Tampilkan postingan dengan label Throwback. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Throwback. Tampilkan semua postingan

2 Apr 2017

Lagu dan Permaian Yang Menemani Gue Tumbuh

Hampir semua orang sepakat, bahwa anak yang lahir di tahun 1990-2000 adalah anak-anak dengan masa kecil yang paling bahagia. Dimana di masa itu, kita masih belum terpengaruh dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini. Anak-anak jaman sekarang lebih sering menghabiskan waktu dengan duduk sambil main gadget. Berbeda dengan kita (anak 90-an) dulu, kita adalah anak-anak  yang sangat aktif bahkan gue mungkin termasuk anak yang aktifnya kebangetan

Oke, dari pada ngomongin “kita”, takutnya gue nanti malah jadi baper sendiri (you know, laahh…) lebih baik gue ngomongin diri gue sendiri sebagai anak 90-an yang mempunyai masa kecil nan ceria dan bahagia.

Seperti yang sudah gue katakan sebelumnya, gue adalah anak yang lumayan hyperaktif. Gue cenderung lebih suka main keluar rumah dari pada main di dalam rumah (main boneka misalnya).

Ada begitu banyak hal yang bisa gue lakukan diluar rumah, apalagi dulu gue memang tinggal di Desa. Apapun bisa dijadikan permainan, yah, bisa dikatakan sarana dan prasarana permainan di Desa itu udah memenuhi SNA (Standar Nasional Alam).

Ngomongin masalah permainan jaman gue kecil dulu, gue jadi inget satu hal, hampir semua permainan yang pernah gue lakukan, ada beberapa yang juga diiringi dengan sebuah lagu. Dan beberapa diantaranya masih sangat gue hafal. Nada dari setiap lagu sebenernya hampir sama, begitupun dengan daerah lain sepertinya, mungkin cuma liriknya aja kali ya yang diganti?

Ini adalah contoh beberapa lagu pengiring permainan yang masih gue inget sampai sekarang. Berhubung masa kecil gue dulu dihabiskan di tanah Sunda, maka lagu pengiring permainan yang gue akan sebutkan di bawah, tentunya kebanyakan dengan menggunakan Bahasa Sunda.



Lagu pengiring:
    Cing ciripit
    Satulang sabajing
    Saha nu kajepit..
    Omeng!

Cara bermain:
Lagu ini biasanya digunakan untuk menentukan pemburu (omeng) dalam sebuah permainan kejar-kejaran. Si pemburu nantinya wajib menangkap salah satu teman yang berlarian ke berbagai arah.

Penentuan pemburu dilakukandengan cara:
Salah satu teman akan membuka telapak tangannya untuk ditempati telunjuk semua peserta permainan. Ketika lagu Cing ciripit telah selesai dinyanyikan, tanpa aba-aba terlebih dulu, telapak tangan yang dijadikan tempat untuk menaruh jari telunjuk semua peserta itu, akan menangkap salah satu telunjuk yang berada pada telapak tangannya yang lamban untuk mengangkat jari telunjuknya. Jika hal itu terjadi, maka telunjuk yang tertangkap, maka ia diwajibkan menjadi pemburunya.



Lagu Pengiring :
    Slep dur, slep dur
    Dilas dipan dipan debur
    Kahijina kaduana
    Katiluna kaopatna
    Kalimana kagenepna
    Katujuhna nu pandeuri

Cara bermain :
Lagu ini biasa dimainkan untuk memerangkap seorang teman dalam sebuah permainan. Cara memerangkapnya, sejumlah teman harus berbaris dan bergiliran masuk ke dalam terowongan yang dibangun oleh dua pasang tangan. Ketika lagu Slep Dur selesai, terowongan yang terbuat dari  sepasang tangan tadi seolah-olah mendadak runtuh hingga teman yang sedang lewat dibawahnya.

Sebelum itu, si dua pasangan ini telah menentukan benda apa yang nantinya akan dipilih oleh setiap peserta yang terperangkap.

Misalnya, teman gue pilih anting, dan gue kalung, nantinya kita akan menanyai teman kita yang terperangkap itu, untuk memilih anting atau kalung. Kalau dia memilih kalung maka dia akan menjadi anggota gue.

Setelah semua peserta berhasil tertangkap, maka akan terbentuk dua grup, yaitu grup anting dan kalung. Setelah itu kita akan melalukan Tarik tambang, yang kalah, bertugas untuk menggendong pemenangnya.




Lagu pengiring :
    Paciwit-ciwit lutung
    Si lutung pindah ka tung-tung
    Paciwit-ciwit lutung
    Si lutung pindah ka tung-tung

Cara bermain :
Gue sekarang lagi mikir, kok dulu gue bisa bahagia banget ya mainin permainan ini. Padahal mainnya cuma nyubit punggung tangan temen-temen yang lain sampai membentuk sebuah tumpukan yang tinggi.
Setiap kali kata “silutung pindah ka tung-tung” diucapkan, maka otomatis tangan yang paling bawah akan pindah keatas untuk mencubit punggung tangan yang paling atas.
Kalu dipikir-pikir, permainan ini sampai kapanpun nggak bakalan ada ujungnya.

Lagu pengiring:
    Eundeuk-eundeukkan lagoni
    Meunang peucang sahiji
    Leupas deui ku aki
    Beunang deui ku nini

    Eundeuk-eundeukkan lagoni
    Meunang peucang sahiji
    Leupas deui ku nini
    Beunang deui ku aki

Cara bermain :
Lagu ini dinyanyikan ketika kita semua, ah, maksud gue ketika gue dan teman-teman gue berada diatas pohon. Sambil menggoyang-goyangkan pohonnya, gue dan teman-teman gue akan menyanyikan lagu tersebut secara bersahut-sahutan.

Semakin keras goyangannya, semakin seru, dan semakin tinggi juga kemungkinan kita jatuh dari pohon karena dahannya patah.




Lagu pengiring:
    Ucang-ucang angge
    Mulung muncang ka parangge
    Digogog ku anjing gede
    Anjing gede nu pa lebe
    Ari gog, gog cungungung

Cara bermain:
Sebenernya ini bukan permainan, sih. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh orang tua kepada anaknya atau kakak yang lagi ngemong adiknya, atau siapa aja deh yang lagi jagain anak kecil.

Si anak kecil itu akan ditaruh dipunggung kaki sambil diayun-ayunkan. Di penghujung lagu “cungungung….” Maka ayunan akan dilakukan lebih tinggi, setelah itu akan terdengar suara tawa anak kecil tersebut.

Kalau gue emang nggak tau diri sih orannya, walaupun udah gede, tapi masih sering minta ucang angge sama emak gue, ya walaupun yang didapet cuma jitakan doang. Setidaknya gue sudah berusaha.

Lagu pengiring:
    Punten mangga, ari ga
    Gatot kaca, ari ca
    Cau ambon, ari bon
    Bonteng asak, ari sak
    Sakit perut, ari rut
    Rujak asem, ari sem
    Sempal-sempil, ari pil
    Pilem rame, ari me
    Meja makan, ari kan
    Kantong kosong, ari song
    Songsong lampu, ari pu
    Pulau Jawa, ari wa
    W*DUK SIA!!!!!

Cara bermain :
Lagu ini bisa dinyanyikan tanpa permainan, bisa juga dinyanyikan dengan permainan. Gue sendiri bingung mau jelasin permainannya. Yang jelas, permainan ini dilakukan oleh dua orang dengan melakukan high five berulang-ulang.

#pembaca mulai ngebayangin

Haduh! Bukan kayak gituu… bukan!

Lagu ini sebenarnya berurutan dengan lagu-lagu yang lain.

