6 Agu 2017

That X

Saat itu, kuliah umum semester satu sedang berlangsung. Hari pertama dimana gue resmi menjadi seorang mahasiswa.

Ketika gue sedang khidmat-khidmatnya megamati calon-calon teman gue untuk kurang lebih 4 tahun ke depan, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil gue.

“Mbak, boleh minta tolong fotoin kita, nga?”

Setelah yakin “mbak” yang dimaksud adalah gue, guepun bersedia menyanggupi permintaan dari cowo tersebut.

“Oke, aku hitung ya… 1…2…” 

Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya gue menghitung sampai 3, ketika mata gue menangkap sosok yang lumayan menyita perhatian gue.

Gue hanya tersenyum dan,

“3….Oke sip!” lanjut gue.

“He is so tall and hansome as hell~”

Lagu mbak Tay-tay terngiang di kepala gue secara tiba-tiba.

***

Hari pertama kuliah, gue mencoba kembali mencari sosok itu, tapi sayangnya, gue tidak menemukannya. “Barangkali kita memang beda kelas” batin gue.

Waktupun terus berjalan sebagai mana mestinya.

Sesekali gue masih mencari dia ketika gue sedang di kampus.

Beberapa bulan setelah itu, ada salah seorang mahasiswa dari kelas lain, sebut saja namanya Budi, yang meminta untuk memasukan temannya ke grup WhatsApp kelas gue. Karena gue termasuk admin di grup kelas, maka tanpa banyak tanya guepun memasukan orang tersebut.

Dan kontak itu hanya gue beri nama C.

Alasan Budi meminta untuk memasukan temannya itu ke grup kelas, adalah, mereka berniat untuk ikut mata kuliah Agama di kelas gue, itu berarti mereka harus masuk ke kelompok di kelas gue juga.

Karena gue awalnya gue cuma kenal sama Budi, akhirnya gue meminta Budi saja yang masuk di kelompok gue, sementara itu si C gue sarankan untuk masukan ke kelompok lain.

Dulu, gue dan Meta lumayan sering bikin rusuh di grup WA kelas. Kita berdua benar-benar kritis sama apa yang teman-teman lain bahas di Grup.  Kebetulan, di kelas gue memang kebanyakan anak cowo-nya, makanya terkadang bahasaan mereka suka melenceng kemana-mana, dan itu membuat gue dan Meta gerah.

“Kalian itu mahasiswa, bukan orang-orang terminal!“ Kata gue dengan kesal.

Bukan cuma bahasan mereka di grup kelas yang kadang bikin gue merasa “ Ya Allah, ini kenapa gue dapet temen-temen model mereka sih?” ada juga segelintir anak-anak yang pm gue secara personal di WhatsApp.

“Puti, kamu orangnya yang mana sih?”

“Minta foto kamu dong, Put?”

“Ganti ava WA-nya dong, biar tau Puti yang mana?”

Baca chat dari mereka aja rasanya bikin gue pengen muntah beling.

Bukan apa-apa, hanya saja gue tidak mau dianggap melakukan perbuatan tidak menyenangkan dengan mengirim foto gue yang sebenarnya masuk kedalam kategori disturbing picture. Kan dosa jadinya.

Tapi, setelah gue install aplikasi byuti ples, barulah gue berani mengganti avatar WhatsApp dengan foto gue sendiri.

#dibakarmasal

“Oh jadi, ini yang namanya, Puti…” muncul notif chat dari C.

“-___________-”
***
 
“Puti…… Aku sekelompok loh sama mas X” pekik Meta girang

“Siapa?” Tanya gue.

“Itu loh, yang kamu ceritain pas dulu kuliah umum…” papar Meta

“Hah? Serius? Oh namanya X? dia yang dari kelasnya Budi itu? Astagaaa…”

“Tau gitu dia aja yang gue masukin kekelompok gue, bukan malah Budi” lanjut gue dalam hati.

***

Obrolan gue dan Meta-pun tentang mas X semakin menjadi-jadi.

“Ya Allah, Putiiii… dia itu cool bangettttt” Meta histeris

“Kan udah ku bilang dari awal juga, Ta. Aku suka sama dia at the first sight. Makanya aku sering nyari-nyari dia di kampus. Taunya malah satu kelompok sama kamu”

“Mueheheeh..” Meta tertawa puas.

***

“Mas X itu keren banget loh Put” Kata Meta sepulang kuliah setelah dia presentasi Agama

“Kenapa emang?” tanya gue penasaran.

“Kemaren dia ngga sempet ngumpul buat bahas presentasi tadi, tapi kamu liat sendiri kan? Dia bisa lancar gitu presentasinya… aaaahhhhkkkk” jelas Meta panjang lebar.

“Pilihanku emang ngga salah kan, Ta?”

“Ahhhh dia kesayangankuu~”

“Kesayanganku juga, Ta…” gue nggak mau ngalah

“Ah iya, Mas X kesayangan kita…” 

kata Meta sambil meluk-meluk gue. Dan akhirnya kita kayak orang lesbi yang lagi pacaran di jalan.

***

Gue merasa jadi orang bego se-desa Konoha. Gimana engak, hampir tiap kali ke kampus, gue berharap bisa papasan sama mas X, ternyata gue udah punya kontak WhatsAppnya dari lama. Lebih kampretnya lagi, gue pernah beberapa kali mengabaikan chat dari dia.

Penyesalan itu memang sama kayak mahasiswa, datangnya pasti selalu terlambat.

***

“Puti… tau nggak? katanya, mas X pindah ke kelas kita…”

“Seius, Ta?”

“Iya seriuss, besok liat aja di absen kelas B”

“Ah senangnyaaaa~”

Gue dan Meta pelukan lagi di jalan macem orang Lesbi jilid II.

***

Setelah memastikan beberapa kali, ternayata memang benar, mas X pindah ke kelas gue.

