Tampilkan postingan dengan label Cerita Sehari-hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sehari-hari. Tampilkan semua postingan

4 Jun 2017

Gawat! Jerawat Ternyata Bisa Membuat Puasa Makruh

Bagi gue, Ramadhan kali ini sedikit berbeda dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Alasannya, karena gue bisa ikut menjalankan puasa dari hari pertama, itu artinya, sudah bisa dipastikan gue juga bisa ikut menjalankan sholat idul Fitri setelah 4 tahun absen gara-gara, you know, lah.

Tapi ada hal lain juga yang membuat gue kecewa. Gue merasa kalau Ramadhan kali ini ibadah gue cenderung menurun. Biasanya gue rajin banget ikut sholat tarawih, tapi kali ini, gue sama sekali belum pernah ikut sholat tarawih. Kalau Ramadhan sebelumnya,  gue masih suka tadzarus, sekarang.. hmmmph :'( sedih ..

Semakin gue dewasa (re: tua) gue cenderung lebih susah untuk mengontrol diri gue sendiri. Termasuk dalam hal ibadah. Dulu mah boro-boro berani nunda sholat, kalau denger adzan terus gue ketauan masih asik di depan tv, kwhnya langsung di matiin sama almarhum nenek gue. 

Apalagi kalau lagi bulan puasa kayak gini, selain dituntut harus lebih rajin lagi ibadahnya, gue juga harus bisa meninggalkan hal-hal yang dianggap bisa membatalkan atau membuat makruh puasa. Misalnya, makan (INI MAKSUDNYA APAAN YA?!), ngupil, bersihin kuping, main di air, sikat gigi, bohong, marah, nangis, muntah, berdarah, ngomongin orang, deket-deket sama temen cowo, sampai nonton tv-pun dilarang. Pokoknya, gue bener-bener menjauhi hal-hal tersebut.

Makanya, gue memilih untuk banyakin tidur kalau siang. Biar pahala puasanya nggak rontok.

Ah~ gue jadi kangen dibawelin kayak dulu lagi. Sekarang baru kerasa, hidup kalau nggak ada yang nge-bawelin jadinya ya seenaknya gini.

Kayak kemarin nih, gue merasa ragu-ragu, apakah puasa gue diterima atau enggak. Semua ini gara-gara jerawat kampret yang hinggap di wajah manis gue ini (silahkan muntah)

Nah! Baru tau kan kalau ternyata jerawat bisa bikin puasa kita makruh.

Penasaran kenapa?

Ya, kalian juga (yang punya jerawat) harus hati-hati kalau nggak ingin bernasib sama kayak gue ini.
Jadi ceritanya gini…

Gue ngga tau kesalahan apa yang pernah gue lakukan di masa lalu, sehingga gue dikirimi dua jerawat sekaligus. Sebenarnya, gue udah nggak aneh sama yang namanya jerawat, malah bisa dikatakan kalau gue udah cukup bersahabat sama mereka.

Tapi kali ini berbeda, mereka tiba-tiba muncul dipermukaan wajah gue dengan ukuran jumbo, kira-kira mungkin sebesar kacang polong.

Oh ya, maaf, gue nggak bisa upload gambarnya, karena ini termasuk ke dalam kategori disturbing picture. Jadi kalau kalian mau bilang NO PICT = HOAX, mendingan langsung japri ke gue aja, nanti gue kirimin gambarnya.

Wqwqwqwqwq

Ya, kan siapa tau kalian nggak percaya.

Jerawat kampret ini sudah mewarnai hari-hari gue selama kurang lebih dua minggu. 
Parah bats kan?! 

Makanya, gue kemana-mena lebih memilih menggunakan masker. 

Gue nggak mau membuat orang-orang berdosa sama gue karena gue yakin, ketika mereka melihat apa yang methuthuk di wajah gue ini mereka akan langsung melontarkan kata-kata  yang….  Hhhh~
Ketika di kampus-pun, gue memilih untuk tidak membuka masker gue, bahkan ketika jam kuliah sedang berlangsung. 

Malah, sempat terlintas di fikiran gue untuk menggunakan cadar.

Hari demi hari berhasil gue lewati dengan penuh penderitaan (apalagi kalau cuci muka). Tak henti-hentinya gue berdo’a agar jerawat ini bisa segera kempes dan enyah selama-lamanya dari wajah gue.

Bukannya kempes, gue malah mendapatkan satu lagi kiriman jerawat jumbo yang tumbuh di tengah-tengah dua jerawat sebelumnya. Gue nggak ngerti deh, konspirasi macam apa yang sebenarnya sedang terjadi di diri gue ini.

Harapan untuk bisa buka bersama sama gebetanpun kandas.

Loh apa hubungannya?

Ya, gue mana berani lah nunjukin komuk gue di depan gebetan , apalagi pas buka puasa, yang ada dia bakalan mual-mual duluan. Bukannya kenyang makan, malah masuk rumah sakit. Kan repot.

Duh ilaahh, ekspektasi lu diajak buka bersama sama gebetan. Pertanyaannya, emang punya gebetan?

Hehe, ini kenapa jadi bahas gebetan ya?
oke, balik lagi ke masalah jerawat.

Karena mereka sekarang bertiga, kayaknya nggak ada salahnya kalau gue menamai mereka dengan nama, acne triplet (diambil dari nama song triplet) MAKSA BANGET ANJIR!

Hari ini, seperti biasa, gue akan menyembunyikan jerawat-jerawat gue ini di balik masker. Setelah 3.8 menit gue ngorek-ngorek laci lemari, ternyata gue tidak menemukan satupun masker.  Ada sih, tapi itu masker bekas kemarin, yang aromanya sudah sedikit berubah. Gue yakin, sudah banyak bakteri juga yang menghuni masker tersebut. Kalau tetep nekat gue pakai, bisa-bisa, jerawat gue mengeluarkan jurus kagebunshin no jutsu lagi. Kan ngeri.

Ditengah semua keputusasaan itu, akhirnya gue mendapatkan sebuah ide dari bang ChanYeol di salah satu music videonya yang judulnya LOTTO.

Penampakan Chanyeol Exo
Hansaplast!
Ya, gue bisa menutupi mereka dengan hansaplast. Pikir gue.
 
Ternyata, gue lumayan cukup kere, gue juga nggak punya hansaplast.

Untungnya gue cerdas!

Walaupun gue nggak punya hansaplast, gue masih punya tetangga.

Oke, gue harus minta hansaplast ke tetangga.

Guepun bergegas menuju ke rumah tetangga sebelah.

“Ibu, maaf, punya hansaplast…” kata gue to the point setelah sampai di depan pintu rumahnya.

Kebetulan, pintu rumah si ibu itu sedang terbuka.

Dia menatap gue sebentar..
Sedetik..
Dua detik..
Tiga detik..
Si ibu malah tertidur.

YA ELAH, GUE NGGAK LAGI NGE-HIPNOTIS KELEUS!

“Sebentar… “ jawab si ibu sambil melangkah masuk kedalam rumahnya.

“Hansaplast biasa kan? mau berapa?” terdengar si ibu sedikit berteriak dari dalam.

“Satu aja bu, cukup kok…”

Si ibupun keluar membawa satu buah hansaplast.

“Perlu alkohol ngga?” tanya si ibu yang sekarang mimik mukanya berubah menjadi sedikit khawatir.

“Nggak usah bu, cuma luka sedikit doang kok..” gue berusaha menolak karena bingung.

Tepatnya gue bingung, mau jujur atau lebih baik bohong perihal kegunaan si hansaplast tersebut.

“Beneran?..” si ibu itu memastikan lagi

“Kecil banget kok lukanya…” gue meyakinkan

“Abis ngapain emang? Keiris piso?” si ibu makin kepo.

“Mmm… kejepit.. hmmmm kegores lemari. Iya, tadi lagi beres- beres, terus nggak sengaja tangannya kegores sama… Apa ya tadi, nggak tau kayu atau paku gitu…”

BENAR SEKALI!!! Akhirnya gue memutuskan untuk berbohong di bulan suci Ramadhan ini. tidak tanggung-tanggung, kali ini gue berani membohongi orang tua.