Yang pertama diawali dengan lagu
    Mi mi mi mi
    Mi atas mi bawah
    Mi depan mi belakang
    Mi 1 2 3
    Mi 3 2 1
    Mi gulung gulung  (menggulung-gulungkan kedua tangan)
    Mi gulung gulung
    Mi ciut..ciut (posisi semua jari dibentuk moncong)
    Mi ciut..ciut
    Mi keplek…keplek (mengepak-ngepakan ketek)
    Mi keplek.. keplek

 Setelah selesai lalu mulai dengan high five diiringi lagu.

    bapak bawa apa pak, bawa lemari..
    kuncinya dimana pak, ada di susii..
    susi minta susu pak, ada di sapi..
    sapi minta rumput pak, ada di sawah..
    sawah minta air pak, ada di gunung..
    gunung minta api pak, ada di kompor..
    kompor minta minyak pak, ada di warung..
    warung minta uang pak, ada di bank..

Dua kali high five dilanjut dengan.
    Bang-bang-bang..
    Kalima-lima gobang-bang..
    Bangkong ditengah-tengah sawah-wah..
    Wahai tukang bajigur-gur..
    Guru sakola desa-sa..
    Saban poe ngajajar-jar..
    Jarum paragi ngaput-put..
    Purti nu gareulis-lis..
    Lisung kadua-dua halu-lu..
    Luhur kapal udara-ra..
    Rangrag di Jakarta-ta..
    Taun dua rebu-bu..
    Buah meunang ngala-la..
    Lauk meunang nga jaring-ring..
    Ringkok aki-aki.. Aki ngaringkuk disuguan t*i orok lila-lila jadi montok...

Udah gitu doang.. kentang banget kan lagu nya?

Lagu pengiring:
    Cing ogo-ogo..
    Kalau mancing bogo..
    Sidakep bari balem..

Cara bermain:
Semua peserta permainan harus jongkok. Aturannya, nggak boleh keliatan gigi, ketawa, keliatan celana dalam (kalau anak cewek dulu sering pake rok), atau baju/roknya nempel ketanah. Kalau itu terjadi, berarti dia nanti yang jadi kucing.

Setelah ada yang jadi kucing (pokonya kita akan mencari kesalahan sekecil apapun, kalau tetep nggak ada pelanggaran, bisa jadi "gerak" juga termasuk pelanggaran), nanti dia harus nangkep salah satu temen lain supaya dia nggak jadi kucing lagi.

Aturan selanjutnya, setiap kucing tidak bisa menangkap kita kalau kita jongkok, jadi kalau misalkan kita sudah mau ketangkap, kita harus buru-buru jongkok. Yang jongkokpun tidak sembarang bisa bangun, dia harus dibangunkan dulu oleh peserta lain yang sudah bangun.

Kalau dipikir-pikir sekarang, ngapain ya kita minta dibangunin kalau nantinya bakalan dikejar sama kucing, mending juga jongkok aja sambil scrolling TL Instagram.

Eh, gimana deh?


Lagu pengiring:
    Kotak pos mari kita isidengan para pelaku,
    Yang ditanya harus menjawab…

    Kita sudah buat kesepakatan nama- nama yang akan dipakai untuk permaian ini, misalkan nama hewan.

    Mainnya sambil bikin lingkaran, telapak tangan kita ditumpuk sama telapak tangan sebelah kita, cara mainnya dengan menepuk tangan teman di sebelah kita.

    Si Puti minta hurup M (orang Sunda nggak bisa ngomong ef)
    Lama-lama menjadi Monyet..

    Nah, pas “nyet”nya itu berakhir ditangan siapa, maka dialah nanti yang akan mempunyai nama samaran Monyet.

Cara bermain:
Setelah semuanya mempunyai nama samaran, tersisa satu orang tanpa nama samara, biasanya yang paling akhir, maka kita akan mulai bermain kucing-kucingan (lagi), bedanya, yang jadi kucing matanya harus ditutup kain.

Si kucing harus menghafal semua nama samara, sebab kalau dia berhasil menangkap salah seorang pemain, dia harus menyebutkan nama samarannya. Kalau salah, berarti gagal.

Disini yang jadi kucing bakalan apes banget deh pokoknya. Kalau nggak hati-hati bisa-bisa benjol karena nabrak sesuatu yang tidak diinginkan.

Lagu pengiring:
    Pak camat jualan tomat
    Yang beli harus hormat
    Bu siti jualan anting
    Yang beli orang sinting

    Pak camat ketiban papan
    Matinya jam delapan
    Dikubur tahun depan
    Yang bergerak anaknya setan

Cara bermain:
Setelah lirik terakhir diucapkan, seketika kita semua tidak akan bergerak layaknya patung. Nanti kalau ada yang gerak berarti dia kalah.

Terus diapain? Cuma diketawain doang, abis itu nyanyi lagi, gitu terus berulang-ulang sampai pak camat ketiban papan beneran..

Lagu pengiring:
    Ampar-ampar pisang..
    pisang ku belum matang..
    masak sebiji digulung blai-bali..
    mangga lepok mangga lepok..
    masak sayur lepok...
    Bengkok dimakan api..
    apinya cang kesurupan...  (akibat lupa lirik)
    Bengkok dimakan api...
    apinya cang kesurupan..

Cara bermain:
Lagu ini dinyanyikan oleh dua orang dengan cara...

mmmm ...

Mainnya pake kaki gitu deh.

#pembaca mencoba ngebayangin lagi.

Bukan tendang-tendangan juga, masya Allah..!!

Ah udah nga usah dibayangin. Salah muluk!

Lagu pengiring:
    Minyak kayu putih digosok kebadan,
    Bendera merah putih, tandanya menang.

Cara bermain:
Lagu ini dipakai kalau mau suit. Sama halnya kayak,

Lagu pengiring:
    Cang kacang panjang,
    Nu panjang omeng!

Cara bermain:
Biasanya lagi-lagu pendek kayak gitu dipakai cuma buat mennentukan siapa kucingnya doang.

"Mau main apa neeh kita teman-teman?"

"Petak umpet aja yu..."

"Yang jaga siapa?"

"Yaudah, pake minyak kayu putih aja.."

Selain lagu pengiring mainan, ada juga lagu yang hanya dinyanyikan saja, tanpa ada permainan khususnya.

Nah, lagu ini biasanya dipake buat mengejek seseorang, atau temen yang nyebelin. Kalau sekarang kan biasanya sindir-sindirannya pake status di medsos, kalau dulu pake lagu.

    Trang trang kolentrang
    Si londok paeh nundutan
    Tikusruk kana durukan
    Mesat gobang kabuyutan
    Nyeh prot, nyeh prot
    Bujur kudu cecendeteun
    Dibura ku laja tuhur
    Laja tuhur beunang ngunun
    Beunang ngunun tujuh taun
    Kadalapan di burakeun

Kalau yang diatas mungkin cuma sebatas menyindir atau mengejek, lagu yang satu ini digunakan untuk mengajak berkelahi.

Kalau tawurannya Genji mungkin diawali dengan “Genji---eeeeh !!! Urrrryaaaa…!” kalau tawuran ala gue kecil dulu, ya dengan lagu itu,  tapi kita nggak pernah sampain berantem beneran juga, sih.
Biasanya aksi saling ejek ini terjadi antara kubu anak laki-laki dan anak perempuan.

    Tampolong bahe,
    Belut ditalian,
    Ulang ngomong bae,
    Gelut sakalian.

    Putih-putih melati Alibaba..
    Merah-merah delima Pinochio..
    Siapa yg baik hati Cinderella..
    Tentu disayang Mama..
    Aa masa? Ya gengsi dong..

    Apa lo liat-liat...
    Bapak lo jago silat...
    Ta* nya bulat-bulat..
    Seperti kue donat..

    Telur-telur... ulet-ulet,,,
    kepompong kupu-kupu,,
    kasihan deh lu...

Kalau yang terakhir ini mungkin lebih familiar ya? Gue dulu sampai hafal beberapa variasi gerakan tangannya. Kalian iya nggak?

Terus yang terakhir, lagu yang bahkan sampai sekarang gue nggak ngerti apa maksudnya.

