Lagu dan Permaian Yang Menemani Gue Tumbuh
Hampir semua orang sepakat, bahwa anak yang lahir di tahun 1990-2000 adalah anak-anak dengan masa kecil yang paling bahagia. Dimana di masa itu, kita masih belum terpengaruh dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini. Anak-anak jaman sekarang lebih sering menghabiskan waktu dengan duduk sambil main gadget. Berbeda dengan kita (anak 90-an) dulu, kita adalah anak-anak yang sangat aktif bahkan gue mungkin termasuk anak yang aktifnya kebangetan
Oke, dari pada ngomongin “kita”, takutnya gue nanti malah jadi baper sendiri (you know, laahh…) lebih baik gue ngomongin diri gue sendiri sebagai anak 90-an yang mempunyai masa kecil nan ceria dan bahagia.
Seperti yang sudah gue katakan sebelumnya, gue adalah anak yang lumayan hyperaktif. Gue cenderung lebih suka main keluar rumah dari pada main di dalam rumah (main boneka misalnya).
Ada begitu banyak hal yang bisa gue lakukan diluar rumah, apalagi dulu gue memang tinggal di Desa. Apapun bisa dijadikan permainan, yah, bisa dikatakan sarana dan prasarana permainan di Desa itu udah memenuhi SNA (Standar Nasional Alam).
Ngomongin masalah permainan jaman gue kecil dulu, gue jadi inget satu hal, hampir semua permainan yang pernah gue lakukan, ada beberapa yang juga diiringi dengan sebuah lagu. Dan beberapa diantaranya masih sangat gue hafal. Nada dari setiap lagu sebenernya hampir sama, begitupun dengan daerah lain sepertinya, mungkin cuma liriknya aja kali ya yang diganti?
Ini adalah contoh beberapa lagu pengiring permainan yang masih gue inget sampai sekarang. Berhubung masa kecil gue dulu dihabiskan di tanah Sunda, maka lagu pengiring permainan yang gue akan sebutkan di bawah, tentunya kebanyakan dengan menggunakan Bahasa Sunda.

Lagu pengiring:
Cing ciripit
Satulang sabajing
Saha nu kajepit..
Omeng!
Cara bermain:
Lagu ini biasanya digunakan untuk menentukan pemburu (omeng) dalam sebuah permainan kejar-kejaran. Si pemburu nantinya wajib menangkap salah satu teman yang berlarian ke berbagai arah.
Penentuan pemburu dilakukandengan cara:
Salah satu teman akan membuka telapak tangannya untuk ditempati telunjuk semua peserta permainan. Ketika lagu Cing ciripit telah selesai dinyanyikan, tanpa aba-aba terlebih dulu, telapak tangan yang dijadikan tempat untuk menaruh jari telunjuk semua peserta itu, akan menangkap salah satu telunjuk yang berada pada telapak tangannya yang lamban untuk mengangkat jari telunjuknya. Jika hal itu terjadi, maka telunjuk yang tertangkap, maka ia diwajibkan menjadi pemburunya.
Lagu Pengiring :
Slep dur, slep dur
Dilas dipan dipan debur
Kahijina kaduana
Katiluna kaopatna
Kalimana kagenepna
Katujuhna nu pandeuri
Cara bermain :
Lagu ini biasa dimainkan untuk memerangkap seorang teman dalam sebuah permainan. Cara memerangkapnya, sejumlah teman harus berbaris dan bergiliran masuk ke dalam terowongan yang dibangun oleh dua pasang tangan. Ketika lagu Slep Dur selesai, terowongan yang terbuat dari sepasang tangan tadi seolah-olah mendadak runtuh hingga teman yang sedang lewat dibawahnya.
Sebelum itu, si dua pasangan ini telah menentukan benda apa yang nantinya akan dipilih oleh setiap peserta yang terperangkap.
Misalnya, teman gue pilih anting, dan gue kalung, nantinya kita akan menanyai teman kita yang terperangkap itu, untuk memilih anting atau kalung. Kalau dia memilih kalung maka dia akan menjadi anggota gue.