Ya lagian, si ibu pake tanya-tanya segala. Yakali gue mau bilang.

“Ini loh bu, buat nutupin jerawat…” kan aneh.

Setelah si ibu itu memberikan hansaplast, tanpa berlama-lama lagi gue langsung balik ke kontrakan gue.

Pilihan gue buat minta hansaplast kayaknya adalah kesalahan besar yang gue lakukan. Sarusnya gue beli aja dari pada harus bohong segala dan bikin puasa gue makruh.

Setelah memasang hansaplast itu di wajah gue, tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu.

“Put… Put …”
Ternyata itu suara si ibu tadi.

Gue buru-buru melepaskan hansaplast yang sudah gue tempel di wajah gue tadi.

“Kenapa bu ? ” tanya gue setelah membukakan pintu

“Ini….” kata si ibu sambil menunjukan sesuatu dia bawa di tanggannya.

Tau apa yang si ibu itu bawa?
Ternyata si ibu bawa, alkohol, kain kasa, betadine, dan plester satu roll.

Gue hampir nggak percaya sam apa yang gue lihat.

“Ayo Puti… berfikiiirrr…. Ayooo beri alasan yang masuk akal..” ucap gue dalam hati

“Ya ampun ibu… jadi ngerepotin. Lukanya cuma dikit doang kok.. beneran…”

Gue memikirkan banyak kemungkinan setelah gue mengucapkan kalimat barusan. Salah satu kemungkinan yang terburuk adalah; gimana nanti kalau si ibu terusan nanya “Mana coba liat lukanya?”

Gue nggak tau lagi deh bakalan ngasih tau alesan apa lagi. Atau mungkin aja gue bakalan jawab jujur, kalau hansaplast itu gue pake buat nutupin jerawat. Tapi nanti dia bakalan tau kalau gue udah bohongin dia.

Ya Allah, nggak lagi-lagi deh gue bohongin ibu-ibu yang tingkat kekhawatirannya di atas-rata ibu-ibu pada umumnya.

Eh, tapi kayaknya semua ibu emang gitu si yah? Gampang paniq, gampang khawatir.

Dia menatap gue sebentar.
Gue membalasnya dengan senyuman yang meyakinkan kalau gue benar-benar baik-baik saja.

“Yaudah kalau gitu, nanti bilang aja ya kalau butuh sesuatu lagi…” kata si ibu sambil pergi meninggalkan gue.

Fyuuuh….
 Untung aja ~

Gue langsung menutup pintu. Memasang kembali hansaplast di wajah gue. Dan buru-buru berangkat ke kampus, sebelum si ibu berubah fikiran lagi. Bisa-bisa dia balik lagi dan menawarkan gue sesuatu di luar dugaan gue lagi, seperti ; “Perlu ibu panggilkan ambulance?”

Lagi-lagi gue membuat wrong decision, karena nekat menempel hansaplast di wajah manis gue ini. benar saja, sesampainya di kampus, gue malah jadi pusat perhatian mahasiswa lain, tanpa terkecuali dosen gue.

“Puti, itu kenapa mukanya kok di pake-in hansaplast?”

“Abis duel sama begal, pak” jawab gue asal.

“Bohong, itu pasti jerawat ya?...”

“…..”

“Jerawat kan?”

“…..”

“ Iya kan…?”

Ingin marah, tapi inget kalau lagi puasa..

bonus :
Penampakan Suami masa depan gue, dan gue.
Reaksi pembaca :


Ya, begitulah~ 
Gara-gara jerawat setitik, makruh puasa seharian.

Sedikit saran dari gue,  supaya pahala puasa kalian tetep aman selama bulan puasa walaupun kalian jerawatan adalah ;

1. Belilah masker sebanyak-banyaknya.
2. Usahakan jangan sampai jerawatan.

Udah gitu doang.

***

Nih, hadist yang mengatakan hukum berbohong di bulan puasa :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)

***



9 Apr 2017

Cerita tentang DDP

Setelah hidup selama hampir 22 tahun, akhirnya gue merasakan bahwa ternyata hidup gue juga bisa berguna untuk orang lain.

*standing applause please..

Muhahaha

Sudah sejak lama gue ingin melakukan donor darah, dan baru kali ini gue berhasil mewujudkannya. Sesaat setelah gue keluar dari gedung PMI, gue merasakan kebahagiaan yang tiada terkira, berbeda dengan teman gue yang terlihat seperti kurang darah (yakali abis donor darah terus jadi kurang darah -_-). Gue justru sangat bersemangat sampai-sampai gue pengin koprol keliling parkiran. Gue merasa kalau gue sudah jadi pahlawan untuk kehidupan seseorang di luar sana. Andai saja gue bisa melakukan sayembara seperti:

“Siapapun yang menerima darah gue nanti, kalau dia laki-laki maka akan gue jadikan suami, dan apabila yang menerima darah gue adalah perempuan, maka perempuan itu harus mempunyai saudara laki-laki yang nantinya akan dijadikan suami gue…”

Ntaps jiwa!

Seperti yang gue katakan, gue memang sudah memendam hasrat ingin melakukan donor darah sejak lama. Selain karena ingin menolong sesama, tujuan utama gue yang sebenernya adalah, gue sangat ingin mengetahui golongan darah gue.

Ha-ha-ha-ha

Puti. 22tahun, belum mengetahui golongan darahnya sendiri

Gara-gara gue tidak tahu golongan darah gue itu apa, gue sering kali mengosongkan pertanyaan di sebuah formulir yang mengharuskan gue untuk mengisi golongan darah gue. Atau kadang, kalau misalkan harus banget diisi, biasanya bakal gue isi asal-asalan (hehe maafkeun~). Kadang-kadang gue isi O, atau AB, atau malah darah suci. 

Dan sepertinya memang gue sudah punya firasat kalau golongan darah gue adalah O, soalnya pas kemarin dicek, golongan darah gue mamang benar-benar O.

Puti Daebak!
Puti Jjang!

*koprolkelilingBlog

Selain masalah pengisian folmulir, ada juga masalah lain yang selama ini sangat membebani batin gue karena ketidaktahuan gue tentang golongan darah gue sendiri. Masalah itu adalah, gue nggak bisa baca artikel tentang sifat-seseorang-berdasarkan-golongan-darah.

Syedih rasanya.

Jadi selama ini gue tetap bertahan membaca ramalan bintang doang.

Hvft.

Balik lagi ke masalah donor darah. Gue dan ketiga teman gue yang lain, yaitu Mba Anis, Iswati, dan Isti sepakat untuk pergi ke PMI di daerah Curug, Tangerang, dengan menggunakan Grab, kebetulan juga, hari itu gue ada jadwal kuliah, dan lokasi PMI tersebut memang tidak jauh dari kampus.

"Habis donor langsung kuliah..." fikir gue

Belum apa-apa, mba Anis yang notaben-nya adalah orang yang selfie-addict sudah mewanti-wanti gue.
“Puti, nanti aku dicandid ya…”


Sementara gue sedang sibuk ngurusin kode promo Grab, mereka dengan tidak tahu malu malah selfie di dalem mobil.
ah, elah, punggung gue ngga fotogenik banget woy! :')

Sesampainya disana, kami berempat disambut oleh gerombolan bapak-bapak yang lagi rumpi-rumpi nggak ganteng

"Dek mau kemana?..." dengan tatapan tidak bersahabat

"Anu pak, mau donor darah..."

Seketika wajah bapak-bapak itupun berubah menjadi sedikit bersahabat.

"Oh ya, silahkan, langsung masuk saja ya..." menunjuk pintu masuk.

Gedung PMI saat itu kebetulan sedang sepi, jadi suara percakapan gue dan teman-teman gue yang sebenernya cuma bisik-bisik doang menjadi terdengar sangat keras karena gema.