    Ja leuleu ja
    Tulak tuja eman gog
    Seureuh leuweung bay
    Jambe kolot (je) bug
    Ucing katinggang songsong ngek!

Yang gue tau artinya cuma kalimat terakhir doang. Tapi kok dulu gue sering banget ya nyanyiin lagu itu ?

Masih menjadi sebuah misteri.

Sebenernya masih ada banyak lagi lagu pengiring dan permainan yang pernah gue mainkan. Tapi gue cuma ulas beberapa aja, soalnya takut kepanjangan juga. Kasian yang baca, mending kalau ngerti, kalau enggak?

Yang jelas, gue sangat berterimakasih kepada pengarang lagu-lagu itu dan juga tentunya para penemu permainan-permaian tersebut. Karena berkat kalian semua, masa kecil gue menjadi sangat menyenangkan.

Mau nutup postingan pakai kalimat apaan ya?

hmmm..

Yaudahlah, pakai pertanyaan aja..

Coba dong sebutin lagu pengiring permainan dan permaianan di daerah kalian apa aja?

sumber semua gambar: Google images

19 Feb 2017

Kasih yang tak Sampai

Ada beberapa hal di masalalu yang sampai sekarang ini masih membebani perasaan gue. beberapa hal tersebut memang belum terselesaikan, sehingga masih menggantung sedemikian rupa dan meninggalkan sebuah pertanyaan seperti ; “Gimana jadinya kalau dulu gue…?”

Wuanjer! Pembukaannya kenapa jadi drama banget gini?
Tolong kasih Puti nasi bungkus, teman-teman!

Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, gue sudah mulai menyukai seseorang. Bisa dibilang gue adalah perempuan mata keranjang (bahkan mungkin sampai sekarang). Gue bisa dengan mudahnya menyukai seseorang yang baru saja gue kenal.
  
Yeah Puti memang SWAG dari kecil!

"Ramanda Pratama Hardiansyah.... "
Seorang anak laki-laki dengan mata bulat dan gigi kelinci maju ke depan kelas, saat ibu guru memanggil namanya untuk membagikan buku tabungan.

Tidak banyak memori yang gue ingat tentang Rama. Hal yang gue ingat hanyalah, Rama pindah sekolah saat kelas 1 SD dan kembali lagi ketika kami semua naik kelas 3. Rama adalah anak nakal yang suka bolos.

Gue tahu rumah Rama ketika gue dan teman-tenan sekelas datang ke rumahnya untuk mencoba membujuk Rama setelah rama bolos sekolah sekitar 2 minggu. 

Setelah gue tahu rumah Rama, gue semakin sering jalan lewat di jalan dekat rumah Rama, berharap saat gue lewat, gue bisa melihat Rama. Tapi sayang, gue sama sekali tidak pernah melihatnya.
 
Pukpuk  Puti

"lewat situ kan kejauhan, Put!" protes salah seorang teman gue.

"Hehe, yaudah, nanti kita ketemu di depan aja yah" jawab gue sambil ngeloyor sendiri.

Di pertengahan semester kelas 3 (lupa, waktu itu udah senester atau masih catur wulan), giliran gue yang pindah sekolah. Sama halnya dengan Rama, gue tidak lama pindah dan akhirnya kembali lagi ke sekolah lama gue. Teman-teman gue bilang, saat gue pergi, Rama sering menanyakan tentang gue, mereka bilang Rama menyukai gue dan ingin memberikan sesuatu untuk gue.

Belum lama setelah gue mendengar gosip menyenangkan itu, Rama ternyata sudah pacaran dengan orang lain.

Rama, kelas 4SD sudah pacaran.
Begitulah cinta monyet gue berakhir dengan cara yang sangat cupu.

Pernah beberapa kali gue mencoba untuk mencari Rama di Internet, namun tidak pernah berhasil. Menurut gue, hanya ada dua kemungkinan kenapa gue tidak bisa menemukam Rama ; pertama, bisa saja nama Rama yang selama ini gue ingat ternyata salah. Yang kedua, mungkin saja gue sudah menemukan Rama, tapi Rama sudah banyak berubah, sehingga gue tidak bisa mengenalinya.

Who knows?

Jika suatu saat nanti gue bisa bertemu Rama lagi, gue hanya ingin menanyakan satu hal;
"Rama, apa bener dulu Rama suka Puti?"

***

Saat gue naik kelas 5 SD, tepatnya di sekolah yang berbeda lagi. Ada satu orang murid laki-laki yang namanya paling sulit untuk gue ucapkan “Dedi Pramono”.

Sebenarnya ini adalah ulah teman-teman gue yang selalu mencice-ciyekan gue dan Dedi. Lama-kelaman gue jadi salah tingkah sendiri sampai-sampai untuk mengucapkan namanya saja gue tidak bisa.

Bisa kalian bayangkan betapa geroginya gue saat itu.

Ini kenapa gue jadi senyum-senyum sendiri anjerr!

Setelah gue lulus SD, gue kehilangan kontak semua teman-teman gue di SD, karena ya.. lagi-lagi gue pindah dan memutuskan untuk melanjutkan SMP di daerah lain.

Gue dan Dedi akhirnya bertemu kembali ketika kita berdua masuk SMK yang sama, hanya saja tidak satu kelas seperti dulu. Di SMK, gue bertemu dengan beberapa teman perempuan Dedi saat di SMP, bahkan beberapa diantaranya menjadi  teman kelas gue.

Anehnya, reaksi teman-teman SMP Dedi saat berkenalan dengan gue adalah “Oooh, ini Puti yang katanya pacarnya Dedi pas di SD itu ya?”

W-w-what? Pacar? Nyebut namanya doang aja bikin gue pengin pipis di rok.

Singkat cerita, Dedi akhirya pacaran dengan perempuan lain dan masih langgeng sampai saat ini.

Gue belum sempat memberi tahu Dedi bahwa gue pernah menyukainya (lagi) ketika gue bertemu kembali dengan Dedi di SMK.

Kok jadi sedeh gini sih. Bangque!

Dedi kecil dengan model rambut jambulnya berhasil membuat gue terpesona. Dedi yang sekarang, lebih mirip prajurit korea selatan yang sedang mengikuti wamil, dengan rambut plotos dan mata sipitnya.

Cinta monyet yang sempat besemi kembali akhirnya kandas juga.
Monyet nih dasar!



***

Degg!!

“ini orang kenapa megang tangan gue sih?..”
Di samping gue terlihat seorang anak laki-laki dengan kulit putih yang sedang cengengesan sambil mencoba buat memegang tangan gue.

“Semuanya rentangkan tangan kalian yang benar !” bentak para senior panitia MOS.

Pertama kalinya gue bertemu dengan Acep Maryono saat pembukaan acara MOS di SMP. Siapa sangka ternyata gue dan Acep ditakdirkan menjadi teman satu kelas.

Yang paling gue ingat tentang Acep adalah :
Acep adalah teman sebangku gue.
Acep sering marah karena Acep selalu mendapat peringka ke 2 gara-gara gue.
Acep tidak bisa menyebutkan “s” dengan benar.
Acep dulu sering dibilang (maaf) banci, karena Acep lebih suka bergaul bersama anak-anak perempuann.
Acep selalu marah apabila gue menulis di bukunya. Acep bilang “tulisan kamu itu jelek! Jangan nulis di buku ku” sementara Acep sendiri sangat hobi menulis di buku-buku gue.
Acep adalah musuh gue ketika jam pelajaran berlangsung.

Karena kedekatan gue dan Acep, teman-teman lain sering menyangka kalau secara diam-diam gue dan Acep berpacaran. Meskipun tuduhan mereka tidak benar, tetapi gue tidak menyangkal, kalau sebenarnya gue juga mengharapkan hal itu.