Akibat kepindahan si pemicu detak jantung gue itu #eaaak #silahkan muntah

Gue jadi tidak bisa berkonsentrasi dengan baik saat jam kuliah berlangsung. Rasa-rasanya leher gue ada auto muter ke belakang -nya buat ngeliat mas X.

Bukan cuma itu aja, gue dan  Meta sering histeris macam orang yang abis dapet uang kaget 10jt kalau mas X lewat di depan kita berdua.

***

Gue dengan cara gue, dan Meta dengan caranya sediri berhasil mengungkap sedikit identitas mas X itu.

“Dia kerja di KFC, Put”

“Iya, ternayta da lulusan tahun 2010 ya, Ta”

“Kirain seumuran, hehe, tapi kok nggak ketara gitu ya”

“Orang ganteng mah bebas, Ta”

“Dia suka basket tau, Put”

“Pantes aja tinggi gitu kayak galah..”

“hahahha” ketawa bareng tanpa pelukan.

“Dia ngekost di daerah Cikupa loh, Ta…”

“Udah tau..”

“Asem!”

“Semalem aku mo nembak dia, eh malah chatku dipotong gitu aja” aku Meta.

“W-W-What!! kampret bener kamu, Ta. Nyuri start duluan”

“Ya, abisan aku gregetan banget sama dia”
“Dia suka banget memutuskan chat dengan kata “Yaudah deh…”, iya kan?”

“Nah, iya tuh bener… hahahaha”

“Orang ganteng mah bebas, Ta”

***

“Aku nggak semangat nih?”

“Kenapa?” Tanya gue

“Mas X ngga masuk” jawab Meta

“Iya, sama, udah yuk pulang aja….” gue ikutan ngawur

***

“Puti…. Mas x ngajak belajar bareng” Kata Meta tiba-tiba.

Degggg

Ada perasaan lain yang gue rasakan saat Meta mengatakan itu. Gue nggak tau kenapa tiba-tiba dada gue sakit, padahal gue nggak punya penyakit asma.

Mungkinkah ini yang dinamakan dengan gejala awal penyakit asma?

#dibakarmasal(2)

Dari awal, gue tidak berencana untuk menjadikan mas X sebagai milik gue sendiri. Gue mau berbagi dengan Meta juga. Toh, kayak gitu aja udah bisa bikin gue seneng. Tapi kenapa tiba-tiba perasaan gue sakit pas Meta bilang kalau mas X mau belajar bareng sama Meta.

Gue mulai mencari tau tentang perasaan apa yang sebenarnya gue rasakan sama mas X itu. Gue masih nggak terima kalau gue ternyata bisa jatuh cinta semudah itu.

Oke, gue emang tipe orang yang gampang suka sama seseorang, tapi ya itu cuma sebatas suka, tanpa ada niatan buat memiliki. Contohnya, gue suka sama oppa-oppa Korea. (itu beda kasus woy!)

Ya intinya, gue nggak mau kalau harus marah sama temen sendiri cuma gara-gara hal remeh kayak gitu, apalagi masalah cowo.

Gue jauh lebih lama kenal sama Meta dari pada sama mas X.

Maka dari itu, untuk mengindari terjadinya konflik yang tidak gue inginkan, gue memilih untuk mengurangi bahasan tentang mas X dengan Meta.

Gue nggak tau Meta ngerasain hal yang sama kayak gue juga atau tidak. Gue juga nggak tau tingkat sukanya dia ke mas X seperti apa, apakah lebih besar dari gue, atau biasa saja.

Tapi terkadang, hati memang tidak pernah bisa seiya sekata dengan otak.

-To be Continue......

4 Jun 2017

Gawat! Jerawat Ternyata Bisa Membuat Puasa Makruh

Bagi gue, Ramadhan kali ini sedikit berbeda dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Alasannya, karena gue bisa ikut menjalankan puasa dari hari pertama, itu artinya, sudah bisa dipastikan gue juga bisa ikut menjalankan sholat idul Fitri setelah 4 tahun absen gara-gara, you know, lah.

Tapi ada hal lain juga yang membuat gue kecewa. Gue merasa kalau Ramadhan kali ini ibadah gue cenderung menurun. Biasanya gue rajin banget ikut sholat tarawih, tapi kali ini, gue sama sekali belum pernah ikut sholat tarawih. Kalau Ramadhan sebelumnya,  gue masih suka tadzarus, sekarang.. hmmmph :'( sedih ..

Semakin gue dewasa (re: tua) gue cenderung lebih susah untuk mengontrol diri gue sendiri. Termasuk dalam hal ibadah. Dulu mah boro-boro berani nunda sholat, kalau denger adzan terus gue ketauan masih asik di depan tv, kwhnya langsung di matiin sama almarhum nenek gue. 

Apalagi kalau lagi bulan puasa kayak gini, selain dituntut harus lebih rajin lagi ibadahnya, gue juga harus bisa meninggalkan hal-hal yang dianggap bisa membatalkan atau membuat makruh puasa. Misalnya, makan (INI MAKSUDNYA APAAN YA?!), ngupil, bersihin kuping, main di air, sikat gigi, bohong, marah, nangis, muntah, berdarah, ngomongin orang, deket-deket sama temen cowo, sampai nonton tv-pun dilarang. Pokoknya, gue bener-bener menjauhi hal-hal tersebut.

Makanya, gue memilih untuk banyakin tidur kalau siang. Biar pahala puasanya nggak rontok.

Ah~ gue jadi kangen dibawelin kayak dulu lagi. Sekarang baru kerasa, hidup kalau nggak ada yang nge-bawelin jadinya ya seenaknya gini.

Kayak kemarin nih, gue merasa ragu-ragu, apakah puasa gue diterima atau enggak. Semua ini gara-gara jerawat kampret yang hinggap di wajah manis gue ini (silahkan muntah)

Nah! Baru tau kan kalau ternyata jerawat bisa bikin puasa kita makruh.