Setelah semua peserta berhasil tertangkap, maka akan terbentuk dua grup, yaitu grup anting dan kalung. Setelah itu kita akan melalukan Tarik tambang, yang kalah, bertugas untuk menggendong pemenangnya.
Lagu pengiring :
Paciwit-ciwit lutung
Si lutung pindah ka tung-tung
Paciwit-ciwit lutung
Si lutung pindah ka tung-tung
Cara bermain :
Gue sekarang lagi mikir, kok dulu gue bisa bahagia banget ya mainin permainan ini. Padahal mainnya cuma nyubit punggung tangan temen-temen yang lain sampai membentuk sebuah tumpukan yang tinggi.
Setiap kali kata “silutung pindah ka tung-tung” diucapkan, maka otomatis tangan yang paling bawah akan pindah keatas untuk mencubit punggung tangan yang paling atas.
Kalu dipikir-pikir, permainan ini sampai kapanpun nggak bakalan ada ujungnya.
Lagu pengiring:
Eundeuk-eundeukkan lagoni
Meunang peucang sahiji
Leupas deui ku aki
Beunang deui ku nini
Eundeuk-eundeukkan lagoni
Meunang peucang sahiji
Leupas deui ku nini
Beunang deui ku aki
Cara bermain :
Lagu ini dinyanyikan ketika kita semua, ah, maksud gue ketika gue dan teman-teman gue berada diatas pohon. Sambil menggoyang-goyangkan pohonnya, gue dan teman-teman gue akan menyanyikan lagu tersebut secara bersahut-sahutan.
Semakin keras goyangannya, semakin seru, dan semakin tinggi juga kemungkinan kita jatuh dari pohon karena dahannya patah.
Lagu pengiring:
Ucang-ucang angge
Mulung muncang ka parangge
Digogog ku anjing gede
Anjing gede nu pa lebe
Ari gog, gog cungungung
Cara bermain:
Sebenernya ini bukan permainan, sih. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh orang tua kepada anaknya atau kakak yang lagi ngemong adiknya, atau siapa aja deh yang lagi jagain anak kecil.
Si anak kecil itu akan ditaruh dipunggung kaki sambil diayun-ayunkan. Di penghujung lagu “cungungung….” Maka ayunan akan dilakukan lebih tinggi, setelah itu akan terdengar suara tawa anak kecil tersebut.
Kalau gue emang nggak tau diri sih orannya, walaupun udah gede, tapi masih sering minta ucang angge sama emak gue, ya walaupun yang didapet cuma jitakan doang. Setidaknya gue sudah berusaha.
Lagu pengiring:
Punten mangga, ari ga
Gatot kaca, ari ca
Cau ambon, ari bon
Bonteng asak, ari sak
Sakit perut, ari rut
Rujak asem, ari sem
Sempal-sempil, ari pil
Pilem rame, ari me
Meja makan, ari kan
Kantong kosong, ari song
Songsong lampu, ari pu
Pulau Jawa, ari wa
W*DUK SIA!!!!!
Cara bermain :
Lagu ini bisa dinyanyikan tanpa permainan, bisa juga dinyanyikan dengan permainan. Gue sendiri bingung mau jelasin permainannya. Yang jelas, permainan ini dilakukan oleh dua orang dengan melakukan high five berulang-ulang.
#pembaca mulai ngebayangin
Haduh! Bukan kayak gituu… bukan!
Lagu ini sebenarnya berurutan dengan lagu-lagu yang lain.
Yang pertama diawali dengan lagu
Mi mi mi mi
Mi atas mi bawah
Mi depan mi belakang
Mi 1 2 3
Mi 3 2 1
Mi gulung gulung (menggulung-gulungkan kedua tangan)
Mi gulung gulung
Mi ciut..ciut (posisi semua jari dibentuk moncong)
Mi ciut..ciut
Mi keplek…keplek (mengepak-ngepakan ketek)
Mi keplek.. keplek
Setelah selesai lalu mulai dengan high five diiringi lagu.
bapak bawa apa pak, bawa lemari..
kuncinya dimana pak, ada di susii..
susi minta susu pak, ada di sapi..
sapi minta rumput pak, ada di sawah..
sawah minta air pak, ada di gunung..
gunung minta api pak, ada di kompor..
kompor minta minyak pak, ada di warung..
warung minta uang pak, ada di bank..