Karena merasa tidak enak dengan teman-teman, apalagi saat itu Acep sudah mempunyai seorang pacar, akhirnya gue perlahan menjauhi Acep. Kalau tidak salah ingat, gue dan Acep memang sepakat untuk membatasi diri masing-masing agar tidak sedekat sebelumnya. Akhirnya gue dan Acep benar-benar menjadi jauh.

Jujur, itu adalah sakit hati pertama yang gue rasakan.

Melihat Acep dekat dengan banyak siswa perempuan membuat gue sangat marah. Puncaknya ketika gue melihat Acep memegang tangan salah seorang kakak kelas di depan mata gue sendiri saat acara PerJuSa (Perkemahan Jum’at Sabtu) ketika api unggun sedang berlangsung.

Acep seperti telah benar-benar melupakan gue, sementara perasaan gue terhadap Acep semakin besar. 

Tidak hanya itu, saat kenaikan kelas 8, ternyata gue dan Acep berbeda kelas. Gue semakin kehilangan sosok Acep, orang yang dulu sering bersama gue.

Untuk menyembunyikan kesedihan gue, sering kali gue mengabaikan Acep apabila tidak sengaja gue berpapasan dengannya di Sekolah. Hubungan gue dan Acep semakin memburuk, sampai akhirnya gue pindah sekolah lagi. ( Tapi gue pindah sekolah bukan gara-gara Acep juga sih).

Selesai upacara 17-an(th 2008), gue memutuskan untuk berpamitan dengan semua teman-teman gue termasuk Acep. Setelah tidak bertegur sapa selama beberapa bulan (iya, gue marah nggak jelas sama Acep cuma gara-gara cemburu), gue memberanikan diri untuk menemui Acep. Dengan tangan gemetar, gue mengucapkan salam perpisahan kepada Acep dan meminta maaf atas sikap gue selama beberapa bulan kebelakang.
Jujur aku tak kuasa, Saat terakhirku genggam tanganmu.
Namun yang pasti terjadi, kita mungkin tak bersama lagi.
Bila nanti esok hari, kutemukan dirimu bahagia.
Ijinkan aku titipkan, kisah cinta kita selamanya.
- Kerispatih (Demi Cinta) menjadi lagu favorite gue selama beberapa waktu.

Setelah gue pindah ke Jakarta, entah kenapa pertemanan gue dan Acep kembali membaik. Kita sering telponan untuk sekadar menanyakan materi perlajaran.

Suatu hari, tanpa disangka tiba-tiba Acep menyatakan perasaannya sama gue lewat telpon. Acep mengajak gue untuk pacaran. Gue bahagia bukan main, ternyata cinta gue tidak bertepuk sebelah tangan.

Begonya, gue malah menolak Acep.

Mungkin ini alasan, kenapa sampai saat ini gue merasa masih ada hal yang belum selesai dengan Acep. Padahal, mungkin Acep sendiri sudah tidak ingat lagi kalau dia pernah meminta gue untuk menjadi pacarnya


***


Karena hubungan gue dan Dedi mempunyai tingkat kemustahilan yang sangat tinggi utuk bisa berlanjut kejenjang pacaran, dengan menyisakan senyum kecut,  gue putuskan untuk mengikhlaskan Dedi.


Dan, Violaa!

Tidak lama setelah itu, gue akhirnya kembali menemukan sosok laki-laki yang berhasil mencuri perhatian gue. Dia adalah teman satu kelas sepupu gue, namanya Saefur Amin.

Berbeda dengan teman-teman sepupu gue yang lain, yang sering mengganggu gue, Saefur Amin justru orang yang sangat pendiam. Dia jarang bergabung dengan teman-teman sekelasanya. Tanpa sadar,hal itu lah yang membuat gue tertarik dengan Amin.

"Kenapa sih suka sama Amin? Dia kan orangnya aneh, mending sama yang lain aja dari pada sama dia?" kata sepupu gue suatu ketika.
 
Kesalahan terbesar gue adalah, membiarkan seluruh dunia tau kalau gue menyukai Amin. Padahal mungkin hal itu malah membuat Amin jadi Ilfeel sama gue.

Meskipun begitu, Amin tidak lantas menunjukan ketidak sukaannya terhadap gue secara langsung. Dia tetap mau membalas sms gue.

Sampai suatu ketika, sepupu gue membajak hp gue untuk meng-sms Amin dan menyatakan perasaan gue. Hasilnya, gue ditolak dengan alasan Amin belum boleh pacaran sama bapaknya
.
Xianying!

Gini amat nasib gue!

Berita tentang gue dan Aminpun akhirnya menyebar dengan cepat. Parahnya, yang justru nyiyirin gue adalah kakak-kakak kelas.

Belakangan gue tahu ternyata, kakak kelas yang nyiyirin gue adalah teman-teman dari pacarnya Amin. Dan setelah kejadian ini gue sangat yakin kalau Aminlah yang menyebarkan berita penolakan dia sama gue.

Hari itu juga gue langsung datang ke kelas nya Amin. Dalam bahasa gaul, kita biasa menyebutnya dengan melabrak. Gue menemui Amin untuk mengklarifikasi bahwasanya, yang mengirimi dia sms bukanlah gue, tapi sepupu gue.

Dia tidak pernah mengatakan dia tidak menyukai gue, dia tetap berhubungan baik dengan gue, dan tanpa sepengetahuan gue, dia malah sudah berpacaran dengan orang lain. 

Sudah kena php, eh malah ditinggal jadian sama orang lain.

Seketika, gue yang awalnya sangat respect sama Amin, berubah menjadi benci setengah mati.


***
Gue baru sadar, ternyata gue tidak punya kisah kasih di sekolah. Dari SD sampai gue lulus SMK,  gue bertahan menyandang predikat sebagai jomblo yang lumayan ngenes.

Benar-benar sebuah konsistensi yang sangat warbyasak!

Demikian sekelumit kisah asmara gue yang sama sekali tidak menginspirasi, tapi gue harap ada pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman-pengalaman kurang beruntung gue. Seperti ; jangan terlalu percaya perkataan teman tentang gebetan kita dan yang paling penting, tetap waspada karena sekarang tukang php populasinya semakin banyak.

"Halah~ bilangnya di-phpin, padahal elunya aja yang gampang baper !"
- pembelaan mainstream seorang laki-laki

22 Jan 2017

Dari Dulu Udah Aneh

Bagi kalian, anak perantau yang dari kecil tinggal di satu daerah yang sama mungkin tidak akan sulit untuk menentukan kampung halaman kalian. Lain halnya dengan gue yang masih sering sekali dilema harus menentukan akan pulang kampung kemana.

Saat ini, orang tua gue tinggal di Bumi Ayu, sedangkan adik gue, Aldo, sekolah di Purwakarta, sementara itu, nenek gue yang ngurusin gue pas SMK tinggal di Banyumas, dan mereka semua selalu meminta gue untuk ada di tempat mereka di hari yang sama, yaitu pas Lebaran.

Sama halnya dengan kisah pertemanan gue semasa kecil. Segera setelah alm Bapak meninggal, gue tidak pernah menetap di satu tempat, walaupun hanya daerah itu-itu saja, Purwokerto-Purwakarta. Gue harus berkali-kali beradaptasi dengan orang-orang baru, dengan teman-teman baru, tetangga baru dan dengan bahasa yang baru juga. Maka jangan heran, terciptalah kepribadian gue yang seperti sekarang ini.

Source : Google Image
Sebelum gue mulai sekolah di SD, gue banyak menghabiskan waktu gue untuk bermain, sama seperti anak-anak seusia gue waktu itu. Teman main gue di rumah adalah, Erwin, Emul, Aceng dan Diki, Yha mereka memang bandot semua.

Erwin adalah anak tukang warung tempat gue biasa beli ciki berhadiah, bukan ciki doang sih, warung itu juga menjual aneka jenis kebutuhan lainnya, seperti warung pada umumnya. Gue sama Erwin hanya selisih umur satu tahun saja, makanya gue sama dia cukup akrab untuk main tabok-tabokan.