Penasaran kenapa?

Ya, kalian juga (yang punya jerawat) harus hati-hati kalau nggak ingin bernasib sama kayak gue ini.
Jadi ceritanya gini…

Gue ngga tau kesalahan apa yang pernah gue lakukan di masa lalu, sehingga gue dikirimi dua jerawat sekaligus. Sebenarnya, gue udah nggak aneh sama yang namanya jerawat, malah bisa dikatakan kalau gue udah cukup bersahabat sama mereka.

Tapi kali ini berbeda, mereka tiba-tiba muncul dipermukaan wajah gue dengan ukuran jumbo, kira-kira mungkin sebesar kacang polong.

Oh ya, maaf, gue nggak bisa upload gambarnya, karena ini termasuk ke dalam kategori disturbing picture. Jadi kalau kalian mau bilang NO PICT = HOAX, mendingan langsung japri ke gue aja, nanti gue kirimin gambarnya.

Wqwqwqwqwq

Ya, kan siapa tau kalian nggak percaya.

Jerawat kampret ini sudah mewarnai hari-hari gue selama kurang lebih dua minggu. 
Parah bats kan?! 

Makanya, gue kemana-mena lebih memilih menggunakan masker. 

Gue nggak mau membuat orang-orang berdosa sama gue karena gue yakin, ketika mereka melihat apa yang methuthuk di wajah gue ini mereka akan langsung melontarkan kata-kata  yang….  Hhhh~
Ketika di kampus-pun, gue memilih untuk tidak membuka masker gue, bahkan ketika jam kuliah sedang berlangsung. 

Malah, sempat terlintas di fikiran gue untuk menggunakan cadar.

Hari demi hari berhasil gue lewati dengan penuh penderitaan (apalagi kalau cuci muka). Tak henti-hentinya gue berdo’a agar jerawat ini bisa segera kempes dan enyah selama-lamanya dari wajah gue.

Bukannya kempes, gue malah mendapatkan satu lagi kiriman jerawat jumbo yang tumbuh di tengah-tengah dua jerawat sebelumnya. Gue nggak ngerti deh, konspirasi macam apa yang sebenarnya sedang terjadi di diri gue ini.

Harapan untuk bisa buka bersama sama gebetanpun kandas.

Loh apa hubungannya?

Ya, gue mana berani lah nunjukin komuk gue di depan gebetan , apalagi pas buka puasa, yang ada dia bakalan mual-mual duluan. Bukannya kenyang makan, malah masuk rumah sakit. Kan repot.

Duh ilaahh, ekspektasi lu diajak buka bersama sama gebetan. Pertanyaannya, emang punya gebetan?

Hehe, ini kenapa jadi bahas gebetan ya?
oke, balik lagi ke masalah jerawat.

Karena mereka sekarang bertiga, kayaknya nggak ada salahnya kalau gue menamai mereka dengan nama, acne triplet (diambil dari nama song triplet) MAKSA BANGET ANJIR!

Hari ini, seperti biasa, gue akan menyembunyikan jerawat-jerawat gue ini di balik masker. Setelah 3.8 menit gue ngorek-ngorek laci lemari, ternyata gue tidak menemukan satupun masker.  Ada sih, tapi itu masker bekas kemarin, yang aromanya sudah sedikit berubah. Gue yakin, sudah banyak bakteri juga yang menghuni masker tersebut. Kalau tetep nekat gue pakai, bisa-bisa, jerawat gue mengeluarkan jurus kagebunshin no jutsu lagi. Kan ngeri.

Ditengah semua keputusasaan itu, akhirnya gue mendapatkan sebuah ide dari bang ChanYeol di salah satu music videonya yang judulnya LOTTO.

Penampakan Chanyeol Exo
Hansaplast!
Ya, gue bisa menutupi mereka dengan hansaplast. Pikir gue.
 
Ternyata, gue lumayan cukup kere, gue juga nggak punya hansaplast.

Untungnya gue cerdas!

Walaupun gue nggak punya hansaplast, gue masih punya tetangga.

Oke, gue harus minta hansaplast ke tetangga.

Guepun bergegas menuju ke rumah tetangga sebelah.

“Ibu, maaf, punya hansaplast…” kata gue to the point setelah sampai di depan pintu rumahnya.

Kebetulan, pintu rumah si ibu itu sedang terbuka.

Dia menatap gue sebentar..
Sedetik..
Dua detik..
Tiga detik..
Si ibu malah tertidur.

YA ELAH, GUE NGGAK LAGI NGE-HIPNOTIS KELEUS!

“Sebentar… “ jawab si ibu sambil melangkah masuk kedalam rumahnya.

“Hansaplast biasa kan? mau berapa?” terdengar si ibu sedikit berteriak dari dalam.

“Satu aja bu, cukup kok…”

Si ibupun keluar membawa satu buah hansaplast.

“Perlu alkohol ngga?” tanya si ibu yang sekarang mimik mukanya berubah menjadi sedikit khawatir.

“Nggak usah bu, cuma luka sedikit doang kok..” gue berusaha menolak karena bingung.

Tepatnya gue bingung, mau jujur atau lebih baik bohong perihal kegunaan si hansaplast tersebut.

“Beneran?..” si ibu itu memastikan lagi

“Kecil banget kok lukanya…” gue meyakinkan

“Abis ngapain emang? Keiris piso?” si ibu makin kepo.

“Mmm… kejepit.. hmmmm kegores lemari. Iya, tadi lagi beres- beres, terus nggak sengaja tangannya kegores sama… Apa ya tadi, nggak tau kayu atau paku gitu…”

BENAR SEKALI!!! Akhirnya gue memutuskan untuk berbohong di bulan suci Ramadhan ini. tidak tanggung-tanggung, kali ini gue berani membohongi orang tua.

