenapa gue nggak merasa keberatan sama sekali.

Misalnya,

Ngomongin biji sampai ke pentil.

Pentil ban, maksudnya.




atau,



Membicarakan program hidup untuk masa depan.



yang mau booking Musa secara online, bisa cp ke gue ya...


Jadi gimana ya jelasinnya..

Setiap kali gue bertemu dengan mereka, gue merasa kalau gue masuk ke dimensi yang berbeda. Dimensi yang dipenuhi imajinasi-imajinasi yang sebenernya nggak berguna semacam itu, tapi justru bisa membuat gue lebih bersemangat lagi untuk menjalani hari-hari gue.

Sumber : Pinterest
Mungkin kalau teman-teman lain di kelas nggak sengaja denger apa yang kami bicarakan, mereka akan bilang kalau kami ini aneh.

Banyak banget percakapan-percakapan yang semakin hari rasanya semakin bertambah vulgar, banyak kata-kata kasar yang terlonta begitu saja, tapi justru bisa membuat kami jadi semakin mengenal satu sama lain.

Dan, yaa...
Harapan gue di semester baru ini semoga..

mmm apa ya?

Semoga mereka tidak merasa menyesal karena dipertemukan dengan orang macam gue.

Bonus;

Musa sang penakluk tante-tante.

kafer boy wannabe

Musa, Meta, Puti, Miskat (Pramusaji), dan Aji.

22 Jan 2017

Dari Dulu Udah Aneh

Bagi kalian, anak perantau yang dari kecil tinggal di satu daerah yang sama mungkin tidak akan sulit untuk menentukan kampung halaman kalian. Lain halnya dengan gue yang masih sering sekali dilema harus menentukan akan pulang kampung kemana.

Saat ini, orang tua gue tinggal di Bumi Ayu, sedangkan adik gue, Aldo, sekolah di Purwakarta, sementara itu, nenek gue yang ngurusin gue pas SMK tinggal di Banyumas, dan mereka semua selalu meminta gue untuk ada di tempat mereka di hari yang sama, yaitu pas Lebaran.

Sama halnya dengan kisah pertemanan gue semasa kecil. Segera setelah alm Bapak meninggal, gue tidak pernah menetap di satu tempat, walaupun hanya daerah itu-itu saja, Purwokerto-Purwakarta. Gue harus berkali-kali beradaptasi dengan orang-orang baru, dengan teman-teman baru, tetangga baru dan dengan bahasa yang baru juga. Maka jangan heran, terciptalah kepribadian gue yang seperti sekarang ini.

Source : Google Image
Sebelum gue mulai sekolah di SD, gue banyak menghabiskan waktu gue untuk bermain, sama seperti anak-anak seusia gue waktu itu. Teman main gue di rumah adalah, Erwin, Emul, Aceng dan Diki, Yha mereka memang bandot semua.

Erwin adalah anak tukang warung tempat gue biasa beli ciki berhadiah, bukan ciki doang sih, warung itu juga menjual aneka jenis kebutuhan lainnya, seperti warung pada umumnya. Gue sama Erwin hanya selisih umur satu tahun saja, makanya gue sama dia cukup akrab untuk main tabok-tabokan.

Emul, dia adalah tetangga di belakang rumah gue, Emul ini perawakannya gembul, kulitnya item manis, dia adalah anak yang penurut, jelas, karena dia paling muda dari kami berlima.

Lalu ada Diki, rumahnya Diki tidak terlalu jauh dari rumah gue, hanya terhalang tiga rumah saja. Diki ini orangnya judes, blak-blakan, temperamental, tapi juga sangat perhatian, dia sering membantu gue meringankan isi ciki yang gue makan, Diki juga sering ngajak gue untuk berpetualang, ke kuburan misalnya.

Yang terakhir adalah Aceng, rumah dia persis ada di depan rumah gue. Mang Aceng, begitu biasanya gue manggil dia. Mang Aceng ini sebenernya masih saudaraan sama gue. Orang tuanya dia adalah adik dari nenek gue. Mang Aceng sering sekali bikin gue nagis karena dia sering ngomelin gue, dia sering melarang gue melakukan hal-hal yang gue suka, waktu itu gue suka main air dan mandi bareng sama mereka. Tapi Mang Aceng melarang dan malah mengancam akan mengadukan gue sama Bapak.