Emul, dia adalah tetangga di belakang rumah gue, Emul ini perawakannya gembul, kulitnya item manis, dia adalah anak yang penurut, jelas, karena dia paling muda dari kami berlima.

Lalu ada Diki, rumahnya Diki tidak terlalu jauh dari rumah gue, hanya terhalang tiga rumah saja. Diki ini orangnya judes, blak-blakan, temperamental, tapi juga sangat perhatian, dia sering membantu gue meringankan isi ciki yang gue makan, Diki juga sering ngajak gue untuk berpetualang, ke kuburan misalnya.

Yang terakhir adalah Aceng, rumah dia persis ada di depan rumah gue. Mang Aceng, begitu biasanya gue manggil dia. Mang Aceng ini sebenernya masih saudaraan sama gue. Orang tuanya dia adalah adik dari nenek gue. Mang Aceng sering sekali bikin gue nagis karena dia sering ngomelin gue, dia sering melarang gue melakukan hal-hal yang gue suka, waktu itu gue suka main air dan mandi bareng sama mereka. Tapi Mang Aceng melarang dan malah mengancam akan mengadukan gue sama Bapak.

Hal lain yang sering kita lakukan adalah bermain lompat-lomptaan di jendela kamar ( waktu itu rumah gue masih rumah panggung tradisional, jadi jendelanya lumayan tinggi), main jelangkung ( keren nggak? keren kan?, dan main layangan ( kalau lagi musim layangan doang ). Biasanya, kami berlima membuat layangan sendiri, Alm bapak-lah yang mengajari kami untuk membuatnya. Lokasi favorite kami untuk membuat layangan adalah di kuburan. Selain tempatnya adem karena banyak pohon besar, juga karena tempatnya sepi. ( Serah dah, Put!)

Setelah gue masuk sekolah, gue akhirnya memiliki teman baru lainnya, kali ini gue punya teman perempuan, namanya Kiki, dan yang satu adalah laki-laki, namanya Samsu. Mereka berdua resmi menjadi teman gue setelah kita sering pulang sekolah bareng. Emul dan Diki waktu itu belum sekolah, sementara Erwin dan mang Aceg adalah kakak kelas gue (tengsin lah mau ngajak pulang bareng juga).

Dari teh Kiki ( gue dipaksa manggil dia eteh, karena dia bilang gue lebih muda dari dia ) gue akhirnya mengenal teman-teman perempuan yang lain, ada Nyai, Melani, Karni, dan Nurul, walaupun tidak semuanya akrab.

Teman gue semakin bertambah ketika gue memutuskan untuk ikut mengaji.

Uniknya disana ada dua lokasi tempat mengaji, untuk pemula, sangat di ajurkan untuk mengaji di tempatnya mang Wahyu, di sana banyak sekali anak-anak kecil. Kemudian, persis seperti sekolah, setelah dirasa ilmu kita sudah cukup baik, maka kita harus memutuskan akan pindah ketempat yang lebih tinggi, atau menetap di mang Wahyu dan menjadi senior.

Kubu wetan dan Kulon, begitu kita menyebutnya. Walaupun kita hidup di satu desa yang sama, tapi kita tidak sepenuhnya sama. Selalu ada skat yang membuat kita seperti tidak boleh bersatu.

Kubu wetan, di sana ada saudara-saudara gue, ada banyak anak perempuan lainnya yang lebih dominan mengaji di tempatnya Ceu Euning. Sementara gue yang berada di kubu Kulon, mengaji di tempatnya mang Wahyu. Seperti yang sudah gue bilang, ketika kita sudah khatam qur’an kecil, maka kita akan dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit. Yaitu pindah atau menetap.

November 2003, Bapak gue meninggal. Mau tidak mau akhirnya gue harus pindah ke Jawa. Belum genap setengah tahun, akhirnya gue kembali lagi ke Purwakarta karena gue merasa tidak betah di Jawa. Saat itu yang jadi masalah adalah, bahasanya. Mungkin karena gue masih terlalu kecil, gue kesulitkan untuk belajar bahasa ngapak. Karena ngapak, tidak semudah seperti kelihatannya meen~

Setelah kembali dari Jawa, gue tidak menempati rumah gue lagi. Gue dititipkan di rumah nenek gue (di Wetan) sementara ibu gue kerja di Bandung. Gue kembali mendapatkan teman-teman baru. Waktu itu gue juga pindah sekolah. Yang asalnya di SD 1 jadi di SD 2, padahal ke dua sekolah itu cuma dibatasi sama lapangan bola. Gue sering di bilang penghianat sama anak-anak SD 1, karena lagi-lagi, SD 1 dan SD 2 adalah dua kubu yang bermusuhan.

Bukan hanya itu, kepindahan gue ke Wetan juga mengharuskan gue pindah ngaji ke tempat Ceu Euning. Karena tidak mau di bilang penghianat lagi, gue memutuskan untuk berpamitan dulu ke mang Wahyu, walaupun akhirnya tetep sama, gue dibilang penghianat.

Tidak perlu waktu lama, akhirnya gue mulai akrab dengan orang-orang wetan, dan teman-teman yang mengaji di tempat ceu Euning. Ada Iin, Hani, Mega, Nina, mereka adalah anak-anak seumuran gue, lalu ada senior-senior di tempat Ceu Euning yang galaknya ngalahin bendahara kelas pas nagih uang kas. Ada Bi Yuli, teh Novi, teh Nunun, teh Popon, Bi Iim, Bi yuni, teh Nur, teh Eneng, teh Cucu, dan masih banyak lagi lainnya.

Biasanya, masa mengaji ini hanya betahan sampai kita SMP, setelah kita masuk SMA dan disibukan dengan hal lainnya, kita semua menjadi lebih jarang mengaji, sampai akhirnya kita keluar dengan sendirinya.

Kenangan indah saat gue kecil nampaknya di mulai dari sini. Di masa ini gue mengenal banyak hal, termasuk cinta monyet. Peran gue dalam percintaan ini bukan menjadi monyetnya, melainkan jadi mak comblangnya.

Zaman gue dulu masih merasakan yang namanya surat-suratan. Masih merasakan yang namanya gemetar saat membaca paragraph awal surat “ To the point aja ya…”. Dan merasa salah tingkat sendiri ketika membaca pantun di akhir surat “ 4 x 4 = 16, sempat tidak sempat harus di balas…”

Kemudian mereka teriak “ Aaaaa… Puti, terima ngga ya, ini harus dibalas atau nggak suratnya? ”, dan gue pun mulai beraksi.

Ada banya pasangan yang akhirnya “jadian” berkat gue. Untuk para perempuan,biasanya gue membantu mereka membalas surat dan tentu mengantarkannya. Dan para laki-laki, biasanya mereka menitipkan surat dan salamnya melalui gue juga. Kalau di ingat-ingat, tugas gue saat itu sangatlah mulia, apalagi gue melakukannya dengan sukarela, alias gratis. Gue ikut senang melihat teman gue satu persatu kewarasannya hilang karena jatuh cinta.

Dulu, cinta tidak seribet seperti sekarang ini. cukup dari kejauhan kita melihat si do'i "ooohh... itu pacar saya, ya sudah..." 

Kalau kita seudah merasa tidak cocok ya bubar, putus, kelar semua urusan. Kita juga masih bisa berteman lagi seperti sebelum jadian. Setelah kita putus, kita bebas pacaran dengan siapa saja, termasuk teman kita sendiri. Bahkan mereka malah sengaja tukeran pacar. Keren sekali, bukan?

Coba kita bandingkan dengan kisah cinta zaman sekarang, jika kalian berani berpacaran dengan mantan teman kalian sendiri, sudah biasa dipastikan hubungan pertemanan kalian akan hancur.