"Ini kita terus ngapain?" tanya gue bingung.

"Ngisi formulir dulu mbak.." jawab Isti

"Lah aku nggak bawa ktp weeh..."  Kata iswati polos.

Kami semua memandang iswati dengan tatapan yakali-Is-kita-mau-daftar-pemilu.

hening sesaat lalu terdengar percakapan lainnya.

"Iswati, nanti candid aku ya,,," pinta mba Anis

"Aku juga pokonya..."  Isti nggak mau kalah.

Kini giliran gue dan Iswati yang saling menatap.

Akhirnya setelah semua percakpan tidak berfaedah itu, kami memutuskan untuk mengisi formulir..... sambil candid.

bangqe.

Mba yang jilbab merah itu nggak bisa akting dikit kali ya, kalau senyum-senyum gitu nanti nggak keliatan kalau lagi dicandid.

Auto Tidak pokoknya.
Setelah selesai mengisi formulir, kami berempat masuk ketempat registrasi. Disana sudah ada petugas PMI yang nantinya akan menginput data kita, apabila kita belum terdaftar, mengecek apakan HB kita cukup untuk melakukan donor darah, memeriksa tensi kita dan tentunya hal yang gue tunggu yaitu, memeriksa golongan darah kita. 

#flashback, 6 Jam sebelum donor.

"Mba Put, nanti kalau aku nggakbisa donor gimana ya? soalnya itu ku takut kurang gara-gara jarang makan sayur.." kata Iswati khawatir,

"Itu? itu apa? oh iya, BH ya?" jawab gue sotoy.

"Kok BH sih? HB kali mbak Put.... #@%$&%##%*####$^&*&)(...."

"Muahahahaha, aku lupa, serius!"

Yang pertama melakukan pemeriksaan adalah mba Anis. Sambil memeriksa, petugas itu juga menanyakan banyak hal seperti.

"Tidur cukup?"

"Sedang haid?" 

"Sedang mengkonsumsi obat?"

"Punya alergi?"

Mba Anis cuma ngangguk-ngangguk sama geleng-geleng doang persis kayak personil band Projectpop yang lagi manggung.

"leng geleng geleng geleng geleng geleng geleng...
guk angguk-angguk angguk angguk guk..."

Akhirnya gue mengetahui satu hal, kalau ternyata bukan cuma gue doang yang belum memngetahui golongan darahnya sendiri, tapi Mba Anis dan Iswati juga sama-sama belum tahu golongan darah mereka masing-masing.

Setelah pengecekan selesai, akhirnya mba Anis divonis tidak bisa melakukan donor darah karena darah dia adalah darah suci.

Bohong ding. 

Mba Anis nggak bisa donor karena apa yang Iswati khawatirkan sebelumnya terjadi sama mba Anis, yaitu, HBnya kurang. HB mba Anis hanya 12.5 saja, sedangkan syarat untuk melakukan donor darah HB harus diatas 12.5. 

"Berat badan nggak mempengaruhi HB ya, mas?" tanya gue penasaran.

"Enggak, HB ini pengaruhnya sama makanan, kita harus makan banyak sayuran sama kacang-kacangan"

"Kalau kurang tidur?"

 "Bisa juga sih..."

Gue kemudian teringat kalau malamnya gue baru tidur setelah jam setengah dua pagi, gue mungkin sering makan kacang-kacangan tapi jadwal tidur gue yang acak-acakan bisa membuat gue terancam gagal donor lagi.

Dari pada penasaran, gue akhirnya meminta untuk langsung dites.

Pertanyaan pertanyaan yang sama dari petugas PMI yang sebelumnya ditanyakan ke Mbak Anis, kembali ditanyakan ke gue.

"Tidur cukup..?"

Gue diem sesaat dan berfikir "Yeah, berbohong demi kebaikan itu nggak apa-apa kok"

"Cukup banget... saya tidur jam berapa ya, sore banget deh pokoknya, mas.."

Tensi gue lumayan tinggi, yaitu sekitar, 130, tapi itu masih normal, kok.

HB gue juga lolos, karena mencapai 12.9, ini semua berkat bubur kacang ijo semalam.

Itu artinya, gue bisa melakukan donor darah.

Tjie, akhirnya ada yang mau megang tangannya.
A-sa!!

Dilanjutkan dengan Isti, yang juga lolo, lalu kemudian Iswati. Sayang sekali Iswati tidak lolos karena tensi dia yang rendah, yaitu dibawah 110.

"Ini anak penyabar banget kayaknya.." batin gue.

Kami semua digiring menuju padang Mashar tempat dimana gue dan Isti akan menyerahkan sekantong darah kami berdua. Antara grogi dan antusias bercampur menjadi satu. Gue sama sekali tidak merasa takut, hanya saja, gue tidak berani untuk melihat jarum suntik yang digunakan untuk menyedot darah gue. Ngilu banget rasanya, liat jarum segede gitu.

Untuk merileks-kan pikiran gue, gue mulai menanyakan banyak hal sama si petugas PMI. salah satunya adalah:

"Mas, sakitan diputusin pas lagi sayang-sayangnya atau ditusuk jarum itu?"

Teman-teman gue malah histeris sendiri mendengar pertanyaan gue.

Demi menjaga situasi agar tetap kondusif, gue akhirnya menggani pertanyaan gue yang lebih berbobot. seperti :

"Manurut mas, darah suci itu golongan darahnya apa, ya?"

Masnya cuma diem, senyum, sambil nahan emosi. Mungkin saat itu dia berfikir untuk menyedot darah gue sampai habis, supaya gue nggak berisik. 

10 menit berlalu, kantong darah gue tidak kunjung terisi penuh, gue juga melihat kalau darah gue warnanya hampir hitam. Kata mas-mas petugasnya, itukarena gue kurang minum air putih.

Ya iya lah, orang gue kalau aus minumnya air bening -_-

Mas-mas Petugas itu lalu memberikan gue sebuah bola kecil, teksturnya lumayan kenyal, kemudian dia meminta gue untuk meremas-remasnya secara perlahan.

"Mba, kalau takut bilang aja, janga tegang..."

Kalimat mas-mas petugas itu langsung menohok harga diri gue.

Akhirnya ketahuan juga kalau gue sebenernya takut setengah mampus.

Karena gue terlalu tegang, akibatnya sampai sekarang postingan ini gue publish, tangan gue masih kerasa banget sakitnya.

Sial.

Meskipun begitu, gue sama sekali tidak kapok untuk kembali mendonorkan darah gue lagi. Setelah tiga bulan, gue akan berjanji akan kembali lagi untuk mengunjungi mas-mas petugas PMI.

Perlahan tapi pasti, akhirnya kantung darah gue terisi penuh. Gue menatap takjub kantung itu.

"Darahku, kau harus berguna bagi orang lain ya..." 


Begitulah cerita tentang Donor Darah Pertama gue.
Semoga nanti gue bisa cerita lagi tentang Donor Darah ke-Dua dan seterusnya.

19 Mar 2017

Welcome Semester 2


Biasanya, awal masuk sekolah itu identik dengan hal-hal baru. Mata pelajaran baru, guru baru, tas baru, baju baru, badge kelas baru, buku baru, sepatu baru, gebetan baru (kalau cowok biasanya ngegebet dedeq-dedeq gemes yang baru masuk).

Semuanya berubah ketika sudah 3 bulan pacaran kita sudah kuliah, ya, gue sekarang mengalaminya. Selain mata kuliah dan dosen, tidak ada hal baru lainnya yang gue temukan, seperti baju baru, sepatu baru, tas baru, buku baru (paling kertas binder yang kosong, itu juga masih punya banyak sisaan di semester 1 kemarin), gebetan baru (apalagi ini, nggak usah ditanya). Pokoknya, semua yang masih bisa dipake, ya pake aja sampai bener-bener nggak bisa dipake lagi.
 