Hal lain yang sering kita lakukan adalah bermain lompat-lomptaan di jendela kamar ( waktu itu rumah gue masih rumah panggung tradisional, jadi jendelanya lumayan tinggi), main jelangkung ( keren nggak? keren kan?, dan main layangan ( kalau lagi musim layangan doang ). Biasanya, kami berlima membuat layangan sendiri, Alm bapak-lah yang mengajari kami untuk membuatnya. Lokasi favorite kami untuk membuat layangan adalah di kuburan. Selain tempatnya adem karena banyak pohon besar, juga karena tempatnya sepi. ( Serah dah, Put!)

Setelah gue masuk sekolah, gue akhirnya memiliki teman baru lainnya, kali ini gue punya teman perempuan, namanya Kiki, dan yang satu adalah laki-laki, namanya Samsu. Mereka berdua resmi menjadi teman gue setelah kita sering pulang sekolah bareng. Emul dan Diki waktu itu belum sekolah, sementara Erwin dan mang Aceg adalah kakak kelas gue (tengsin lah mau ngajak pulang bareng juga).

Dari teh Kiki ( gue dipaksa manggil dia eteh, karena dia bilang gue lebih muda dari dia ) gue akhirnya mengenal teman-teman perempuan yang lain, ada Nyai, Melani, Karni, dan Nurul, walaupun tidak semuanya akrab.

Teman gue semakin bertambah ketika gue memutuskan untuk ikut mengaji.

Uniknya disana ada dua lokasi tempat mengaji, untuk pemula, sangat di ajurkan untuk mengaji di tempatnya mang Wahyu, di sana banyak sekali anak-anak kecil. Kemudian, persis seperti sekolah, setelah dirasa ilmu kita sudah cukup baik, maka kita harus memutuskan akan pindah ketempat yang lebih tinggi, atau menetap di mang Wahyu dan menjadi senior.

Kubu wetan dan Kulon, begitu kita menyebutnya. Walaupun kita hidup di satu desa yang sama, tapi kita tidak sepenuhnya sama. Selalu ada skat yang membuat kita seperti tidak boleh bersatu.

Kubu wetan, di sana ada saudara-saudara gue, ada banyak anak perempuan lainnya yang lebih dominan mengaji di tempatnya Ceu Euning. Sementara gue yang berada di kubu Kulon, mengaji di tempatnya mang Wahyu. Seperti yang sudah gue bilang, ketika kita sudah khatam qur’an kecil, maka kita akan dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit. Yaitu pindah atau menetap.

November 2003, Bapak gue meninggal. Mau tidak mau akhirnya gue harus pindah ke Jawa. Belum genap setengah tahun, akhirnya gue kembali lagi ke Purwakarta karena gue merasa tidak betah di Jawa. Saat itu yang jadi masalah adalah, bahasanya. Mungkin karena gue masih terlalu kecil, gue kesulitkan untuk belajar bahasa ngapak. Karena ngapak, tidak semudah seperti kelihatannya meen~

Setelah kembali dari Jawa, gue tidak menempati rumah gue lagi. Gue dititipkan di rumah nenek gue (di Wetan) sementara ibu gue kerja di Bandung. Gue kembali mendapatkan teman-teman baru. Waktu itu gue juga pindah sekolah. Yang asalnya di SD 1 jadi di SD 2, padahal ke dua sekolah itu cuma dibatasi sama lapangan bola. Gue sering di bilang penghianat sama anak-anak SD 1, karena lagi-lagi, SD 1 dan SD 2 adalah dua kubu yang bermusuhan.

Bukan hanya itu, kepindahan gue ke Wetan juga mengharuskan gue pindah ngaji ke tempat Ceu Euning. Karena tidak mau di bilang penghianat lagi, gue memutuskan untuk berpamitan dulu ke mang Wahyu, walaupun akhirnya tetep sama, gue dibilang penghianat.

Tidak perlu waktu lama, akhirnya gue mulai akrab dengan orang-orang wetan, dan teman-teman yang mengaji di tempat ceu Euning. Ada Iin, Hani, Mega, Nina, mereka adalah anak-anak seumuran gue, lalu ada senior-senior di tempat Ceu Euning yang galaknya ngalahin bendahara kelas pas nagih uang kas. Ada Bi Yuli, teh Novi, teh Nunun, teh Popon, Bi Iim, Bi yuni, teh Nur, teh Eneng, teh Cucu, dan masih banyak lagi lainnya.