Dua kali high five dilanjut dengan.
Bang-bang-bang..
Kalima-lima gobang-bang..
Bangkong ditengah-tengah sawah-wah..
Wahai tukang bajigur-gur..
Guru sakola desa-sa..
Saban poe ngajajar-jar..
Jarum paragi ngaput-put..
Purti nu gareulis-lis..
Lisung kadua-dua halu-lu..
Luhur kapal udara-ra..
Rangrag di Jakarta-ta..
Taun dua rebu-bu..
Buah meunang ngala-la..
Lauk meunang nga jaring-ring..
Ringkok aki-aki.. Aki ngaringkuk disuguan t*i orok lila-lila jadi montok...
Udah gitu doang.. kentang banget kan lagu nya?
Lagu pengiring:
Cing ogo-ogo..
Kalau mancing bogo..
Sidakep bari balem..
Cara bermain:
Semua peserta permainan harus jongkok. Aturannya, nggak boleh keliatan gigi, ketawa, keliatan celana dalam (kalau anak cewek dulu sering pake rok), atau baju/roknya nempel ketanah. Kalau itu terjadi, berarti dia nanti yang jadi kucing.
Setelah ada yang jadi kucing (pokonya kita akan mencari kesalahan sekecil apapun, kalau tetep nggak ada pelanggaran, bisa jadi "gerak" juga termasuk pelanggaran), nanti dia harus nangkep salah satu temen lain supaya dia nggak jadi kucing lagi.
Aturan selanjutnya, setiap kucing tidak bisa menangkap kita kalau kita jongkok, jadi kalau misalkan kita sudah mau ketangkap, kita harus buru-buru jongkok. Yang jongkokpun tidak sembarang bisa bangun, dia harus dibangunkan dulu oleh peserta lain yang sudah bangun.
Kalau dipikir-pikir sekarang, ngapain ya kita minta dibangunin kalau nantinya bakalan dikejar sama kucing, mending juga jongkok aja sambil scrolling TL Instagram.
Eh, gimana deh?
Lagu pengiring:
Kotak pos mari kita isidengan para pelaku,
Yang ditanya harus menjawab…
Kita sudah buat kesepakatan nama- nama yang akan dipakai untuk permaian ini, misalkan nama hewan.
Mainnya sambil bikin lingkaran, telapak tangan kita ditumpuk sama telapak tangan sebelah kita, cara mainnya dengan menepuk tangan teman di sebelah kita.
Si Puti minta hurup M (orang Sunda nggak bisa ngomong ef)
Lama-lama menjadi Monyet..
Nah, pas “nyet”nya itu berakhir ditangan siapa, maka dialah nanti yang akan mempunyai nama samaran Monyet.
Cara bermain:
Setelah semuanya mempunyai nama samaran, tersisa satu orang tanpa nama samara, biasanya yang paling akhir, maka kita akan mulai bermain kucing-kucingan (lagi), bedanya, yang jadi kucing matanya harus ditutup kain.
Si kucing harus menghafal semua nama samara, sebab kalau dia berhasil menangkap salah seorang pemain, dia harus menyebutkan nama samarannya. Kalau salah, berarti gagal.
Disini yang jadi kucing bakalan apes banget deh pokoknya. Kalau nggak hati-hati bisa-bisa benjol karena nabrak sesuatu yang tidak diinginkan.
Lagu pengiring:
Pak camat jualan tomat
Yang beli harus hormat
Bu siti jualan anting
Yang beli orang sinting
Pak camat ketiban papan
Matinya jam delapan
Dikubur tahun depan
Yang bergerak anaknya setan
Cara bermain:
Setelah lirik terakhir diucapkan, seketika kita semua tidak akan bergerak layaknya patung. Nanti kalau ada yang gerak berarti dia kalah.
Terus diapain? Cuma diketawain doang, abis itu nyanyi lagi, gitu terus berulang-ulang sampai pak camat ketiban papan beneran..
Lagu pengiring:
Ampar-ampar pisang..
pisang ku belum matang..
masak sebiji digulung blai-bali..
mangga lepok mangga lepok..
masak sayur lepok...