Ya lagian, si ibu pake tanya-tanya segala. Yakali gue mau bilang.

“Ini loh bu, buat nutupin jerawat…” kan aneh.

Setelah si ibu itu memberikan hansaplast, tanpa berlama-lama lagi gue langsung balik ke kontrakan gue.

Pilihan gue buat minta hansaplast kayaknya adalah kesalahan besar yang gue lakukan. Sarusnya gue beli aja dari pada harus bohong segala dan bikin puasa gue makruh.

Setelah memasang hansaplast itu di wajah gue, tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu.

“Put… Put …”
Ternyata itu suara si ibu tadi.

Gue buru-buru melepaskan hansaplast yang sudah gue tempel di wajah gue tadi.

“Kenapa bu ? ” tanya gue setelah membukakan pintu

“Ini….” kata si ibu sambil menunjukan sesuatu dia bawa di tanggannya.

Tau apa yang si ibu itu bawa?
Ternyata si ibu bawa, alkohol, kain kasa, betadine, dan plester satu roll.

Gue hampir nggak percaya sam apa yang gue lihat.

“Ayo Puti… berfikiiirrr…. Ayooo beri alasan yang masuk akal..” ucap gue dalam hati

“Ya ampun ibu… jadi ngerepotin. Lukanya cuma dikit doang kok.. beneran…”

Gue memikirkan banyak kemungkinan setelah gue mengucapkan kalimat barusan. Salah satu kemungkinan yang terburuk adalah; gimana nanti kalau si ibu terusan nanya “Mana coba liat lukanya?”

Gue nggak tau lagi deh bakalan ngasih tau alesan apa lagi. Atau mungkin aja gue bakalan jawab jujur, kalau hansaplast itu gue pake buat nutupin jerawat. Tapi nanti dia bakalan tau kalau gue udah bohongin dia.

Ya Allah, nggak lagi-lagi deh gue bohongin ibu-ibu yang tingkat kekhawatirannya di atas-rata ibu-ibu pada umumnya.

Eh, tapi kayaknya semua ibu emang gitu si yah? Gampang paniq, gampang khawatir.

Dia menatap gue sebentar.
Gue membalasnya dengan senyuman yang meyakinkan kalau gue benar-benar baik-baik saja.

“Yaudah kalau gitu, nanti bilang aja ya kalau butuh sesuatu lagi…” kata si ibu sambil pergi meninggalkan gue.

Fyuuuh….
 Untung aja ~

Gue langsung menutup pintu. Memasang kembali hansaplast di wajah gue. Dan buru-buru berangkat ke kampus, sebelum si ibu berubah fikiran lagi. Bisa-bisa dia balik lagi dan menawarkan gue sesuatu di luar dugaan gue lagi, seperti ; “Perlu ibu panggilkan ambulance?”

Lagi-lagi gue membuat wrong decision, karena nekat menempel hansaplast di wajah manis gue ini. benar saja, sesampainya di kampus, gue malah jadi pusat perhatian mahasiswa lain, tanpa terkecuali dosen gue.

“Puti, itu kenapa mukanya kok di pake-in hansaplast?”

“Abis duel sama begal, pak” jawab gue asal.

“Bohong, itu pasti jerawat ya?...”

“…..”

“Jerawat kan?”

“…..”

“ Iya kan…?”

Ingin marah, tapi inget kalau lagi puasa..

bonus :
Penampakan Suami masa depan gue, dan gue.
Reaksi pembaca :


Ya, begitulah~ 
Gara-gara jerawat setitik, makruh puasa seharian.

Sedikit saran dari gue,  supaya pahala puasa kalian tetep aman selama bulan puasa walaupun kalian jerawatan adalah ;

1. Belilah masker sebanyak-banyaknya.
2. Usahakan jangan sampai jerawatan.

Udah gitu doang.

***

Nih, hadist yang mengatakan hukum berbohong di bulan puasa :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)

***



28 Mei 2017

Minta Ganti tanggal Lahir

“Mah, dulu mamah nikah umur berapa?” Tanya gue tiba-tiba di salah satu percakapan telpon dengan ibu gue.

“Mmmm… berapa ya? Kayaknya 20 tahun deh” jawab ibu gue sedikit ragu-ragu.

“Berarti pas mamah umur 22 tahun, anak mamah udah bisa jalan ya?” tanya gue lagi.

“Iya, udah bisa makan sendiri malah.. hahaha”

“….”

Hening sesaat

“Put…” terdengar ibu gue memanggil nama gue dan membuyarkan lamunan gue.

“Mah, anakmu udah gagal nih… hahha”

“Loh? Gagal gimana?” tanya ibu gue heran.

“Lha wong mamah umur 20 tahun udah nikah, umur 22 anaknya udah bisa jalan. Lah aku? Jangankan punya anak, calaon bapaknya aja nggak tau siapa ” papar gue.

“Kirain gagal kenapa. Put, emang kamu kira rumah tangga itu enak? Masih muda kok pikirannya sempit gitu. katanya mau ngejar cita-cita dulu………”

Setelah mendapat siraman rohani selama kurang lebih setengah jam, gue memutuskan untuk menyudahi obrolan gue di telpon dengan ibu gue.

Gue merenung sejenak.

Lucu juga, kenapa tiba-tiba gue menanyakan hal itu. Padahal rasanya baru kemarin gue mengolok-ngolok seorang teman dengan kata-kata “Ngomongin nikah mulu sih, bosen dengernya”,ternyata sekarang gue sedang di posisi itu.

ternyata ini yang dinamakan kemakan omongan sendiri.

Sebenernya gue juga belum mau mikir jauh-jauh, sampai masalah nikah segala. Cuma kayaknya, alam bawah sadar gue udah terhipnotis dengan sendririnya sama lingkungan di sekitar gue, baik itu lingkungan dunia nyata maupun dunia maya.