Minggu ini adalah awal pertemuan dengan dosen di semester 2. Dari ke-8 dosen yang mengajar, seharusnya gue bertemu dengan 6 dosen baru, tapi entah kenapa, pas masuk, ternyata hanya 4 saja yang baru, 4 lainnya adalah dosen gue di semester 1 kemarin (tuh kan, ternyata, dosen juga nggak baru semua :’().

Minggu pertama kuliah ini bener-bener penuh perjuangan. Aslik! 
Gimana enggak, 4 kali gue berangkat kuliah, 2 kali gue diturunin di tengah perjalanan, dan 1 kali gue diomel-omelin sama preman atau anak punk atau kang ngamen atau apalah itu namanya, itu loh..mereka yang suka nongkrong di lampu merah.

Semester 2 merupakan semester dengan jumlah sks terbanyak dibanding dengan semester sebelumnya atau di semester yang akan datang. itulah sebannya, gue mengurungkan niat gue untuk nambah sks. Dari total 22 sks sendiri, terbagi menjadi 8 mata kuliah, yaitu:

Pengantar Akuntansi 2
Gue heran banget sumpah!
Kalau bang Radit bilang ; "KENAPAAA? KENAPAAA? KENAPAAAAA?"

Kenapa gue nggak bisa pisah sama yang namanya Akuntansi? Gue kira, mata kuliah ini cuma ada di semester 1 doang, kenapa dia malah ngintilin gue di semester 2 juga? Lengkap satu paket dengan dosennya pula.

Kalau diibaratkan cowo, mungkin Akuntansi ini urat malunya udah bener-bener putus kali, ya? Udah berkali-kali ditolak, tapi tetep aja ngejar-ngejar.

Belum lagi, dosennya itu loh.. Dia itu adalah tipe dosen yang nggak mau kalah pinter dari mahasiswa-mahasiswanya. Makanya, gue males kalau ditanya sama dia. Jawab bener aja masih disalahin, apalagi jawab salah. Duh!

Kalau di semester 1 kemarin gue belajar tentang  Jurnal, buku  Besar, Laporan Keuangan Perusahaan Jasa dan Perusahaan dagang, di semester 2 akan dilanjutkan dengan Kas, Piutang, Persediaan, Aset tetap dan Aset tidak tetap. Jujur saja,semuanya sudah pernah gue pelajari di SMK, malah lebih lengkap. Bukannya gue sombong atau gimana ya, tapi serius, gue udah lupa semua sama materi itu, makanya gue males nginget-nginget lagi.

He..
He...

Pengantar Management
Ini adalah mata kuliah baru, alhamdulilah dosennya juga baru. Dari pengamatan sementara gue, dosen ini orangnya lumayan tegas, tapi nggak kiler, malah cenderung, asik, lucu, gemesin, kayak doraemon, agak gendats gitu deh pokoknya.
Eh.

Gue ini sebenernya anak IT atau anak Ekonomi sih? 
Alasan kenapa gue lebih milih jurusan IT, padahal background gue di Akuntasi adalah karena gue nggak suka sama teori. Tau sendiri kalau teori kan? Skill mengingatnya harus kuat, karena harus menghafal banyak materi.
Lah gue? Keluar  kosan mau ngambil anduk sampe di depan jemuran, malah masukin sepatu. 
Abis selesai ngomong di telpon, terus nanya ke temen sebelah “barusan aku ngomong apa ya? Denger ngga?”. 
Bisa dibayangkan betapa rendahnya skill mengingat gue itu.

Balik lagi ke Pengantar Management, untuk kurang lebih 6 bulan ke depan, gue akan mempelajari hal-hal yang nggak jauh-jauh dari sumberdaya manusia, organisasi, management ini, management itu, management nganu, ya pokoknya yang kayak gitu-gitu lah.

Setiap pertemuan, di 30 menit terakhir, akan ada persentasi dari setiap kelompok, 20 menit untuk baca slide, 10 menit untuk sesi tanya jawab. 

Jangan tanya siapa aja anggota kelompok gue, sedih lah kalau disebutinmah. Semoga aja ini cuma ketakutan gue doang, tapi mereka pernah satu kelompok sama gue, dulu.. aaahhh :”

Kalkulus
Kalau denger kata kalkulus, gue pasti inget sama mr Bean. Kenapa? pikir aja ndiri…
#digampar

Dosen kalkulus gue adalah dosen Algoritma di semester 1. Feeling gue udah mulai nggak enak, mengingat kemarin cuma mata kuliahnya dia doang yang dapet B.

Setelah membahas sedikit tentang materi yang akan dipelajari selanjutnya, gue yakin kalau gue bakalan muntah beling di setiap pertemuan. Jangankan buat dapet A, bisa dapet B aja kayaknya gue bakalan terseok-seok.

Gue sangat menyayangkan kenapa mata kuliah penting seperti Algoritma dan Kalkulus justru diampu oleh dosen yang tidak terlalu peduli dengan mahasiswanya.

“Kalau ada yang tidak mengerti, tanyakan. Kalau diam berarti kalian mengerti”

Lah, pak, kita diam karena kita bingung mau nanyain apa, semuanya nggak ngerti.

Padahal Logika Algoritma itu adalah pondasi awal yang harus dimiliki oleh seorang IT. Kenyatannya, ngambang doang gini, kayak pondasi rumah apung yang ada di laut. Termbang-abing, kayak hubunganmu sama dia, nggak tau mau dibawa kemana.

Belum apa-apa, gue udah dikasih tugas buat bikin makalah , nggak tau apa, kalau internet di pc gue udah diblock sama pabrik. Aaarrhhhh! Syaithoon!

Dari sini gue menyadari satu hal. Untungnya ketemu dosen baru adalah, pas pertemuan awal pasti bakalan kita habiskan buat perkenalan. Kan mayan.

Kalau ketemunya sama dosen lama, kejadiannya bakal kayak gini;

“Kita langsung saja ke materi yang pertama..”

“Kenalan dulu lah, pak…. ”

“Kan udah kenal..”

“Jangankan sama bapak, caranya nulis aja kita udah lupa…”

“Oh, gitu ya, yaudah, biar kalian inget caranya nulis, nanti tolong bikin makalah ini… blaa… blaaa. Blaa…”

Struktur Data
Sudah bisa dipastikan, kalau di mata kuliah ini gue bakalan dibikin mabok sama angka 0 dan 1, sama True and False.

Di semester 1 kemarin, gue bertemu dengan dosen ini di mata kuliah PTI. Agak kesel juga sih, karena metode belajar yang dia pake cara full presentasi yang dilakukan oleh mahasiswa.

Kabar baiknya, sekarang dia tidak memberikan tugas untuk presentasi lagi. Dan, kabar baik selanjutnya adalah, gue tidak dipertemukan dengan kajur gue di mata kuliah ini (e: Bu Nurasiah). Padahal, semester sebelumnya, kajur gue ngajar MK Struktur Data. Kenapa gue bilang kabar baik? Pikir- (hmm takut digampar lagi) karena kesan pertama gue waktu kali pertama ketemu kajur, adalah, Ngeri. Sejenis perasaan ngeri yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Matematika Diskrit
“Lu jangan sombong jadi orang, baru juga Aljabar, kita semua disini banyak yang udah nyelesein Kalkulus sama Matematika Diskrit” kata seseorang yang gue kenal dulu.

Gue diem.

Gue minder.

Gue tersinggung.

Waktu itu gue juga nggak tau apa itu Kalkulus dan Matematika Diskrit.

Walaupun kata-kata itu bukan ditujukan untuk gue, tapi gue merasa tertohok, karena saat itu kebetulan gue juga sedang dihadapkan sama soal Aljabar yang kampret abis.

“Yes! Akhirnya gue sekarang bisa ketemu sama kalkulus dan matematika diskrit” sorak gue dalam hati, sesaat setelah pengisian KRS.

Namun apa yang terjadi kawan-kawan? Gue teramat sangat menyesali perkataan gue tersebut.
Bayangan gue tentang Matematika Diskrit yang gue kira nggak bakal jauh beda sama Matematika pada umumnya ternyata salah.