Balik lagi ke masalah tugas yang gue emban sebagai mak coblang. lucunya, gue adalah satu-satunya orang yang belum pernah merasakan pacaran dengan orang satu kampung. Mungkin karena gue terlalu sibuk ngurusin hubungan orang lain. hahaha.   

Selain jadi mak coblang, gue juga punya satu tugas yang tak kalah penting lainnya, yaitu jadi hansip setiap malam Minggu,atau kasarannya jagaiin orang yang lagi pacaran. Kalau gue beruntung, kadang gue dapat imbalan permen chewy dari salah satu pasangan. Dulu permen itu termasuk permen legend yang mahal. 
uuuh bahagianya~

Suatu ketika, gue pernah mengalami masalah dengan peran gue sebagai mak comblang. Bermula dari teman gue yang bernama Ai, dia meminta gue untuk mencombalngkan dia dengan salah satu anak laki-laki yang bernama Rifqi, kebetulan juga Rifqi ini masih teman dekat gue. Setelah berhasil mengompori keduanya untuk jadian, akhirnya si Rifqi menitipkan surat cintanya sama gue. Seperti biasa, gue mengantarkan surat itu kepada penerimanya. Sebelumnya, Rifqi tidak bilang kalau surat itu untuk Ai, tapi dengan pd-nya gue memberikan surat itu pada Ai, karena gue merasa memang sedang men-comblangkan Ai denga Rifqi.

Setelah Ai menerima surat itu, dengan mesem-mesem najong, gue nanya ke Ai “ Gimai i? nembak?”, Ai hanya diam melihat gue lalu kemudian dia pergi. Gue nggak ambil pusing sama kejadian itu, gue berfikir mungkin Rifqi belum menyatakan cinta sama Ai, makanya dia terlihat kurang bahagia ketika membaca surat dari Rifqi. “Bukan salah gue” batin gue.

Beberapa hari setelah itu, gue memang merasa kalau sikap Ai ke gue sedikit berubah, padahal biasanya setiap kali Ai melihat gue, dia langsung kelojotan “Putii…. Rifqi gimanaa?!!” sampai kuping gue pengeng. Gue masih berfikiran, mungkin benar Rifqi belum nembak Ai, makanya Ai ngga punya bahan obrolan lagi sama gue. Lalu tiba-tiba, ada salah satu teman gue yang memberikan gue sebuah gulungan kertas yang sudah lumayan lecek.
“Ini apa?” Tanya gue.
“Dari Ai.. “ jawab dia lalu pergi.

Setelah gue buka, gue merasa nggak asing sama amplop itu, ternyata itu memang surat yang tempo hari dititipkan Rifqi sama gue. Gue sempet bingung kenapa Ai memberikan surat itu sama gue, sampai akhirnya gue baca surat itu dan…. Cengo. Ternyata surat itu bukan buat Ai, tapi buat gue. Ternyata Rifqi itu naksirnya sama gue, bukan sama Ai. Di surat itu Rifqi bilang supaya gue jangan nyomblangin Rifqi sama Ai lagi, karena Rifqi sama sekali tidak suka.

Karena gue males ribet nantinya, gue memutuskan untuk menjauhi ke duanya. Gue nggak mau merusak kebahagiaan Ai dengan menerima cintanya Rifqi yang jelas-jelas gue sendiri juga nggak suka.

Kejadian itu terulang lagi, kali ini kasusnya sedikit berbeda. Ada Gilang dan Emang yang tergila-gila sama salah satu teman gue, Hana. Hana beberapa tahun yang lalu memang mirip dengan Acha Septriasa, apa lagi Hana baru saja pindah dari Kota, kulitnya belem mbusik seperti gue dan teman-teman lainnya.

Gilang dan Emang ini berteman cukup dekat, mereka bersaing secara sehat untuk memperebutkan Hana. Gilang sering curhat sama gue soal perasaannya itu, karena gue merasa kasihan, gue kemudian membantu Gilang untuk mendekati Hana. Gue sering menceritakan hal-hal baik tentang Gilang sama Hana, gue juga sering menjelek-jelekan Emang supaya Hana nantinya milih Gilang.

Harapan gue akhirnya terkabul, Hana mulai suka Gilang. Tapi Gilang memang kampet! Dia malah nembak gue . Gue nggak tau harus bilang apa ke Hana. Satu-satunya hal yang bisa gue lakukan adalah, menjauhi Gilang.  

Gue merasa Gilang nggak menghargai usaha gue. Pertemanan gue sama Gilangpun akhirnya berubah, kita tidak sedekat seperti sebelumnya. Gue sempet bolos ngaji selama satu minggu. Dan selama itu pula, Gilang sering nanyain gue sama saudara gue, yang justru bikin gue makin benci sama Gilang.

Entahlah, dulu gue memang punya sedikit kelainan, gue berbeda dari teman-teman gue. Gue akan membenci seorang laki-laki ketika dia menyatakan cintanya sama gue. Perasaan aneh seperti takut, ilfeel, dan bingung mau ngapain kalau udah pacaran, membuat gue kesulitan untuk mendapatkan pacar.

Ini cerita udah ngawur dari awal, yang tadinya mau cerita temen-temen pas kecil, kenapa jadi melebar kemana-mana dah...

Lalu bagaimana nasibnya Erwin, Emul, Aceng dan Diki? atau nasib teman-teman baru gue di wetan?
Yaudahlah, mungkin nanti disambung lagi, 
kalau inget.

27 Mar 2016

Neng gak Baper kok :(

Gue nggak tau, kenapa dari sekian banyaknya draft yang ada, harus postingan ini yang gue publish. Gue ini tipikal orang yang nggak bisa buat ngelanjutin cerita yang udah ketunda sebelumnya, makanya banyak banget draft cerita yang sampe sekarang nggak bisa selesai. Kayak yang, mmmm ini kalo dilanjutin bakalan basi deh, kalian iya nggak sih?

Hari Sabtu minggu kemaren, pagi-pagi banget gue udah kebangun gara-gara temen gue jam setengah 5 udah mulai beres-beres kost.an. Malem itu gue tidur sekitaran jam setengah satu dan paginya gue bangen dalam keadaan masih ngantuk banget. 

Kesel sih sebenerya, harus denger kran air yang nyala atau denger dia ngepel lantai yang bunyinya “srek-srek-srek” belum lagi pintu kamar yang nggak tau kenapa selalu dia buka lebar yang bikin mata ague silau. Oke, gue seharusnya bersyukur punya temen yang rajinnya kebangetan kayak dia (yawloh semoga Fitroh gak baca blog gue) tapi gue masih ngantuk men! Gue sendiri kalo udah bangun emang susah buat tidur lagi, tapi sekalinya udah tidur pasti bakal kesiangan.

Maka dari itu sambil usak-usek benerin selimut dan nyari posisi pw, gue grepe-grepe nyari hp gue buat stalking tl mantan  buka coc dari pada gue tidur lagi. Gue pun liat ada notifikasi WhatsApp sebiji, sumpah whatsapp bagi gue cuma gue gunain buat kirim-kiriman foto doang kalo gue numpang foto disalah satu hape temen gue, selebihnya, emang gak guna. 
gue ternyata dapet whatsapp dari salah seorang temen gue,
eh tunggu, kayaknya bukan temen deh.
Oke, jadi gue dapet WhatsApp dari mantan gebetan gue.
Ehm? Belum jadi gebetan kok.
Baiklah, mungkin dia adalah mantan-calon-gebetan-gue.
Bodolah apapun itu, seinget gue dia pernah modusin gue long long time ago.

Entah lagi mabok apa, kontak nomer hp dia gue kasih nama “aajrutan” dalam Bahasa Indonesia itu artinya jingkrak-jingkrak. Hmmmm mugkin gue dulu jingkrak-jingkrak kali ya kalo dapet sms dari dia. Ah kayaknya enggak juga sih. Sebenernya dia orang yang ngak penting-penting banget di hidup gue saat ini sampe-sampe gue harus nyeritain dia kayak gini.
Tapi gue rasa lucu aja gitu.