Biasanya, masa mengaji ini hanya betahan sampai kita SMP, setelah kita masuk SMA dan disibukan dengan hal lainnya, kita semua menjadi lebih jarang mengaji, sampai akhirnya kita keluar dengan sendirinya.

Kenangan indah saat gue kecil nampaknya di mulai dari sini. Di masa ini gue mengenal banyak hal, termasuk cinta monyet. Peran gue dalam percintaan ini bukan menjadi monyetnya, melainkan jadi mak comblangnya.

Zaman gue dulu masih merasakan yang namanya surat-suratan. Masih merasakan yang namanya gemetar saat membaca paragraph awal surat “ To the point aja ya…”. Dan merasa salah tingkat sendiri ketika membaca pantun di akhir surat “ 4 x 4 = 16, sempat tidak sempat harus di balas…”

Kemudian mereka teriak “ Aaaaa… Puti, terima ngga ya, ini harus dibalas atau nggak suratnya? ”, dan gue pun mulai beraksi.

Ada banya pasangan yang akhirnya “jadian” berkat gue. Untuk para perempuan,biasanya gue membantu mereka membalas surat dan tentu mengantarkannya. Dan para laki-laki, biasanya mereka menitipkan surat dan salamnya melalui gue juga. Kalau di ingat-ingat, tugas gue saat itu sangatlah mulia, apalagi gue melakukannya dengan sukarela, alias gratis. Gue ikut senang melihat teman gue satu persatu kewarasannya hilang karena jatuh cinta.

Dulu, cinta tidak seribet seperti sekarang ini. cukup dari kejauhan kita melihat si do'i "ooohh... itu pacar saya, ya sudah..." 

Kalau kita seudah merasa tidak cocok ya bubar, putus, kelar semua urusan. Kita juga masih bisa berteman lagi seperti sebelum jadian. Setelah kita putus, kita bebas pacaran dengan siapa saja, termasuk teman kita sendiri. Bahkan mereka malah sengaja tukeran pacar. Keren sekali, bukan?

Coba kita bandingkan dengan kisah cinta zaman sekarang, jika kalian berani berpacaran dengan mantan teman kalian sendiri, sudah biasa dipastikan hubungan pertemanan kalian akan hancur.

Balik lagi ke masalah tugas yang gue emban sebagai mak coblang. lucunya, gue adalah satu-satunya orang yang belum pernah merasakan pacaran dengan orang satu kampung. Mungkin karena gue terlalu sibuk ngurusin hubungan orang lain. hahaha.   

Selain jadi mak coblang, gue juga punya satu tugas yang tak kalah penting lainnya, yaitu jadi hansip setiap malam Minggu,atau kasarannya jagaiin orang yang lagi pacaran. Kalau gue beruntung, kadang gue dapat imbalan permen chewy dari salah satu pasangan. Dulu permen itu termasuk permen legend yang mahal. 
uuuh bahagianya~

Suatu ketika, gue pernah mengalami masalah dengan peran gue sebagai mak comblang. Bermula dari teman gue yang bernama Ai, dia meminta gue untuk mencombalngkan dia dengan salah satu anak laki-laki yang bernama Rifqi, kebetulan juga Rifqi ini masih teman dekat gue. Setelah berhasil mengompori keduanya untuk jadian, akhirnya si Rifqi menitipkan surat cintanya sama gue. Seperti biasa, gue mengantarkan surat itu kepada penerimanya. Sebelumnya, Rifqi tidak bilang kalau surat itu untuk Ai, tapi dengan pd-nya gue memberikan surat itu pada Ai, karena gue merasa memang sedang men-comblangkan Ai denga Rifqi.

Setelah Ai menerima surat itu, dengan mesem-mesem najong, gue nanya ke Ai “ Gimai i? nembak?”, Ai hanya diam melihat gue lalu kemudian dia pergi. Gue nggak ambil pusing sama kejadian itu, gue berfikir mungkin Rifqi belum menyatakan cinta sama Ai, makanya dia terlihat kurang bahagia ketika membaca surat dari Rifqi. “Bukan salah gue” batin gue.