Eh iya nggak sih? Kok gue malah disuruh belajar program php, program java, belajar pake vb, dan lain-lain. 
Jadi Matematika Diskrit itu pelajaran program? Atau bukan?
(kemudian inget tugas akhir disuruh bikin poject dari salah satu program itu)

Terangkanlahhh…
Terangkanlahhh….


PKn
MasyaAllah.. ini adalah sebuah keajaiban yang terjadi di hidup saya. Setelah 23746228311923 tahun lamanya tidak dipertemukan dengan mata pelajaran PKn, akhirnya, pada kesempatan kali ini saya bisa kembali menghapalkan pasal-pasal UUD 1945. Klik like dan ketik angka 1 di kolom komentar, lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya dosen yang ditunggupun masuk ke kelas.

“Kok saya nggak dipanggil ya, saya kan ada di ruang dosen” katanya sinis

“Anjiss! Roman-romannya horror ya ini dosen?” bisik gue sama Musa.

“Yasudah, kita mulai masuk ke materi!”

Hening seperempat detik

“Yaaah, pak, kita kan belum kenalan pak” kata anak-anak kompak, mirip paduan suara, cuma kurang dirigennya doang.

“Emang perlu ya? Belum tau nama saya?” sambil nunjukin map Absen

“Nih, nama saya…” lanjutnya lagi.

Gue kira dia itu beda dari dosen yang lain, tapi ternyata,

55 menit berlalu….

Dia masih cerita tentang dirinya,  anak-anaknya, tentang pekerjaannya dulu.

“Saya pernah jadi Camat, jadi Komandan di polri, saya pernah jadi anggota birokrat, bla..bla..bla..bla.. anak saya yang pertama dokter, yang kedua gelarnya doctor, yang ketiga, jadi perawat di rumah sakit anu, yang bungsu sekarang jadi pengacara, dia lulusan UI, nongkrongnya di anu-anu-anu…”

Di akhir cerita, dia tutup dengan.

“Seperti biasa, penilaian saya tidak jauh berbeda dengan dosen yang lain. 40% UAS, 30% UTS, 10% absensi, dan 20% Tugas..”

“Tugasnya individu atau kelompok, pak?” tanya gue.

“Tugas saya mudah ya, kalian tinggal membeli buku ini, kebetulan saya yang menulis ini…” papar dia sambil mengacung-acungkan bukunya.

“Modus, sia pak!” desis mulut salah seorang mahasiswa. 

Belakangan diketahui, kalau itu adalah mulut gue.

Coba aja ya kalau para penulis punya metode pamasaran yang jitu seperti dosen PKn gue untuk jual buku mereka.

English For Computer 
Di semester 1, sebenernya gue sudah belajar Bahasa inggris, tapi lebih ke Generalnya. Setiap kali pertemuan, kami diwajibkan untuk presentasi di depan kelas. Kami semua diberi waktu 60 detik untuk mengucapkan maksimal 20 kalimat.

Yang gue suka dari dosen ini adalah, dia tidak mewajibkan kami dibebaskan dalam hal grammar.

“Pokoknya, kalian harus ngomong pake Bahasa inggris dulu, grammarnya belakangan. Bapak yakin kalian sudah pintar dalam hal grammar. Setidaknya kalian sudah 9 tahun belajar grammar. Iya kan?”

Bener juga sih, selama ini, justru grammar yang menghambat gue untuk belajar Bahasa Inggris. Bikin ribet, jadinya malah males. Lagian, orang luar negri juga grammar-nya nggak bagus-bagus amat, malah kadang lebih berantakan dari kita.

Coba aja kalau selama 9 tahun kemarin gue lebih fokus sama belajar Bahasa Inggris tanpa dibayang-bayangi dengan grammar yang membingungkan.
mungkin sekarang...

Kayaknya sama aja sih, nggak bakal ada yang berubah.
wqwq

Mari kita tinggalkan semester 1.

“Beda dosen, beda juga cara nmengajarnya..” kata pertama yang diucapkan oleh dosen baru Bahasa inggris gue.

“Kemarin sama Pak Wahid, mungkin kalian dibebaskan dalam hal grammar, tapi tidak dikelas saya…” lanjutnya lagi.

KMVRTZ!

Padahal di krs jelas-jelas kalau Bahasa Inggris harusnya sama Pak Wahid, kenapa musti ganti dosen segala coba?

Sebelum gue ketemu sama pak Sir. Iya, namanya emang Sir. Gue juga nggak tau kenapa kok dia bisa punya nama Sir. Apa pas lahir ibunya sudah punya firasat kalau anaknya bakalan jadi dosen Bahasa Inggris? Cuman jadi awkward banget gitu pas gue manggil “Pak Sir…” (Pak Pak?), masa iya, gue mau manggil Sir doang... Atau lebih ena Sir Sir?

Nah, pak Sir ini terkenal sebagai dosen denga level ke-baper-annya yang tinggi. Gue sering denger ceritanya dari anak-anak yang pernah diajar sama dia.

Dia pernah minta mahasiswanya buat bikin semacam petisi ke FO supaya Pak Sir ini bisa ngajar di kelas mereka. Padahal, anak-anaknya sendiri seneng banget kalau nggak diajar sama dia.

Gue Rasa sih emang bener, terlebih pas dia bilang;
“Saya sebenarnya ngerasa kalau 2 sks itu masih kurang untuk mata kuliah saya. Bahkan dulu saya mau ngajar 3 sks, padahal saya dibayar untuk 2 sks saja…”

“Sabodo teuing lah, pak kuSir..
(Anjir kumisnya!!)

Program Web Design
Malam harinya, gue sempet download beberapa video-video 3gp kakek legend tentang Web Design. Bukan apa-apa, gue cuma nggak mau kelihatan terlalu polos aja di mata kuliah ini. Walaupun, ya, baru nonton semenit, gue udah nguap-nguap terus, akhirnya gue memutuskan untuk tetap lanjut nonton drama Korea sampai pagi. Keren!

Dari namanya, udah ketauan apa yang bakal gue pelajari di mata kuliah ini, yang pasti nggak bakal jauh dari ngoding, bikin web, dan ngedesign web. Kuncinya cuma satu, kita harus bisa kreatif.

Bagi yang udah nggak asing lagi sama dunia per-web-an, mungking ini jadi mata kuliah yang paling menyenangkan. Tapi bagi yang bener-bener buta sama dunia per-web-an macam gue ini, jangan ditanya deh.

Gue cuma plenggongan doang pas dosen lagi ngejelasin materinya, berasa kayak semua kata yang keluar dari mulut dosen mental gitu aja, nggak ada yang bisa terserap ke otak gue.

Sip, kayaknya gue memang salah jurusan.
“Kiri bang, saya berhenti disini aja, kayaknya udah kelewat jauh nih. Tadi kan saya mau ke pasar Pedok, kenapa jadi nyasar ke pasar Minggu?”
*kriik

Wuiiihhh kok jadi panjang banget gini ya?

Bentar… bentar, belum selesai, dikit lagi kok.

Untuk jadwal kuliah, seharusnya nggak ada masalah, kalau aja mata kuliah Web Design jadwlanya nggak bentrok sama jadwal kerja gue.

Yakali gue punya pintu kemana saja, gue keluar kerja jam setengah 3, kuliah juga mulainya setengah 3, buka pintu, langsung nyampe.

Akhirnya, mau tidak mau, gue harus nebeng di kelas lain.

Yaah..namanya nebeng, pasti jauh dari kata nyaman dong.

Ya Allah, mana ini nebengnya satu semester full, lagi.

Apa mending gue maksain diri ikut kelas sendiri ya? Tapi dengan resiko, gue pasti bakalan telat setidaknya satu jam.

12 Mar 2017

Random~

Ternyata minggu kemarin gue tidak memposting tulisan apapun…

ck.
Kadang hidup memang se-kampret ini.

Tapi, bukan Puti namanya kalau nggak punya segudang alasan untung membela diri atas kesalahan yang telah dia lakukan sendiri pada dirinya sendiri. 