Gue kenal dia dari facebook 5 tahun yang lalu. Raditya dika yang membuat gue jadi akrab sama dia.Bukan gara-gara dicomblangin sama Bang Radit juga sih, cuma wakktu itukalo nggak salah gue komentar disalah satu status di facebooknya dia dan kita ngebahas tentang Bang Radit, gue emang orangnya suka sksd dan sok asik dari dulu, jadi saling balas komentar di statuspun berakhir dengan kenalan secara personal melalui Private Message. 

Dia sekolah di sekolah yang sama sama adik sepupu gue, makanya gue kayak ngerasa “deket” aja gitu jadinya. Dia orangnya juga asik, punya selera humor yang oke, enak diajak cerita, dan nyambung sama obrolan gue.

Gue nggak inget tepatnya kapan, dia pun akhirnya tlp gue. Tau nggak apa kata pertama yang gue denger dari mulutnya dia waktu itu? “neng, suara eneng kok bikin aa nafsu gini ya?” SIKAMPRET! Batin gue. Untung dari awal chat atau sms gue emang udah tau sifat dia yang kurang ajar itu, jadinya ya gue nggak ambil hati ataupun gue mikir yang macem-macem kedianya.

Karena pertemannan kita ini LDR, jadi lama-lama diapun mulain menghilang dimakan waktu.

2 taun kemudain setelah negara api berhasil di taklukan , kitapun kontekan lagi. Dia sms gue, nanya kabar lah, basa-basi segala macem. terus gue seneng? Enggakjuga sih, gue ngerasa biasa aja.

Kita balik lagi intens sms-an , tlp-nan lagi. Bahkan obrolan kita macem-macem, mulai dari yang ringan sampe yang berat, mulai dari yang biasa aja sampe yang luar biasa, atau mulai dari yang islam banget sampe yang laknat banget. Astaghfirullah. oke fix saat itu gue menempatkan dia diposisi sebagai seorang temen yang baik.

Sampe pada akhirnya kita ada disuatu obrolan yang kalau kasarnya mah dia nembak gue. Gue juga lupa waktu itu gue jawab apaan, tapi kita nggak sampe pacaran. selang beberapa bulan setelah itu, gue iseng nanya apakah tawaran dia masih berlaku atau enggak dengan harapan semoga nggak berlaku, soalnya perasaan gue yaaa.. yagitulah, cuma aja gue pengen tau respon dia gimana kalo gue menyanggupi buat jadi pacarnya.

Dan bener aja, dia bilang tawaran itu udah nggak berlaku lagi, dia juga bilang nggak bisa ngejalanin pacaran jarak jauh dan berbagai alasan sok “dekejar” lainnya. Antara bersyukur karena ternyata gue nggak harus jadi pacarnya sama gue ngerasa hargadiri gue kebanting,parah! Bisa banget dia milih jawaban seolah-olah gue minta dia buat jadi pacarnya.
#kau putar cerita sehingga aku yang nembak (ini bekson ceritanya)

Kitapun  lost kontek lagi.

Setahun berlalu #tsaah, dia  tiba-tiba sms lagi.
“neng udah punya pacar sekarang?

Bukanya ngejauh atau apa pas gue bilang gue udah punya pacar, dia malah menghasut gue buat mutusin pacar gue. Katanya pacaran itu haram, gak boleh sama agama, deket sama maksiat,  katanya gue disurh memperbaiki diri dulu, jaga diri jangan sampe gampang kerayu cowo(iya lukan bukan cowo ya). 

Gue gregetan banget sama dia, tapi dia itu orangnya emang asik, dan nyenengin.Jadi agak susah juga buat dijauhin. Kadang gue malah jadi terbiasa nanggepin sifatnya yang awut-awutan gitu dan suka gangguin hidup orang.

Dia orangnya suka pamer, sombong, songong, sok tau, penulis buku yang gajadi-jadi buat nerbitin buku. Padahal gue udah minta buat masukin nama gue di daftar ucapan terimakasih nantinya, siapa tau gue bisa pemes. Tapi harapan itupun kandas karena kelabilannya dia yang lebih mentingin buat meneliti kehidupan para jomblo di dunia dari pada ngelanjutin buku yang lagi dia bikin.

Dia sering bilang
“neng  jaga diri buat aa, nanti jodoh neng aa soalnya”
“neng kalo foto bibirnya jangan kayak gitu,dosa”
“neng ulah bobogohan wae, sholat ge can bener”
“neng ulah pikasebeleun gera da eneng teh teu geulis, heunte”
“neng nggak usah beli buku kalo Cuma bajakan dong, gak menghargai penulis banget sih beli bajakan gitu”
 Dia pernah dia pasang dp buku se abreg terus gue bilang minta dipinjemin dia malah jawab.
“neng mau baca ? Beli lah, katanya udah kerja. Atau minta sama pacar neng aja sana”
Atau dia tiba-tiba tlp.
“neng, ini aa tlp ntar neng harus gantiin pulsa aa yah. Awas kalo enggak, ntar aa tlp neng lagi”
Atau
“neng udah belum dikerudung teh. Meni rujit, gaji berapa sih sampe nggak mampu beli kerudung? Mau aa beliin? Tapi kain kafan ya?” si bangke!

Lebaran tahun kemarin, gue resmi menyandang status jomblo, bukan karena hasutannya dia tapi karena, karena..
karena.. eh karena merusakkan pikiran . loh kok? ini bang Roma ngapain disini woy!

gue jomblo karena takdir! jadi pertahanan gue agak lemah waktu itu. Anjir lemah.
Ini sebenernya inti cerita yang mau gue ceritain; 

H+2 setelah lebaran gue sama emak gue mau nganterin adek gue Aldo ke Purwakarta. Gue yang sama sekali belum pernah ketemu sama a Hasan itu. Iya, namaya Hasan, nama lengkapnya gue nggak tau dan nggak pernah punya niat nanya juga, tapi gue pernah ngirim buku kealamatnya dia dengan nama penerima Hasan Baso.
Dia nanya ke gue “neng kok nama penerimanya Hasan Baso?” 
Kenapa baso? iya yah? kenapa bukan mie ayam atau krabby patty? Gataulah, gue mikir apa waktu itu.

Gue ngabarin dia kalo gue mau ke Purwakarta.Dan dia dengan tanggepan kampretnya bilang
“ oh, neng mau nagajak ketemu? Atau mau minta dijemput aa nya? Kalo mau minta jemput yang deket aja, gada bensin aanya” 
 
“sial gue ketauan” batin  gue.

“neng udah sampe mana” tanya dia di chat bbm.

“sampe Cianting”
Gue nggak mikir itu dimana, soalnya posisi diluuar juga gelap banget, gue juga nggak bisa ngiia-ngira itu udah nyampe mana, secara gue udah lama banget nggak ke Purwakarta.

Beberapa puluh menit kemudian dia bbm lagi.
“neng Ciantingnya deket Zimbabwe ya? Jadi nggak nyampe-nyampe. Aa udah mau beku nih di nunggu Alfamart ”

Pikir gue "ini orang pasti nunggunya didalem showcase"

Dia bbm lagi.
“udah mah minta dijemput, bbm Cuma di R.ngahesekeun, maunya apa coba? Mau sate? Ntar aa beliin”

“haha, bentar” bales gue singkat.

Beberapa puluh menit selanjutnya gue ngabarin dia kalo gue udah mau nyampe.
“Aa di Alfa mana? Neng udah nyampe”

Walaupun gue nngerasa kayak udah deket sama dia, tetep aja yang namanya pertama ketemu pasti ada deg-degannya dikit. Gak perlu lama lama buat ngenalin mukanya dia di kegelapan malam, asik. Gue liat dia lagi jalan kearah gue

“Neng, ternyata lebih jelek dari fotonya ya?” kata dia tiba-tiba.