Beberapa hari setelah itu, gue memang merasa kalau sikap Ai ke gue sedikit berubah, padahal biasanya setiap kali Ai melihat gue, dia langsung kelojotan “Putii…. Rifqi gimanaa?!!” sampai kuping gue pengeng. Gue masih berfikiran, mungkin benar Rifqi belum nembak Ai, makanya Ai ngga punya bahan obrolan lagi sama gue. Lalu tiba-tiba, ada salah satu teman gue yang memberikan gue sebuah gulungan kertas yang sudah lumayan lecek.
“Ini apa?” Tanya gue.
“Dari Ai.. “ jawab dia lalu pergi.

Setelah gue buka, gue merasa nggak asing sama amplop itu, ternyata itu memang surat yang tempo hari dititipkan Rifqi sama gue. Gue sempet bingung kenapa Ai memberikan surat itu sama gue, sampai akhirnya gue baca surat itu dan…. Cengo. Ternyata surat itu bukan buat Ai, tapi buat gue. Ternyata Rifqi itu naksirnya sama gue, bukan sama Ai. Di surat itu Rifqi bilang supaya gue jangan nyomblangin Rifqi sama Ai lagi, karena Rifqi sama sekali tidak suka.

Karena gue males ribet nantinya, gue memutuskan untuk menjauhi ke duanya. Gue nggak mau merusak kebahagiaan Ai dengan menerima cintanya Rifqi yang jelas-jelas gue sendiri juga nggak suka.

Kejadian itu terulang lagi, kali ini kasusnya sedikit berbeda. Ada Gilang dan Emang yang tergila-gila sama salah satu teman gue, Hana. Hana beberapa tahun yang lalu memang mirip dengan Acha Septriasa, apa lagi Hana baru saja pindah dari Kota, kulitnya belem mbusik seperti gue dan teman-teman lainnya.

Gilang dan Emang ini berteman cukup dekat, mereka bersaing secara sehat untuk memperebutkan Hana. Gilang sering curhat sama gue soal perasaannya itu, karena gue merasa kasihan, gue kemudian membantu Gilang untuk mendekati Hana. Gue sering menceritakan hal-hal baik tentang Gilang sama Hana, gue juga sering menjelek-jelekan Emang supaya Hana nantinya milih Gilang.

Harapan gue akhirnya terkabul, Hana mulai suka Gilang. Tapi Gilang memang kampet! Dia malah nembak gue . Gue nggak tau harus bilang apa ke Hana. Satu-satunya hal yang bisa gue lakukan adalah, menjauhi Gilang.  

Gue merasa Gilang nggak menghargai usaha gue. Pertemanan gue sama Gilangpun akhirnya berubah, kita tidak sedekat seperti sebelumnya. Gue sempet bolos ngaji selama satu minggu. Dan selama itu pula, Gilang sering nanyain gue sama saudara gue, yang justru bikin gue makin benci sama Gilang.

Entahlah, dulu gue memang punya sedikit kelainan, gue berbeda dari teman-teman gue. Gue akan membenci seorang laki-laki ketika dia menyatakan cintanya sama gue. Perasaan aneh seperti takut, ilfeel, dan bingung mau ngapain kalau udah pacaran, membuat gue kesulitan untuk mendapatkan pacar.

Ini cerita udah ngawur dari awal, yang tadinya mau cerita temen-temen pas kecil, kenapa jadi melebar kemana-mana dah...

Lalu bagaimana nasibnya Erwin, Emul, Aceng dan Diki? atau nasib teman-teman baru gue di wetan?
Yaudahlah, mungkin nanti disambung lagi, 
kalau inget.

31 Des 2016

Maaf Untuk Semua dan Selamat Tahun Baru 2017

Untuk mengawali postingan kali ini, sekaligus juga untuk mengakhiri postingan gue di tahun 2016, gue ingin mengampaikan permintaan maaf kepada semua pihak yang pernah dengan atau tanpa sengaja gue sakiti hatinya, udah gue bikin marah, kesel, dongkol, atau iri, mungkin, selama tahun 2016. Ah masa sih ada yang iri sama gue?. Oke, yang iri mending dihapus aja. 

  

Dimulai dari yang paling dekat sama gue sekarang ini. Betul! Blog gue! Ehe he he
Gue mau minta maaf karena sering php-in dia selama ini. Mungkin kalau blog gue bisa ngomong, dia bakalan bilang “tidak ada lagi maaf bagimu…” mengingat sudah tidak bisa dihitung lagi betapa seringnya gue bohongin dia untuk bisa konsisten nulis di Blog. 