Nah? Puyeng kan bacanya?

SAMA.

Minggu-minggu ini gue emang lagi sibuk banget. Walaupun katanya lagi libur kuliah, tapi kan tau sendiri kalau gue tetep kerja.

Sebenarnya, kalau aja gue mau melihat dari sisi baiknya, gue bisa mengatakan kalau gue beruntung. Karena untungnya, pas kerjaan lagi ribet-ribetnya, kuliah sedang libur. Tapi, ya gitu deh, gue lagi males mikir dari sisi yang baik. Yang jelas, badan gue sukses dibikin ringsek sama kerjaan.

DASAR KAU SAUS TAR-TAR! RAJUNGAN JELEK!! HUH!

Coba aja hari kebalikan itu benar-benar ada, mungkin gue yang akan balik ngerjain kerjaan gue, dan bikin kerjaan gue cape setengah hidup!

Gimana, tambah puyeng kan bacanya?

Apalagi gue, yang nulis.
Wqwq

Bukan cuma badan yang ringsek, gue sekarang nggak bisa bedain antara tangan gue dan pelabuhan. Liat aja nih, banyak kapal yang menepi di tangan gue ini. Selain mirip sama palabuhan, sepertinya tangan gue bisa digunakan untuk memarut kelapa juga, lho. 

Penderitaan gue semakin sempurna, karena  beberapa hari yang lalu, gue juga baru saja pindah kontrakan. Tau kan gimana capenya pindahan? Yaudah, nggak usah dibahas. Pokoknya capek banget kalau diceritain mah.

Alasan kenapa gue pindah kontrakan, karena salah satu temen gue mau nikah. Berhubung, barang-barang gue yang paling sedikit, makanya dengan perasaan tahu diri gue yang sangat besar, gue lah yang memutuskan untuk pindah.

Untung aja, kontrakan yang mau gue tempati nggak begitu jauh dari kontrakan lama gue.

Sebeloem

Sesoedah
hestek PutiYangTeroesir
Sebelum sama sesudah kok nggak ada bedanya ya?  

Anehnya, udah seminggu lebih gue menempati kontrakan baru , gue sama sekali belum pernah pupup. Padahalkan, kaatanya, kalau kita pupup di suatu tempat , itu tandanya kita betah di tempat tersebut.

Aahh, gue jadi galau nich gaes..

Tolong beri gue motivasi dong, untuk menghadapi ujian ini.

Tapi, bukan berati gue nggak pupup selama seminggu lohj ya. Gue pupunya selalu di tempat kerja.

Selain masalah pupup, gue juga punya masalah-masalh lain selama gue menempati kontrakan baru. 
- Kran air kamar mandi yang rusak, mau benerin tapi nggak bisa

- Nggak ada kulkasnya T.T
Iyalah! Kan kulkasnya punya temen gue di kontrakan lama.
Pengen beli kulkas, tapi pas inget saldo ATM... tiba-tiba gue mendengar salah satu lagunya Oppick yang seketika membuyarkan lamunan gue,
“Terangkanlahhh…terangkanlaaah…”
Belakangan diketahui, kalau ternyata temen gue lagi nonton FTV di Indos*ar.

- Kontrakannya panas
Soalnya ketutup bangunan yang lain yang lebih tinggi. Gue yang biasanya anti kipas, sekarang sama sekali nggak bisa jauh-jauh dari dia.

Yang mau bilang so sweet gue lempar batako nih! 

- Kunjungan pacar temen gue yang hampir setiap hari.
Awalnya sih gue biasa aja, tapi lama-lama kok, aduh… mereka sungguh sangat tidak ber-peri-ke-asmara-an! 

Tuhan kirim kan lah aku, kekasih yang baik hati..
yang seperti Nam Joo Hyuk,
yang seperti Park Hae Jin,
yang seperti Park Bo Gum,
yang seperti Yang Se Jong,
yang seperti Kim Woo Bin, 
yang seperti Lee Jong Seok,
yang mencintai aku, apa adaaaanyaaa......



Puti udah sehat kok, oppa. Kalau dinikahin oppa, pasti jadi sempurna.

Efek kebanyakan menghayal, gue sampai nggak ngeh, kalau ternyata beberapa hari lagi gue udah mulai kuliah.

Semester 2 tjoy…!

HAHAHAHHAHA
HAHAHA
HAHA
HA

Kuliah lagi…..

Xianjir! Mana Drama Korea lagi banyak yang bagus.
Huft :’(

Semangaat!
Walaupun umur udah bakalan nambah lagi beberapa bulan, gue nggak boleh kalah sama dedek-dedek gemes itu. Gue nggak boleh loyo..!
(Kemudian inget kalau kemaren gagal dapet IPS 4)
Loyo juga nggak apa-apa lah, namanya juga udag tua, wajar....

Gara-gara B setitik, rusak IPS sebelanga~
Tapi, nggak apa-apa, dari pada dapet D, mending B kemana-mana lah.

Jadi, kejadiannya gini..
Beberapa hari sebelum KHS dibagikan, semua nilai terlebih dulu diupload di web kampus. Mata gue tiba-tiba berkaca-kaca, ketika gue liat pengumuman nilai yang di web kampus. Berulangkali gue cek, siapa tau mata gue mines nya nambah, tapi ternyata apa yang gue lihat itu benar. Ya, gue sempet mau berhenti kuliah, pas gue tau kalau gue dapet nial D di salah satu mata kuliah.

Malu banget rasanya , apalagi semua nilai itu bisa dilihat sama semua mahasiswa. Siapa tahu calon jodoh gue ternyata ikutan lihat, dan dia tiba-tiba ilfeel setelah tau kalau gue se-bego itu.

"Jeongsincharyeo Puti, Jebal .." kata gue dalam hati.
(Sok Korea banget anjir!
oh iya, yang mau muntah, saya persilahkan)

Segera, gue kirim email perihal nilai gue itu sama dosen yang bersangkutan. Sambil menunggu balasan, gue kembali mengingat-ngingat apakah gue pernah membuat kesalahan selama UAS kemarin. Apakah gue ketahuan nyontek? tapi gue nggak nyontek kok, serius. Kalau nanya temen, iya. Apa gue tanpa sengaja telah menyinggung dosen gue itu? karena gue menyaingi kecantikannya? Tapi kan, cantik gue ini udah bawaan dari lahir.

Alhamdulillah, setelah dibikin deg-degan selama beberapa jam, akhirnya beliau membalas email gue, beliau mengatakan kalau ternyata ada salah penginputan nilai. Dan, akhirnya gue dapet nilai A untuk mata kuliah tersebut. 

Semoga aja di semester 2 gue bisa lebih baik lagi dari semester sebelumnya. 
Amiin..

Sekian postingan random dari gue, yang seperti biasa isinya ngelantur kemana-mana..

5 Feb 2017

Puti dan Teman Geblek-nya

Walaupun sedikit lebih terlambat dari kampus lain, akhirnya sekarang gue bisa mengatakan “Alhamdulillah, UAS sudah berakhir, selamat datang lib... , eh tar dulu deh? Kenapa gue harus seseneng ini? kan yang libur cuma kuliah doang, kerjanya mah masuk seperti biasa” -_-

Harusnya kamu bersyukur , Put. Masih punya pekerjaan tetap.

Eh iya, khilap.

Mau dibilang nggak kerasa, tapi nyatanya kerazza banget apa-apanya di semester awal ini. Salah satu yang paling jelas adalah, gue masih kesulitan untuk beradaptasi di lingkungan baru, teruma sama dedeq gemesh yang ciwi-ciwi. Ah, tapi ya sudah lah, mungkin feng shui-nya gue nanti di semester berikutnya.

Setidaknya sekarang gue udah rada-rada hafal nama sama muka teman sekelas gue, dan beberapa dari mereka, walaupun cuma sebagian kecil, iya keciiiil banget, adalah teman dekat gue. 