Bengkok dimakan api..
apinya cang kesurupan... (akibat lupa lirik)
Bengkok dimakan api...
apinya cang kesurupan..
Cara bermain:
Lagu ini dinyanyikan oleh dua orang dengan cara...
mmmm ...
Mainnya pake kaki gitu deh.
#pembaca mencoba ngebayangin lagi.
Bukan tendang-tendangan juga, masya Allah..!!
Ah udah nga usah dibayangin. Salah muluk!
Lagu pengiring:
Minyak kayu putih digosok kebadan,
Bendera merah putih, tandanya menang.
Cara bermain:
Lagu ini dipakai kalau mau suit. Sama halnya kayak,
Lagu pengiring:
Cang kacang panjang,
Nu panjang omeng!
Cara bermain:
Biasanya lagi-lagu pendek kayak gitu dipakai cuma buat mennentukan siapa kucingnya doang.
"Mau main apa neeh kita teman-teman?"
"Petak umpet aja yu..."
"Yang jaga siapa?"
"Yaudah, pake minyak kayu putih aja.."
Selain lagu pengiring mainan, ada juga lagu yang hanya dinyanyikan saja, tanpa ada permainan khususnya.
Nah, lagu ini biasanya dipake buat mengejek seseorang, atau temen yang nyebelin. Kalau sekarang kan biasanya sindir-sindirannya pake status di medsos, kalau dulu pake lagu.
Trang trang kolentrang
Si londok paeh nundutan
Tikusruk kana durukan
Mesat gobang kabuyutan
Nyeh prot, nyeh prot
Bujur kudu cecendeteun
Dibura ku laja tuhur
Laja tuhur beunang ngunun
Beunang ngunun tujuh taun
Kadalapan di burakeun
Kalau yang diatas mungkin cuma sebatas menyindir atau mengejek, lagu yang satu ini digunakan untuk mengajak berkelahi.
Kalau tawurannya Genji mungkin diawali dengan “Genji---eeeeh !!! Urrrryaaaa…!” kalau tawuran ala gue kecil dulu, ya dengan lagu itu, tapi kita nggak pernah sampain berantem beneran juga, sih.
Biasanya aksi saling ejek ini terjadi antara kubu anak laki-laki dan anak perempuan.
Tampolong bahe,
Belut ditalian,
Ulang ngomong bae,
Gelut sakalian.
Putih-putih melati Alibaba..
Merah-merah delima Pinochio..
Siapa yg baik hati Cinderella..
Tentu disayang Mama..
Aa masa? Ya gengsi dong..
Apa lo liat-liat...
Bapak lo jago silat...
Ta* nya bulat-bulat..
Seperti kue donat..
Telur-telur... ulet-ulet,,,
kepompong kupu-kupu,,
kasihan deh lu...
Kalau yang terakhir ini mungkin lebih familiar ya? Gue dulu sampai hafal beberapa variasi gerakan tangannya. Kalian iya nggak?
Terus yang terakhir, lagu yang bahkan sampai sekarang gue nggak ngerti apa maksudnya.
Ja leuleu ja
Tulak tuja eman gog
Seureuh leuweung bay
Jambe kolot (je) bug
Ucing katinggang songsong ngek!
Yang gue tau artinya cuma kalimat terakhir doang. Tapi kok dulu gue sering banget ya nyanyiin lagu itu ?
Masih menjadi sebuah misteri.
Sebenernya masih ada banyak lagi lagu pengiring dan permainan yang pernah gue mainkan. Tapi gue cuma ulas beberapa aja, soalnya takut kepanjangan juga. Kasian yang baca, mending kalau ngerti, kalau enggak?
Yang jelas, gue sangat berterimakasih kepada pengarang lagu-lagu itu dan juga tentunya para penemu permainan-permaian tersebut. Karena berkat kalian semua, masa kecil gue menjadi sangat menyenangkan.
Mau nutup postingan pakai kalimat apaan ya?
hmmm..
Yaudahlah, pakai pertanyaan aja..
Coba dong sebutin lagu pengiring permainan dan permaianan di daerah kalian apa aja?
sumber semua gambar: Google images