Gue juga mau minta maaf sama keluarga gue, terutama, Ibu gue. Gue bukan orang yang punya kepribadian hangat untuk keluarganya. Gue cenderung memendam apa-apa sendiri, dan ketika gue rasa udah nggak mampu buat menyimpannya, lantas gue meluapkan emosi gue sama beliau.



Gue mau minta maaf sama sepupu gue, Rizal. Maaf karena gue undah nyiptain jarak diantara kita. Maaf karena gue memilih untuk menghilang untuk beberapa saat ini. Semua ini karena ulah Naruto yang telah mangajari gue berbagai macam jutsunya.

  

 


Kemudian, gue juga mau minta maaf sama semua teman-teman gue. Baik temen kerja, temen kuliah, temen tidur ataupun temen tapi mesra.

Untuk temen kerja, gue minta maaf karena gue sering bikin kalian marah atas semua sikap kurang disiplin gue, sikap masa bodo gue sama kerjaan, dan semua sikap menggapangkan setiap pekerjaan yang ada. Gue tau, setiap kali gue mencari pembenaran dari kesalahan gue, kalian selalu menahan diri untuk tidak bekata kasar, walaupun pada akhirnya ketika gue gue suda melewati batas, kata-kata kasar itu selalu keluar dari mulut kalian. Seperti " Dasar lu, Jomblo!..." tidak apa, i'm strong enough...






Untuk temen kuliah, gue minta maaf karena gue kurang bisa membaur dengan kalian. Mungkin karena perbedaan pemikiran yang disebabkan oleh perbedaan umur, gue sering ngerasa gak nyambung sama obrolan dan candaan kalian. Gue lebih milih untuk menarik diri dan sibuk sendiri seolah-olah gue sedang berada di dunia yang berbeda dengan kalian. Untuk kedepannya, gue janji kalau gue nggak bisa janjiin apa-apa. Hahaha. Rasanya, gue udah terlalu tua untuk kembali mbeling sebagai seorang siswa.



Untuk temen tidur gue, Fitroh dan Mba susi. Gue minta maaf karena gue sering bikin kalian nggak nyaman sama semua sifat kekanak-kanakan gue. Gue sering tiba-tiba nangis dan ketawa kayak orang gila, terutama kalau gue lagi nonton Drama Korea. Diantara kalian berdua, gue lah yang tingkahnya masih kayak anak kecil.
Nggak kerasa kita udah tinggal di atap yang sama selama kurang lebih tiga tahun. Kita bertiga saling melengkapi satu sama lain. Ada mba Susi yang hobinya beli makanan dan Puti yang hobinya ngabisin makanan, ada Fitroh yang hobinya beres-beres dan Puti yang hobinya bikin berantakan barang-barang lagi. Pokoknya kita tuh udah kaya, hmmm kayak apa ya? Ya kayak gitulah pokoknya.
Beberapa bulan lagi mba Susi bakalan nikah sama pacarnya. Gue seneng, karena mba Susi nggak nikah sama pacar orang.



Selanjutnya, gue mau minta maaf sekaligus berterimakasih sama seseorang-yang-namanya-tidak-boleh-disebut. Maaf karena gue terlalu pengecut untuk hanya memberi sebuah penjelasan dan terimakasih karena tidak bertanya.

Gue mau minta maaf sama semua tetangga kontrakan, karena telah gagal menjadi makhluk sosial yang baik.

Gue mau minta maaf sama ibu warung, Bu Siti, gue udah durhaka nyuruh orang tua buat ngangkat galon ke lantai dua, padahal sebenernya gue mampu, tapi ya gimana ya…..

Gue mau minta maaf sama supir angkot, gue pernah beberapa kali ngedoain kalian celaka. Ya tapi itu juga bukan sepenuhnya kesalahan gue. Salah sendiri bawa angkot kayak setan, yakali gue mau mati muda.

Gue mau minta maaf sama Hp gue, diantara yang lain, sebenernya dialah yang paling terdzalimi selama ini. Dari gue melek mata, sampai gue merem lagi, dia nggak pernah luput dari kebrutalan tangan gue.