Gue sebenernya juga nggak begitu yakin sih, apakah mereka menganggap gue sebagai teman dekatnya atau bukan. Ha-ha

Mungkin karena saking seringnya duduk berdekatan sama gue, sampai akhirnya mereka nggak punya pilihan lain selain ngobrol sama gue. Ha-ha

( dari kanan ke kiri : Muhammad Ardani, Aji Kurnia Saputra, Meta Nuki Ashari, Musalim, dan istri masa depannya Park Bo Gum)

Dimulai dari yang pertama, Muhammad Ardani, gue biasa manggil dia mas Dani. Perawakannya item, gembul, gendats, gembrot, ucul banget deh pokonya. Sifatnya baik, so cool, doyan cerita, dan doyan makan. sayang banget mas Dani ini perokok addict, sampai-sampai aroma tubuhnya kecium bau rokok.

Mas Dani ini sudah menikah loh, sekarang istrinya sedang hamil anak pertama. Kalau nggak salah, sekarang usia kandungan istrinya sudah masuk usia 9 bulan, itu tandanya sebentar lagi Dani junior akan hadir ke dunia. Itu kalau anaknya cowok, kalau cewek? hmmm mungkin diganti jadi little Dina aja kali ya?
Pokoknya, semoga dilancarkan semuanya deh~

Selanjutnya, Aji Kurnia Saputra. Sebelum gue tahu usia asli Aji, gue selalu manggil dia mas Aji, tapi setelah gue tau ternyata umurnya dia dua tahun di bawah gue, gue tetep aja keukeuh  manggil dia dengan embel-embel “mas”, alasannya adalah untuk menyamarkan umur gue yang sebenarnya. 

Gue satu gugus sama Aji pas OSPEK, makanya, bisa dikatakan gue udah lumayan deket sama Aji. Gue semakin antusias sama Aji setelah tau kalau ternyata Aji ini suka baca buku. Terakhir kali gue pinjem bukunya Aji, yang sampai sekarang belum gue kembalikan, malahan baru gue baca prolognya doang. Hihi maafkeun~

Aji adalah anak yang paling sering nanyain tugas di grup whatsapp kelas, anak-anak kadang suka dibuat gregetan sama sifat visionernya Aji ini. Malahan pernah, ada satu dosen yang nyuruh kita buat nyari tau, siapa sih “Ono W Purbo” itu di google, hal semacem itu menurut Aji termasuk kedalam tugas juga.

Tipe orang kayak Aji ini temen-able banget. Soalnya, ketika  ujian, walaupun dia nggak bisa jawab peryanyaan di soal dia bakal jawab di lembar jawaban, dia nggak bakalan ganggu temennya buat nanya-nanya jawaban yang akan sangat berpotensi memancing radar pengawas.

Keliatannya emang polos, tapi tenyata mantannya udah 3 -_-, padahal gue ngarep banget dia jawab “belum pernah pacaran sama sekali” biar gue bisa ngasih dia predikat Da’ real jones.

Dan kemudian, Musalim. Awal mula gue denger nama itu, gue langsung kepikiran sama Manager gue yang namanya hampir mirip sama Musa, Markuslim, itu nama manager gue. Memiliki akhiran nama yang sama, yaitu “lim” membuat gue sempat memikirkan kemungkinan apakah mereka punya hubungan darah. Tapi, setelah gue konfirmasi ke Musanya langsung, ternyata dugaan gue salah. Jadi, niatan gue buat nyepikin Musa, resmi gue batalkan.

Musa itu orangnya rame, pake banget. Cerewetnya nau’dzubillah, ngalahin sales-sales MLM. Pokoknya, sebelum dia dapetin jawaban yang dia mau, dia nggak bakalan berhenti nanya. Mau dibentak disuruh diem kayak apa juga paling cuma jawab “ah! males lah sama Meta” setelah itu guelah yang jadi bulan-bulanannya Musa, kalau gue udah ngacangin dia lagi, dia bakalan mencecar balik Meta lagi.

Mungkin Musa itu memang punya visi “Pantang diam sebelum puas”. Puas dapet jawaban yang dia inginkan maksudnya.

Musa itu sebenernya pinter, cerdas, berkemauan keras, dan rajin. Serius loh, mungkin diantara cowok-cowok lain yang ada di kelas, Musa-lah yang paling rajin. Sayangnya, pas “action” si Musa ini suka kurang percaya diri sama kemampuannya. Tingkat rajinnya dia sama tingkat nervous-nya dia berbanding lurus

Musa juga satu-satunya orang yang selalu mau menerima pendapat gue ketika orang lain nggak setuju. Dia selalu jadi penengah ketika suasana sudah mulai nggak enak.

“iya Puti, gue sebenernya ngerti kok maksud lu….” Setelah gue mendengar ucapan Musa yang seperti itu, biasanya gue akan langsung menghentikan argumen-argumen gue.
.
“nah, iya, ngerti kan kamu…” jawab gue setelahnya.

Hmmm..
Gue jadi mikir yang aneh-aneh nih.
Jangan-jangan, arti perkataan Musa yang sebenarnya itu adalah “Eh bangke! Bisa diem nggak sih lu!” yang diperhalus menjadi “iya Puti, gue sebenernya ngerti kok maksud lu….”

Anjirrr! Kenapa telat gini ya su’udzonya.
Awas Musa! Liat aja nanti..

Yang terakhir adalah Meta Nuki Ashari.

Kalau bahas anak ini, nggak bakalan bisa kelar sampai ketujuh bola dragonball ditemukan juga.

Kesan pertama orang-orang melihat gue dan Meta adalah; dua orang, atau malah dua alien, yang kemana-mana selalu berdua, dua-duanya punya sikap masa bodo di atas rata-rata manusia normal, eh alien normal maksudnya (Set deh! Alien normal kayak gimana itu?), punya dunia sendiri yang nggak sembarangan orang bisa masuk, kurang disukai sama temen cewe, sebaliknya, sangat disukai temen-temen cowok (Meta doang, guemah kagak) #kray T.T

Meta itu, Bogel (masih dipertimbangkan apakan kata itu akan dihapus atau tidak), cantik ( 5 dari 7 dosen telah mengakuinya), pinternya udah paten, bahasa Inggrisnya jago, kalau udah kenal sama Meta, dia itu supel, tapi kalau belum kenal, beuuh… jangan ditanya,

Ya ngapain nanya, kan belum kenal, sksd banget sich~

Kalau Meta udah mulai pecicilan, dan mulai nyanyi-nyanyi nggak jelas, satu-satunya hal yang bisa gue lakukan, hanyalah pasrah.

Meta ini punya banyak kemiripan sama gue, makanya gue sama dia nyambung dalam segala hal. Cuma muka doang nih yang nggak ada mirip-miripnya sama sekali. Hiks #kray(2)

Semenjak kita berdua memutuskan untuk kuliah lagi, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus jadi partner! Partner belajar, partner makan, partner berangkat dan pulang kuliah, partner tidur di angkot, bahkan parter dalam melakukan hal kriminal di kelas…

Okelah, biar sekalian gue certain kejadian yang baru saja gue dan Meta lakukan.

Jadi gini, kalau musim ujian gini, biasanya  gue dan Meta selalu berangkat kuliah lebih awal. Tanpa terkecuali pas hari Sabtu kemarin.

Kuliah baru akan dimulai jam tiga sore, tapi gue dan Meta sudah terdampar dengan anggun di kelas jam setengah dua (ini setting waktunya siang loh ya, bukan jam setengah dua pagi buta). Maka dari itu, udah nggak kaget lagi ketika kita berdua mendapati kondisi kelas yang masih dalam keadaan gelap. Parahnya, karena mungkin hari itu kita terlalu gasik, bukan cuma ruangannya aja yang masih gelap, tapi juga kondisi kursi yang berantakan, sobekan kertas dimana-mana lengkap dengan sampah dan antek-anteknya, karena mungkin belum sempat dibersikan oleh OB. 