Sebentar-sebentar, dapet undangan, pas buka medsos, liat temen-temen di kampung udah pada gendong anak semua.
Kalau dibilang iri, kayaknya bukan iri juga deh. Terus perasaan apa dong ini namanya?

Perasaan pengin nikah?

Hah!
Asem bener!

Pantesan teteh Taylor Swift bikin lagu yang judulnya 22, ternyata sensasi berumur 22 tahun ini seperti ini yah.

Betewe, hari ini, tanggal 28 May 2017 gue resmi berumur 22 tahun, loh..

Sebenenrnya belum sih, soalnya gue lahir jam 8 malem. Jadi masih beberapa jam lagi baru gue bener-bener resmi berumur 22 tahun.

Orang yang pertama kali ngucapin selamat ulang tahun ke gue adalah, diri gue sendiri.

Yang kedua adalah, bukalapak.


Yang ketiga adalah, admin Indo Hadiah.

Wohooo ^^


Yawla, gini amat hidup gue..

Gue bukan tipe orang yang suka sama hal-hal kayak : diucapin selamat ulang tahun, atau ngucapin ulang tahun sambil cipika-cipiki, dikasih kue tart sambil tiup lilin, atau sebaliknya, ngasih kue tart ke orang lain. 
Gue bukan orang yang pinter sama hal-hal macem itu.

Gue kadang suka mikir 'Kok gue nggak bisa ya foto-foto kayak yang lain pas mereka ulang tahun, terus di upload di sosmed, seru aja gitu keliatannya'

lain halnya sama gue, setelah gue ngasih kue tart atau dikasih, biasanya ada jeda sebentar, terus gue nanya;

“Ini terus mau ngapain lagi?”

“Udah, makan sepotong, abis itu lanjut tidur” Kata temen gue.

“Nggak difoto dulu nih?” tanya temen gue yang lain

“Nggak lah, ngantuk…” jawab gue

Iya, gue emang sedatar itu.

Bahkan biasanya, sebulan sebelum gue ualng tahun, gue udah berpesan sama temen kos gue.
“Pokoknya, tidak ada kue tart diantara kita..”

Tapi tetep aja, meskipun gue udah bilang gitu sama mereka, pasti gue tetep dapet kue tart. Kan gue bingung, abis tiup lilin mau ngapain. Hvft

Terlepas dari itu semua, ada sesuatu yang tidak pernah gue lewatkan ketika gue sedang ulang tahun, yaitu, insomnia. Gue juga nggak ngerti kenapa, setiap tanggal 27 Mei malam, gue pasti nggak bisa tidur, gelisah, ngak tau mikirin apa, ngarep dikasih surprice malem-malem

Kayak sekarang ini nih, gue bangun kesiangan gara-gara abis sahur gue malah tidur lagi. Untung tempat kerja gue cuma di belakang kosan gue, jadi gue bisa pake baju sambil jalan ke tempat kerja.

Gue bersyukur karena saat ini gue lagi… ehmmm apa yah namanya? Kata yang lebih manusiawi dari jomblo apaan ya?
 Ya itu lah pokonya, gue jadi nggak harus bingung nunjukin ekspresi apa pas dikasih surprise sama pacar gue. Mau nangis, tapi nggak sedih, mau terkejut, tapi kok nggak bisa, mau nunjukin ekspresi ‘soooo sweet banget siiih kamuuu thayaaang’ boro-boro.

Ini adalah 28 Mei yang ke 22 kalinya bagi gue. 28 Mei kali ini adalah 28 Mei yang sangat tenang dan membahagiakan, meskipun yang ngucapin cuma bukalapak sama admin indo-hadiah.

Kenapa gue bilang seperti itu, karena dari SMK, gue tidak pernah merasa tenang ketika gue ulang tahun. Mungkin itu adalah awal mula penyebab kenapa gue selalu insomnia ketika malam sebelum gue ulang tahun. Karena gue memikirkan nasib gue di sekolah besoknya.

Entah dari mana tradisi nyeplokin-telor-ke-temen-yang-ulang-tahun itu bemula, yang jelas, gue juga ikut terseret kedalam tradisi lucknut tersebut.

28 Mei 2011
Gue sukses jadi bantar gebang berjalan.

Pertama, gue disiram air satu jembangan besar. Lalu di lempari telor sampai kepala gue pusing. Dilanjut lagi dengan disiram air es, kemudian dibaluri denga tepung terigu. Belum puas sampai disitu, saku di baju dan rok gue diisi dengan pasir-pasir yang ada dipinggir jalan.

Gue cuma bisa pasrah, mengingat sebelumnya gue juga melakukan hal yang sama ke teman gue yang lain.

Cobaan terbesar gue selanjutnya adalah, dengan kondisi seperti itu, gue harus pulang ke rumah naik bus. Bisa dibayangkan, di sepanjang perjalanan, ada berapa banyak orang yang tersiksa karena mencium aroma tubuh gue yang sangat dahsyat itu.

28 Mei 2012
Kejadiannya hampir sama dengan kejadian tahun lalu. Hanya saja, kali ini gue berhasil melarikan diri, walaupun akhirnya ketangkep juga. Dan yaaahh… jadi bantar gebang berjalan lagi.

28 Mei 2013
Tidak ada aksi bajong-membajong saat itu, karena kebetulan hari itu adalah hari dimana gue resmi pergi merantau. Teman-teman gue yang biasnya ngerjain gue juga tidak ada satupun yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk gue. 

Ya, tepatnya mereka sedang marah sama gue.

Jangankan ucapan selamat ulang tahun, ucapan selamat tinggal saja, sama sekali tidak gue dapatkan. 

Sedih sih, tapi gue mungkin pantes didiemin sama mereka karena gue memang salah.
Mereka pantes kecewa karena gue lebih milih ikut konvoi kelulusan sekolah ketimbang menghabiskan waktu terakhir di SMK bersama mereka. Makannya, cuma gue doang yang nggak punya foto perpisahan sama temen-temen sekelas gue.