Gue mau minta maaf sama kuota internet, karena gue nggak pernah menggunakannnya secara bijak, apalagi belakang ini, gue lagi keranjingan buat download Drama Korea.

Yang terakhir, gue mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama diri gue sendiri. Maaf karena belum bisa menjadi orang baik. Belum bisa jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Tidak banyak harapan gue untuk tahun 2017. Gue cuma ingin hidup lebih baik lagi dari sekarang. Untuk segala urusan, semoga diberikan jalan yang mudah.

Dan satu lagi, gue juga berharap untuk tidak terlibat dalam masalah yang berhubungan dengan hati, perasaan sertamerta tetekbengeknya.

HAPPY NEW YEAR!!!!!

Telolet telolet teloletttttttt!!!!!

23 Okt 2016

Sabtu oh Sabtu

“Mbak nanti mau kondangan nggak? Tanggal tua neeh!” Tanya gue sama mbak-embak yang lagi duduk di sebelah gue, namanya Andri.

“nggak tau nih, lagi bokek juga..” jawab dia.

Tiba-tiba mas Bandi (spv di divisi gue) duduk disebelah gue dan bilang “gimana kalo kondangannya pas istirahat nanti, biar sekalian bisa makan siang gratis. Ya anggep aja  uang kondangannya buat beli makan siang”

Seketika gue dan mba Andri saling menatap , kemudian  kami berdua berciuman setuju dengan saran mas Bandi. 

Tanpa ba.bi.bu,  gue pun langsung mengajak temen-temen gue yang lain untuk menjalankan siaasat yang penuh dengan modus ini secara berjama’ah, agar pahalanya berlipat ganda.

Sesuai dengan harapan gue, mereka pun setuju. Sekali dayung, dua tiga piring tandass! Begitu ucap mereka yang terdengar begitu bersemangat. 

Setelah menghitung jumlah jama’ah yang akan berpartisipasi dalam Gerakan Karyawan Pabrik Tanggal Tua atau bisa disingkat dengan (GKPTT), mas Bandi si ketua GKPTT mengeluarkan ide brilliant lainnya, yaitu, dia membuatkan amplop dengan kertas hvs "biar iritnya tambah greget” begitu dia bilang. 

Kami pun mulai berdiskusi tentang berapa jumlah nominal uang yang akan dimasukan ke amplop. Salah satu teman gue kemudiam mengutarakan teori nggak-mau-ruginya,yang kurang lebih seperti ini ; 
“Kalau kita makan siang di rumah makan padang kankurang lebih habis 17ribu, nah, biar nggak rugi kita kondangan 20ribu aja. Lagian juga kita nggak telalu kenal sama orangnya “
Dan ternyata semuanya…. sepakat! 

Terkutuklah kami semua Ya Tuhan.

Kebiasaan menyebalkan para karyawan pabrik ketika akan mengadakan hajatan adalah mereka selalu mengundang semua karyawan pabrik tanpa terkecuali. Mereka (si yang hajat) bakalan minta daftar nama karyawan sama HRD buat ditulisin di udangan. Mereka ( si yang hajat) nggak begitu peduli, entah dia kenal atau enggak, pokoknya semuanya harus di undang. 

Gue sering kesel sama mereka (si yang hajat), karena setiap kali gue lagi lewat pos satpam dan si satpam tiba-tiba nyegat gue sambil bilang “ Put, ada titipan undangan nih”, kening guepun langsung mengkeret, mencoba berfikir dengan keras, Mamit? MAMIT, siapa si ya allah” :’( 
Lha wong gue aja nggak tau dia yang mana, pernah ngobrol juga enggak, tiba-tiba dia ngundang gue . 

Mereka harusnya berfikir ulang buat ngundang orang-orang yang nggak mereka kenal, karena siapa tau mereka malah salah ngundang orang, seperti halnya gue dan temen-temen gue yang nggak mau rugi ini. Bhahah :v . maka rasakanlah!

Bel istirahat sudah dikumandangkan,  kami ber-8 segera bergegas ke lokasi hajatan yang kebetulan nggak begitu jauh dengan lokasi pabrik. Kurang lebih sekitar dua seperempat menit jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor.