“Anjiirr..kesan pertama Macham apa ini” batin gue lagi, tapi kemudian yang keluar cuma “iya nih, mungkin faktor kurang cahaya aja, jadi kurang bersinar gini wajah akunya”  kata gue cengengesan walau sebenernya pengen nimpuk mulut dia pake sepatu.

Gue nyodorin tangan gue buat salaman sama dia, karena biar gimanapun kita belum pernah kenalan secara resmi.
Dia pun lanjut nanya
“Ehm, ini kalian berempat? Gak jadi nganterin ah, motor aa masih baru belum lunas, ntar turun mesin lagi”

Astaghfirullah, gue kayak yang pengen ngeluarin jurus kamehame gue saat itu juga, tapi gue batalin mengingat posisi gue lagi di tempat rame, gue nggak mau demi melenyapkan satu orang tapi malah melukai banyak orang lainnya. Ini apaan sih yah?

“enggak atuh a, ntar si Mamah aja yang ngojek, neng sama aa” kata gue sok di kalem-kalemin.

“oh biar ngirit gitu ya neng? Gak bisa, neng juga harus bayar ples sate yang aa beli ini”
Gue yang batrenya udah soak diperjalanan  cuma “haha-hehe” aja.

Gak lama kemudian, emak gue nyamperin gue sama a Hasan. Emak gue kalo udah cape, mukanya emang nggak sante gitu, terlebih dia abis dirayu-rayu kang ojek yang lain. Dengan nada sewot dia nanya ke a Hasan.
“ Mang, ke Depok berapa?” GUE NGAKAK dalem hati.

“mampus lo mampus, dikira tukang ojek kan lu”
Gue liat kearah mukanya dia udah ngenes-ngenes minta gue buat jelasin ke emak gue sama tatapan “emang lu nggak bilang mau ada yang jemput apa”

Untung gue orangnya peka, jadi gue langsung bilang kalo a Hasan bukan tukang ojek tapi dia adalah  seekorkyubi temen gue.

Sepanjang jalan gue puas banget ngetawain dia. Ini namanya bukan Falling in love at first sight tapi, dikira tukang ojek at first sight.

Gue nyampe dirumah sodara gue sekitar jam 12 malem, ntah perasaan gue atau dia emang bete beneran, sekilas gue liat muka dia pas gue turun dari motor, mukanya rada nggak selow gitu. Gue mencoba memastikannya dengan ngajak dia mampir sambil berdo’a semoga dia nggak mau, dan untungnya dia nggak mau beneran. Dia pun pulang. Gue juga  masuk kedalem rumah, ganti baju dan siap-siap tidur.

Setengah jam gulang-guling, gue cek hp.
“Harusnya dia udah sampe rumah pikir gue.
“Kok dia nggak ngabarin? Apa dia ilfeel sama gue” 
Gue tunggu dia ttp nggak bbm ataupun sms, akhirnya gue yang bbm duluan.
“aa udah nyampe belum?”
Dia bales singkat, “udah neng, kenapa?”
Gue temenung, diem, dan gue akhirnya gak bales bbm dia karena gue ketiduran.

Paginya gue masih mikirin kejadian semalem,gue ngerasa ada yang salah. Apa mungkin dia nyesel udah ketemu gue. 

Gue cek hp gue lagi, tapi nggak ada bbm dari dia misalnya “neng semalem bbm kok gak dibales?” atau biasanya dia bawel ngucapin selamat pagi. Gue coba buat sesering mungkin  ganti dp sama bikin pm buat mincing-mancing dia. Posthink mungkin dia lagi nggak punya kuota.
GAK MUNGKIN! *gebrak meja
Dia juga gonta ganti dp mulu dari tadi!

Padahal sebelumnya dia sering bilang ke gue.
“neng kalo neng main kesini ntar aa ajak neng muter-muter-muter purwakarta, belum pernah kan? Ntar sore-sore maen ke jembatan cisomang. Atau jalan-jalan ke Citeko. Neng maunya kemana?”

Bukan gue ngarep diajak main sama dia, tapi sikapnya dia sama gue setelah ketemu gue kok tiba-tiba jadi berubah gitu?

Tanpa gue sadari, pada akhirnya ternyata gue udah masuk kezona baper. Gak tau yang asalnya gue nggak pernah nunggu dia ngontek gue, selama di Purwakarta gue nunggu dia buat sekedar ngeping gue atau apalah. Gue malah sempet mikir, jangan-jangan gue suka sama dia. Aaah tidaaakkk, ini nggak bisa gue biarin.

Gue akhirnya balik lagi ke Tangerang  masih dengan seabrek pertanyaan gue ke dia yang gue simpen sendiri tanpa punya niat buat nanyain kedia. Dan dari semenjak malem itu gue sama a Hasan resmi nggak kotekan lagi. Tapi gak tau kenapa gue malah jadi sering stalking-in facebooknya dia, instagramnya dia.

Dari postingan yang dia bikin, dari Foto-foto yang banyak dia upload dan dari semua caption itu, gue yakin, mungkin bagi dia gue emang cuma beneran seorang penumpang ojek yang cuma gak sengaja kenal dan tau namanya.

Nggaak , dia nggak ganteng, kalian jangan mikir gue suka sama dia setelah gue ketemu sama dia. Gue cuma ngerasa aneh dan serba salah aja, dia tiba-tiba kayak ngehapus gue dari memori otaknya.

Gue putuskan buat gabung jadi member propolis dc bbmnya dia, gue block ig nya dia, gue block juga facebooknya dia, gue putuskan semua kontak dengan a Hasan. Gue nggak mau ambil resiko sama apa yang gue rasain, bodo amat!

8 bulan berlalu, tepatnya di hari sabtu kemaren. Dia Whatsapp gue.
gue lupa kalau gue nggak pernah ganti nomer hape dari jaman SMK sampe sekarang, gue juga telat menyadari kalo gue ngehapus nomernya dia itu,bukan berti nomer gue juga ilang di kontak hapenya dia.

diawali dengan spik-spik basa-basi, diapun mulai menanyakan kenapa gue nggak bisa ditemukan di medsos dan alesan kenapa gue ngilang berbarengan dengan munculnya Lee Min Ho yang minum luwak White Coffe. Sumpah itu absurd banget menurut gue.

Terlebih gue rasa yang ngehindar duluan kan bukan gue. Dia juga mulai menyalahkan kegemarannya dia nonton drama Korea belakangan ini disebabkan karena gue yang udah tobat dan make jilbab. Makin garing kan! Yaitulah si Hasan Baso!

Dia juga nanya kenapa gue block Facebooknya dia. tapi gue nggak nggak ngaku! Gue bilang kalo udah gue tutup akun. Bodo amat lagi!

Malenya dia tlp gue, gue berharap banget dia nggak bahas masalah dulu pas gue ketemu sama dia yang berakhir di gue yang jadi butiran debu doang. Gue pura-pura nggak inget kalo dulu pernah ketemu sama dia. Gue juga bilang kalo gue udah lama banget nggak ke Purwakarta.
Mamam!! Akhirnya dia yang parno sendiri dan ngira kalo emang bener kita nggak pernah ketemu.

“Jadi malem itu hantu ya neng?”
 “iya” jawab gue singkat sambil langsung nutup tlp.
beberapa detik kemudian dia langsung chat gue.






















"kayaknya kita harus ketemu lagi deh buat mastiin kalo yang aa temuin kemaren bukan hantu"

Aku Adalah

Puti Andini

Pengabdi Wifi Telkom...

Bagian dari

Your Lucky Number

Kategori

Cerita Sehari-hari (13) Curhat (11) Absurd (9) Throwback (7) Friendship (6) Drama Korea (5) Kesel (3) Keluarga (2) Perkenalan (2) ini apa? (2) 18+ (1) Buku (1) Ngawur (1) Ngomentarin (1)