Puti nakal sih abisan.

28 Mei 2014
Ahirnya gue merasakan rasanya dikasih surprise sama pacar, ya walaupun, seperti yang udah gue jelaskan tadi, gue bingung mau ngapain setelahnya,

Jam 12 malem, pintu kosan gue digedor-gedor kenceng banget. Gue nggak kaget sama sekali, karena gue udah tau rencana si pacar dan beberapa temen gue itu. Gue tetep tidur dan nggak mau bukain pintu.

15 menit berlalu, dengan segala bujuk rayu mereka, akhirnya gue mau membukakan pintu. Ditambah, gue juga nggak enak sama tetangga-tetangga, karena mereka berisik banget tengah malem.

“Ngapain sih? Nggak lucu banget tau..” bentak gue sama si pacar

'Loh kok gue malah marah? Yaudahlah bodo amat' pikir gue.

28 Mei 2015
“Maaf ya, aku nggak bisa bikin kamu bahagia, kayaknya kita mendingan temenan aja…”
Glek..

“Putus?” tanya gue meminta kejelasan

Dia cuma tersenyum.

28 Mei 2016

28 Mei 2017
Gue kesiangan dan masuk kerja tanpa mandi.

Ha-ha-ha
Ha-ha-ha-ha
Makkk, anakmu gini amat nasibnya, tiap kali ulang tahun malah apes mulu. Boleh nggak kalau anakmu ini minta ganti tanggal lahir aja, mak?

7 Mei 2017

Queen Of Baper

Setelah gue lihat-lihat di dua postingan terakhir blog ini, nampaknya sangat jelas kalau gue mulai jarang melakukan blogwalking. Selain karena gue memang terlalu sayang sama kuota (iya, tadinya mau gue pacarin, tapi si kuota nga sayang sama gue), gue juga lagi payah banget dalam memanage waktu. Giliran ada waktu senggang, bukannya buat bw, malah….

Ya… kalian taulah gue ngapain..
Ehe.


30 Apr 2017

When You Try Your Best But You Don't Succeed

“Gue merasa kalau hal-hal baik, jarang sekali menimpa gue..”


Lagi-lagi pemikiran seperti itu muncul di benak gue yang justru malah membuat gue terlihat menjadi seseorang yang kurang bersyukur.

Tapi, ya bukan berarti gue selalu ditimpa sama hal-hal buruk juga sih, gue merasa kalau semua hal yang gue alami itu cuma hal-hal biasa doang. Jarang banget rasanya ada keajaiban yang tiba-tiba terjadi di kehidupan gue ini. Semuanya kayak…. datar aja … mirip dada gue.

Seperti kejadian yang baru saja gue alami ini.

Hari Jum’at kemarin, disela-sela jam kerja, tiba-tiba Fitroh datang menghampiri gue.

“Puti, kamu mau daftar beasiswa PPA nga?” tanya Fitroh kemudian.

“Oh? Udah ada pengumumannya?” Jawab gue dengan nada yang dibiasa-biasain.

Jujur saja, sebenernya pas gue denger kabar itu, gue girang bukan main. Gue udah nunggu kapan beasiswa PPA itu bakalan ada lagi. Gue sering bolak-balik nanya ke kajur sampai kajurnya mungkin gedek sama gue.

“Kamu rajin-rajin cek mading aja. Saya bosen tiap kali ketemu kamu pasti yang ditanyain beasiswa, sekali-kali kamu tanyain saya udah makan apa belum, pasti saya bakalan langsung jawab.. ”

Mueheheheh

Ketauan deh kalau gue ternyata ngebet banget buat dapet beasiswa.

Ya mau gimana lagi, lagian siapa sih yang nggak mau dapet beasiswa?
Gue juga nggak punya pilihan lain selain ngejar beasiswa supaya (seenggaknya) budget unruk makan bisa aman karena nggak dipake buat bayaran. Masa iya gue harus minta sama OM? Omprengan?   
Hvft.

Selain beasiswa PPA yang gue tunggu-tunggu itu, ada juga beasiswa dari yayasan yang mempunyai  perannya sama dengan beasiswa pada umumnya, yaitu digunakan untuk meringankan beban siswa. Hanya saja dari awal gue udah yakin kalau gue nggak bakalan bisa dapetin beasiswa dari yayasan itu.

Kenapa?

*tjie kepo

Alasannya, karena beasiswa dari yayasan akan diberikan secara otomatis kepada mahasiswa/i yang mempunyai IPK tertinggi di kelas, dan ya, IPK gue belum memenuhi atau bahkan tidak memenuhi persyaratan itu

Sementara itu, peryaratan utama untuk mendaftar beasiswa PPA adalah IPK minimal 3,0, maka dari itu gue merasa lebih percaya diri untuk mencobanya.

Setelah gue pulang kerja, gue memutuskan untuk ke kampus.
Harus Berangkat gasik pokoknya.. batin gue.

Sesampainya di kampus, gue mencoba untuk bertanya langsung ke kajur (lagi). Setelah melihat poin-poin persyaratan untuk pendaftaran beasiswa itu, gue optimis kalau gue bisa mengumpulkannya dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya.

Oh iya, gue belum bilang ya. Jadi, pengumuman itu di pasang hari Kamis malam tanggal 27 April, dan semua berkas untuk persyaratan pendaftaran beasiswa itu adalah hari Selasa tanggal 2 Mei.

Sengaja banget ya waktunya di mepet-mepetin.

Harusnya dengan waktu kurang lebih 5 hari itu nggak jadi masalah sih, kalau saja nggak kepotong sama hari Minggu dan tanggal merah.

Hvft (2).

Ya, ini ada….
Ini bisa….
hmmm.. ok…
Iyaa…
Gampang…

Gue melingkari setiap poin persyaratan yang menurut gue bisa gue penuhi.