Sesampainya TKP, entah karena dorongan rasa lapar yang menjadi-jadi atau apa, gue juga nggak ngerti, dua orang temen gue, Fitroh dan mba Anita langsung berjalan menuju tempat parasman, sementara gue dan temen-temen yang lainnya ngucapin selamat ke mempelai pria. Sebenernya gue pengen bisikin ketelinga si mempelai pria “mereka bukan rombongan kita,mas, suer deh!” sambil nunjuk mereka berdua yang lagi asik mindahin makannan ke piring mereka. Tapi gue urung kan niat gue, mengingat kemungkinan gue bakalan digampar istrinya karena mepet-mepet ke suaminya.
dari kiri ke kanan ; mas Avian, mab Tari, mba Anita, Fitroh, Pengantennya (lupa namanya siapa), mba Maya, mba Andri, Selgom, dan mas Bandi.

Merasa sudah cukup untuk berbasa-basi, gue dan temen-temen gue yang lainnya langsung menuju ke pokok tujuan kita datang kesini, yaitu makan.
kunyah terus!!
"yang ini bisa dikantongin nggak ya?"

Perut kenyang, hati senang, kami pun pulang.

Hari Sabtu merupakan hari yang mengharuskan kaki gue bekerja lebih cepat daripada otak, gimana enggak? jadwal kuliah gue jam 3, iya jam 3, padahal gue keluar kerja jam setengah 3. Bisa dibayangin gimana gue harus gece ke kampus, nyari-nyari tebengan ke depan, dan bermacet-macetan di angkot, dan itu nggak cukup dengan waktu cuma setengah jam. Ditambah, hari Sabtu adalah hari menuju malam minggu. Gak perlu dijelasin, kalian yang udah baligh pasti ngerti.

Beberapa menit sebelum bel pulang bunyi, spesial untuk hari Sabtu, biasanya gue udah ready duluan di pos satpam. Hari Sabtu itu kudu, harus, musti, wajib TengGo. Namun apa yang terjadi seteah gue cekroll absen “BRESSSS, DUAARRR” hujan deres yang tiba-tiba turun disertain dengan gluduk. Kalian bisa bayangin gimaa perasaan gue saat itu. Hancur!

Gue berjalan menuju pintu lobi, dan berharap ini semua cuma mimpi. Sempat terlintas di pikiran gue buat bolos kuliah, “hujan-hujan gini enaknya tiduran dikasur sambil ena-ena sama bantal guling” bisik setan di kuping kiri. Dan malaikat dikuping kanan pun menjawab “ ada baiknya sebelum tidur makan indomie kuah rasa soto pake telor, cabe rawitnya lima dan sawinya sekebon”.  
Bhangkay! ini setan sama malaikat malah bikin gue dilema gini sih?! 

Setelah gue pastikan lagi, ternyata yang berbisik di kuping sebelah kanan gue adalah si setan, lalu, kemana gerangan si malaikat? Oh rupanya dia lagi tidur sambil ena-ena, sama bantal guling . Bajirut memang!

Jam udah menunjukan pukul 14.45, gue masih berdiri di depan lobi mengharapkan akan datangnya keajaiban. Sambil ngitung kancing baju “bolos, enggak, bolos, enggak” kalo sampe ujung kancing ternyata “enggak” gue bakal ngulangin lagi sampe berakhir dengan “bolos”. Nthaps!
Gak lama kemudian, gue liat hujan deres udah mulai berubah jadi gerimis, yang lumayan deres juga. karna gak mau meniya-nyiakan kesempatan emas ini, akhirnya gue nekat lari keparkiran kayak orang kesetanan buat nyari tebengan. Seperti yang udah gue bilang, kaki gue bisa  bergerak lebih cepat dari pada otak gue.

Singkat cerita, gue sampai dikampus jam 15.20 dengan kondisi baju kayak gembel. Iya, baju gue kecipratan genangan air yang ada dijalan ketika gue berdiri di pinggir jalan buat nunggu angkot. Sedih baget lah kalo diceritainmah :"(

Gue adalah mahasiswa langganan telat di hari Sabtu, dosen gue untungnya udah memaklumi itu, dengan konsekwensi gue harus siap jadi bulan-bulannanya dia ketika pelajaran berlangsung. Hari itu cuma ada dua mata kuliah, yaitu Akuntansi dan Ekonomi. Sepertinya semesta sedang berkonspirasi buat menguji kesabaran gue lagi, tanpa persiapan apapun, ke dua makul itu mendadak ngadain pre-test. Kampret sekali bukan?!