Gue heran, gue kira era bikin contekan atau lempar-lempar jawaban di kertas cuma berlaku bagi pelajar SD, SMP, dan SMA saja, ternyata para mahasiswa juga masih sering melakukannya. Tradisi ini memang cukup sulit untuk ditinggalkan ya, ck ck ck.

Balik lagi ke kondisi ruangan yang berantakannya hampir sama dengan kondisi hati gue, ~eaak.

Sambil membereskan kursi yang mosak-masik, bahkan sampai ada juga kursi yang njomplang
“sungguh brutal sekali pantat mereka…” batin gue.

Tiba-tiba Meta mendesah  bilang “ eh Putiiii, itu apa-aaan…” seraya memungut barang yang dia tunjuk tadi

Gue hanya merespon Meta dengan mimik muka saja dan kemudian melanjutkan untuk membereskan kursi yang lain lagi. 

Ternyata Meta menemukan sebuah pulpen di lantai.

“lumayan nih…” lanjut Meta sambil memasukan pulpen itu ke tasnya dia.

“Anjir si Meta..” guepun berdecak kagum sambil memikirkan banyak hal. “Ooooh, Meta ternyata gitu ya, keyfayn~ nemu pulpen langsung main embat aja, keyfayn~ kenapa gue nggak nemu juga ya? Kan lumayan, duh!”.

Gue berjalan ke barisan paling belakang, berharap ada pulpen-pulpen lain yang bisa gue temukan.

Setelah jalan kesana kemari, akhirnya gue memutuskan untuk menyudahi perjuangan gue mencari pulpen yang “terlantar di tinggal si pemilik”.
  
Di tengah semua keputusasaan itu, pandangan gue tiba-tiba tertuju ke sebuah kursi. Tepat di bawah kursi itu, gue melihat buntelan kecil berwarna pink. Dengan setengah berteriak, gue menunjukan temuan itu kepada Meta.

“ Memet, itu apaan ya?” kata gue sambil nunjuk-nunjuk.

“Mana?” Tanya Meta sambil memalingkan pandangannya ke arah yang gue tunjukan.

Kebetulan, benda itu tepat berada di belakang kursi yang sedang Meta duduki.

Dengan selow, Meta mengambil buntelan berwarna pink itu yang disinyalir ternyata adalah sebuah tempat pensil berwarna pink. Gue nggak sempet memikirkan hal yang aneh-aneh tentang  benda itu, misalnya seperti;  “Whoa..! Jangan-jangan itu bom!” karena tidak mungkin bom dibungkus dengan bungkusan warna pink, karena nantinya bisa menurunkan harkat dan martabat dia sebagai bom.


Tanpa menunggu aba-aba dari gue, Meta langsung membuka tempat pensil pink itu.

Setelah melihat keantusiasan Meta, hanya ada 3 kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.

Yang pertama
Setelah membukanya, kemudian mengecek isinya. Kita akan mengembalikan tempat pensil beserta isinya secara untuh ketempat semula. Dan membiarkan anak-anak lain yang menemukannya.

Yang ke dua
Setelah membukanya, kemudian mengecek isinya, kita akan mencoba mencari informasi mengenai pemilik tempat pensil ini. seperti menghubungi bagian FO untuk menanyakan kelas apa yang baru saja menempati ruangan tersebut, atau dengan mengecek flashdisk yang kebetulan ada di dalam tempat pensil itu.

Yang ketiga
Setelah membukanya, kemudian mengecek isinya, kita akan membagi dua semua barang yang ada di dalam tempat pensil itu, yaitu pulpen beserta tetekbengeknya.

Dan, ta-dah!

Hancur sudah semua kekaguman gue sama Meta. Ternyata kemungkinan ketiga lah yang terjadi selanjutnya.

Percaya nggak percaya, akhirnya gue juga manut untuk melakukan hal nista semacam itu dengan riang gembira.

“nih, kamu yang ini aja…"

“yang ini buat aku..” 

“nih flashdisknya bawa sama kamu aja, biar aku yang amanin tempat pensil ini, jangan sampai meninggalkan jejak!" kata Meta dengan mantapnya.

Gue speechless ples grogi campur takut. Speechless karena melihat Meta se-epic itu, grogi campur takut kalau-kalau ada cctv di kelas.

Setelah pembagian jatah selesai, kemudian gue sadar, kalau jatah gue ternyata isi pulpen yang tintanya hamper habis semua ditambah flashdisk yang kapasitasnya hanya 1gb.

Meta kampret!

Setelah selesai jambak-jambakan membagi jatah, gue dan Meta saling metap dan berciuman beberapa helaan nafas setelah itu, tawa kita meledak sejadi-jadinya.

Belum puas mentertawakan kelakuan lucknuct kita sendiri, tak disangka hal tak terduga lainnya kembali kita temukan. Ketika gue berniat untuk mengapus papan tulis, gue menemukan satu tempat pensil lagi, emang dasar rejeki anak sholeh (soleh dengkulmu ambles!)

Akhirnya gue dan Meta merilis tertawa ngakak jilid 2.

Dengan tergesa-gesa, kita juga membagi dua semua barang yang ada di tempat pensil itu. Kali ini barangnya tidak terlalu banyak seperti barang di tempat pensil pink sebelumnya, karena sebelumnya Meta yang mengamankan tempat pensil Pink, maka untuk tempat pensil yang kedua, guelah yang mendapat jatah mengamankannya.

Tidak lupa, gue kembali memastikan keberadaan cctv di kelas.

“pantes aja kalau ada barang ketinggalan di kelas nggak bakalan pernah balik lagi, ya Put. Soalnya banyak mahasiswa terkutuk kayak kita berdua ini. HAHAHA” ucap Meta setelah suasana kembali kondusif.

“eh,tapi siapa tau nanti kita menemukan jodoh kita di kelas, dia di temukan sedang terkulai lemas di lantai…” lanjut Meta makin ngawur.

Astaghfirulllahaladzim, kita..

“karma does exist, Ta” kata gue memberikan peringatan ke Meta.

“apaan, orang kemaren aja penggarisku ilang nggak balik lagi, ya anggep aja ini impas” jawab Meta penuh dendam.

Setelah kejadian itu gue jadi semakin percaya dengan quote “ Don’t Judge a Book by the Cover”. 

Jika dilihat dari luar, kemungkinan Meta melakukan hal-hal diluar dugaan seperti “menjarah” tempat pensil yang bukan miliknya, sangatlah kecil. Tapi nyatanya, seorang Meta mampu melakukannya dengan sangat picik! Picik sekali saudara-saudara! Kalian harus liat ekspresi Meta ketika mem-budal-budal-kan isi tempat pensil itu.

Berbeda dengan gue, walaupun diluaran terlihat seperti preman jarang mandi, kemungkinan untuk melakukan hal criminal terbilang sangat besar.

Yaiyalah, orang kayak Meta aja mungkin, apalagi gue cem gue.

Hahahaha
Hahaha
Haha

“terangkan lah… terangkan lah… jiwa yang berkabut…”
Anjir! Siapa yang lagi nonton FTV Indo siar, neh?!

Hal konyol lainnya yang pernah gue lakukan sama Meta adalah, nyanyi di angkot di sepanjang perjalanan. Dari awal naik angkot, sampai kita turun. Beruntung saat itu penumpangnya cuma gue dan Meta, jadi hanya supir angkotnya saja lah yang terdzolimi oleh suara rombeng gue dan Meta.

Ini baru satu semester, kita lihat apa yang akan dilakukan oleh gue dan Meta di semester selanjutnya.

Bonus :

lagi selca group, tiba-tiba dosen masuk. Awkward!


Aku Adalah

Puti Andini

Pengabdi Wifi Telkom...

Bagian dari

Your Lucky Number

Kategori

Cerita Sehari-hari (13) Curhat (11) Absurd (9) Throwback (7) Friendship (6) Drama Korea (5) Kesel (3) Keluarga (2) Perkenalan (2) ini apa? (2) 18+ (1) Buku (1) Ngawur (1) Ngomentarin (1)