“Pasti dapet, Put. Yang penting mau repot sedikit..” kata-kata dari Fitroh itu selalu terngiang-ngiang di telinga gue.

Yaaah, semuanya memang harus ada pengorbanannya…

Lalu gue kembali melihat lagi poin-poin persyaratan itu, ternyata ada beberapa yang belum gue lingkari.

Persyaratan yang seharusnya menjadi persyaratan yang paling, yaitu fotocopy kartu mahasiswa, print out data dari Forlap Dikti, data nilai sementara (DNS) dan surat keterang dari senat.

Perasaan gue mulai nggak enak ketika gue liat kilatan mata Kajur.

“Ada apa lagi?” tanya beliau.

Tau aja kalu gue mau nanya lagi.
 
“Gini bu, ada beberapa persyartan yang saya belum punya, masalahnya, itu diluar kemampuan saya”

“Loh? Maksudnya gimana?”

“Yang pertama, untuk Kartu Mahasiswa. Saya kan belum dapet bu. terus yang kedua, soal data saya di Forlap Dikti, sudah saya cek, dan sepertinya data saya belum diinput…”

“Ya berarti kamu nggak bisa ngajuin dong? Kita nggak bisa masukin berkasmu kalau datamu nggak ada di Forlap”

Gue diem, nunduk, liatin kaki gue yang cemong. Teringat beberapa jam yang lalu gue harus jalan kaki lumayan jauh ke kampus karena kejebak macet.

Puti, pasukan wani kesel

Data gue belum ada di Forlap. Salah gue, gitu? Salah temen-temen gue, gitu?

“Terus gimana dong, bu?” tanya gue meminta solusi

“Kalau untuk kartu mahasiswa masih bisa saya urusin, nanti kamu minta ke FO supaya dibuatkan kartu mahasiswa sementara. Nah, Forlapnya itu yang nggak bisa.”
“Kamu yakin udah ngecek di web? Nggak ada? Si xxx itu saya cek udah masuk kok, dia juga satu angkatan sama kamu. 2016 kan?”

Untuk memastikan ucapan gue tersebut, kami berdua akhirnya sama-sama mengecek langsung di web Dikti.

“Oh, iya nggak ada. Kok bisa yah? Berkasmu waktu pendaftaran belum lengkap barangkali, makanya nggak di input sama pihak kampus”

Ampun deh, di-su’udzon muluuuuk…

Beliau kemudian menyarankan gue untuk menemui seseorang yang bertugas menginput data mahasiswa di Forlap. Tanpa banyak tanya lagi gue pun bergegas mencari orang yang dimaksud tersebut.

“Oh iya, saya memang baru input sampai nomor 268, selebihnya memang belum saya input..” tutur beliau.

“Terus saya gimana, Pak? Bapak bisa usahain input data saya dulu nggak?” pinta gue dengan muka yang agak memble.

“Iya, nanti saya coba. Yang penting kamu kumpulin dulu berkas yang lain. Lengkapin semua, jangan sampai nggak jadi ngajuin gara-gara ini”

Gue akhirnya mengiyakan saran beliau.

Tinggal kartu mahasiswa…

Guepun mendatangi bagian FO dan meminta untuk dibuatkan kartu mahasiswa sementara.

“Nanti jam 7 malem kamu kesini lagi. Sebentar juga jadi kok” kata salah satu staffnya.

Lagi-lagi gue mengiakan dan percaya begitu saja.

Hari itu gue memang ada jadwal kuliah jam 8 malam. Tapi gue berinisiatif untuk masuk ke kelas lain (yang jam 7) supaya bisa pulang lebih awal.

Kalau jam 8 ngambil kayaknya masih keburu deh… pikir gue.

“Waduh, belum saya buatkan mba.. gimana kalau besok saja mbak kesini lagi? Sorean sekitar jam 3 ya mbak. Sekalian sama daftar nilai sementaranya nanti saya buatkan”

Gue sebenernya sudah menduga kalau kalimat itu yang bakal gue dengar.


Keesokan harinya, yaitu hari Sabtu, gue datang lagi ke Kampus.
Jadwal kuliah gue hari itu jam 16.30, tapi berhubung gue harus ngurusin hal yang belum selesai kemarin, jam 2 siang gue udah siap-siap berangkat untuk mengantisipasi kalau macet.
((KALAU MACET)

Oot sebentar
Sudah hampir 3 bulan gue berhadapan dengan yang namanya macet. Macet kali ini bukan sembarang macet, tapi bener-bener macet total, sampai kadang angkot yang gue tumpangi nggak bisa jalan sama sekali. Untuk kalian yang tinggal atau melewati jalan di daerah CIMONE-BITUNG mungkin kalian tau banget soal kemacetan ini, yang nggak tau kapan akan berakhir. Gue denger-denger katanya ini semua gara-gara penutupan gerbang tol karang tengah.

Balik lagi ke topik semula.
Gue sampai di kampus sekitar jam 4. Pertama-tama gue cari staff FO yang kemarin berjanji membuatkan gue kartu mahasiswa. 

“Mas, liat Mas X nga? Saya mau ngambil yang kemarin itu..” tanya gue pada salah sati staff FO yang lain

“Oh mas X nya lagi sibuk banget sekarang, nanti kamu kesini lagi jam 5, kayaknya sudah dibuatkan”
Gue mengiayaka lalu kemudian pergi untuk menemui orang yang menginput data di Forlap Dikti.
Sesampainya disana.

“Bawa fotocopy KTP?” tanya beliau.

Lha? Kemaren emang bilang suruh bawa fc KTP? Kok gue nggak denger.

Untung saja, gue sudah mempersiapkan hal semacam itu. Sejelek apapun foto kita di KTP, gue yakin fotocopy-an KTP sangat diperlukan untuk hal-hal semacam ini.