Ditengah semua keputusasaan ini, ingin sekali rasanya gue menyampaikan penggalan hadits ini kepada bapak dosen ;
“Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).

Entah bagaimana caranya gue melewati itu semua, yang jelas gue lihat jam tangan udah menunjukan jam 18.05, gue tersenyum lega, itu tandanya semua mata kuliah sudah berakhir, hanya menyisakan kondisi gue yang udah nggak karuan.
kurang lebih seperti ini
Senyum gue tiba-tiba mengkeret lagi setelah gue inget kalo malam ini gue ada jadwal buat nugas sama temen-temen kelompok gue. Angan-angan tentang kasur dan indomie telor pun mendadak sirna seketika.
Gue cuma bisa berharap mereka amnesia dan lupa kalau ada jadwal buat kelompokan. 

Ditengah keributan kelas, gue mencoba berjalan jinjit-jinjit menuju pintu kelua, tanpa sepengetahuan mereka. Ketika tangan gue sempurna memegang gagang pintu itu, dan kemudian memutarnya, tiba tiba gue denger seseorang manggil  gue.

“woy, put, mau kemana lu? Jadi kan malem ini?”

Gue sadar, dia adalah temen satu kelompok gue. mulut ini berbisik “faklah”

Sambil nyengir kuda gue pun menjawab dengan nada sok tegar  
“saya mau ke mushola dulu, mas (alibi). Ma ngerjain tugas, ya? Hmm iya, jadi kok, nanti saya tunggu di samping perpus”

“ok!” jawab dia mantap.

Gue melangkah gontai menuju ke perpustakaan, sampai di sana, gue ngeliat mereka udah pada kumpul.
Setengah jam untuk bahas tugas, dan dua jam untuk  bahas hal-hal yang awalnya nggak peting, tapi lama-lama jadi bahasan yang yang cukup berat untuk sebuah bahasan malam Minggu.

Percakapan dimulai dari gue yang bertanya perihal agama sama salah seorang temen kelompok gue, mas Syahroni. Dari awal gue liat dia di kelas, gue yakin dia adalah tipe orang yang pemahaman agamanya baik. Terus mas Dani ikut-ikutan nanya soal mimpi-mimpi aneh yang sering dia alami, dan mas Musa yang mengeluh kenapa dia sekarang lalai daram beribadah.

gerimis syahdu di malam Minggu dan  bahas soal kematian.

Semuanya dijawab dengan santai oleh mas Syahroni. Dia bahkan menceritakan tentang salah seorang temannya yang pernah mengalami mati suri. Dia cerita bagai mana awal mula temannya itu meninggal sampai ada di alam kubur. Apa aja yang temennya lihat di sana, temennya juga bilang tentang jembatan siratal mustaqim. Banyak banget pokoknya, sampe-sampe gue minta mereka berhenti ngobrol. Gue merinding banget. Sumpah.

Gue sempet bilang kalo gue nggak percaya sama temennya mas Syahroni itu, tapi kemudian mas Syahroni malah nantangin gue buat ketemu orangnya secara langsung. Jelas gue tolak! Gila aja, Cuma dengerin dari mas Syahroni aja gue merinding apalagi dari orangnya langsung.

Sampai akhirnya hujan turun lebih deres lagi, kami ber- 4 memutuskan untuk masuk kedalam kampus dan tetap melanjutkan sharing sambil nunggu hujan reda.

Acara nugas gue kali ini nggak zonk lagi kayak yang sebelumnya, yaitu nugas cuma buat jadi ajang pdkt bagi pihak tertentu. Hih!

Hujan reda, dan gue memutuskan buat nyari tebengan pulang.

“Akhirnya hari Sabtu gue sudah berakhir, selamat malam minggu buat kalian para insan yang sedang bersiap untuk ena-ena di kasur sama batal guling” guemam gue sambil benerin selimut.

Aku Adalah

Puti Andini

Pengabdi Wifi Telkom...

Bagian dari

Your Lucky Number

Kategori

Cerita Sehari-hari (13) Curhat (11) Absurd (9) Throwback (7) Friendship (6) Drama Korea (5) Kesel (3) Keluarga (2) Perkenalan (2) ini apa? (2) 18+ (1) Buku (1) Ngawur (1) Ngomentarin (1)