TERUS KORELASINYA APA, MPRET!

“Tulis NPM sama nama Ibu kandung”

Gue manut menuliskannya.

Beliau kemudian mulaimengetikan jarinya di keyboard. dan beberapa detik kemudian...

“Servernya down, jadi nggak bisa saya input sekarang..” kata beliau dengan muka datar ngalahin tembok.

KENAPA NGAK LANGSUNG DIINPUT KEMARIN PAS SAYA DATENG KESINI? KALAU MEMANG BISA LANGSUNG DIINPUT KAYAK GITU MAH, KENAPA HARUS NUNGGU BESOK SEGALA?!! KENAPA PAK? KENAPA?!!

“Oh, gitu ya pak..” jawab gue putus asa.

“Besok kamu kesini lagi deh ya..”

“Besok kan Minggu pak”

“Oh iya, yasudah hari Selasa, gimana?”

“Mepet banget, Pak, waktunya. Kalau nanti maghrib saya kesini lagi boleh, Pak? Tolong bantu cek servernya, siapa tau udah bisa..” usul gue.

“Hmmm, boleh deh..”

Gue meninggalkan ruangan beliau dengan perasan hampa. Hari itu ternyata gue udah dua kali kena PHP cowo.

Hvft (3).

Tinggal surat keteranga dari senat…

Baru saja kaki gue mau melangkah menuju ruang senat, ternyata pas gue liat jam, sudah jam 16.30. mau tidak mau, gue harus masuk ke kelas dulu.

Setengah jam berlalu, gue meminta izin untuk ke belakang sebentar. Gue berniat untuk menagih janji di FO.

Tapi kemudian gue  mendatangi ruangan senat. Kebetulan disana gue bertemu dengan ketuanya langsung. Mungkin saking banyaknya mahasiswa yang meminta surat keterangan dari senat, mereka sudah tau maksud dan tujuan gue datang menemui mereka. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjelaskan, mereka akhirnya setuju untuk membuatkan gue juga.

Setelah itu, gue kembali mendatangi FO.

“Mas x ada?” tanya gue kepada staff lain, sesampainya disana.

Dia memberikan ekspresi wajah yang mencurigakan.
Percuma-lo-nyari-dia-ha-!
Kalau dijabarkan, mungkin seperti itulah arti ekspresi wajahnya.

“Mas X ada diruangannya, di deket tangga”
Tanpa menghiraukan ekspresi wajahnya lagi, gue langsung bergegas menuju ruangan yang di maksud.

“Permisi mas, saya mau tanya yang kemarin..”kata gue to the point

“Yang kemarin apa?” dia malah balik nanya.

APA?! MINTA APA?? NGGAK INGET KALAU KEMARIN GUE KESINI MINTA APAA?!

“Kartu mahasiswa sama DNS, mas.. sudah jadi? ” mencoba untuk tersenyum walaupun ati mangkel.

Dia kemudian mengacungkan setumpuk dokumen.

“Kamu nggak liat ini? Banyak banget yang minta juga. Ada 30 lebih. Ya belum selesai lah, segini banyaknya kok..” kata dia mulai sewot

LOH?
Gue malah jadi cengo sendiri. Ini gimana sih? Gue belum punya kartu mahasiwa terus itu salah gue, gitu? Salah temen-temen gue, gitu?
Heol~

“Besok Selasa baru bisa jadi..” lanjut dia ketus.

Tanpa memberi jawaban apa-apa, guepun pergi.
Sebelum itu, gue mampir ke ruang senat dulu sebelum kembali kekelas.

“Kak, suratnya saya ambil hari Selasa sore ya..”

“Loh? Selasa pagi kan batas pengumpulannya, nanti jam 8 malem aja kamu ngambil kesini.. ” jawab salah seorang dari mereka.

Seketika semangat gue yang tadinya berapi-api, tiba-tiba langsung padam.
Gue kembali ke kelas dengan membawa harapan kosong.
Banyak banget yang gue pikirkan saat itu.

Apa gue harus nyerah aja ya? Mungkin belum rezekinya.

Apa gue lanjutin dulu sampai akhir?

Ah masa Cuma kayak gitu doing nyerah.

Tapi, kampret! gue males banget berurusan sama mereka lagi.

Ya Allah, kapan sih semuanya bakalan berjalan lancar?

Huh, kayaknya gue kurang berdo’a nih, makanya Allah belum ngasih hal baik ke gue.

Lanjut enggak, enggak lanjut.

Tau depan aja kali ya?

Ah kampret! Coddingan pake nggak running lagi!

“Woooy! Bengong mulu! Gue lagi ngomong  nggak di dengerin ” Bentak makhluk astral di sebelah gue, Musa.
“Bodo ah! Aku lagi pusing tau…”
“Nanti pulangnya bareng gue aja, gue mau ngambil buku di Meta…” ulang dia.
“hmmm..”

Akhirnya, gue memutuskan untuk pulang. Padahal, seharusnya jam 8 gue ngambil surat keterangan di senat. Tapi, yah... semangat guenya udah hilang.

Diperjalanan pulang, gue masih sibuk beradu argument dengan diri gue sendiri. Musa yang emang hobinya ngecuprus, disepanjang perjalanan cuma jadi backsound doang buat gue. Gue cuma ber-hmmm-hmmm doang, padahal gue sama sekali nggak nyimak apa yang dia omongin.

“Kakak gue, put…..”

“hmmm”
“Udah tengah malem itu…”

“hmmm”

“hahahahahha…”

“hmmm”

Setelah sampai di kontrakan, gue langsung buka laptop dan
.
;
Nonton Drama Korea.

Semoga perasaan gue bisa lebih baik setelah nonton..
\^0^/


Aku Adalah

Puti Andini

Pengabdi Wifi Telkom...

Bagian dari

Your Lucky Number

Kategori