19 Feb 2017

Kasih yang tak Sampai

Ada beberapa hal di masalalu yang sampai sekarang ini masih membebani perasaan gue. beberapa hal tersebut memang belum terselesaikan, sehingga masih menggantung sedemikian rupa dan meninggalkan sebuah pertanyaan seperti ; “Gimana jadinya kalau dulu gue…?”

Wuanjer! Pembukaannya kenapa jadi drama banget gini?
Tolong kasih Puti nasi bungkus, teman-teman!

Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, gue sudah mulai menyukai seseorang. Bisa dibilang gue adalah perempuan mata keranjang (bahkan mungkin sampai sekarang). Gue bisa dengan mudahnya menyukai seseorang yang baru saja gue kenal.
  
Yeah Puti memang SWAG dari kecil!

"Ramanda Pratama Hardiansyah.... "
Seorang anak laki-laki dengan mata bulat dan gigi kelinci maju ke depan kelas, saat ibu guru memanggil namanya untuk membagikan buku tabungan.

Tidak banyak memori yang gue ingat tentang Rama. Hal yang gue ingat hanyalah, Rama pindah sekolah saat kelas 1 SD dan kembali lagi ketika kami semua naik kelas 3. Rama adalah anak nakal yang suka bolos.

Gue tahu rumah Rama ketika gue dan teman-tenan sekelas datang ke rumahnya untuk mencoba membujuk Rama setelah rama bolos sekolah sekitar 2 minggu. 

Setelah gue tahu rumah Rama, gue semakin sering jalan lewat di jalan dekat rumah Rama, berharap saat gue lewat, gue bisa melihat Rama. Tapi sayang, gue sama sekali tidak pernah melihatnya.
 
Pukpuk  Puti

"lewat situ kan kejauhan, Put!" protes salah seorang teman gue.

"Hehe, yaudah, nanti kita ketemu di depan aja yah" jawab gue sambil ngeloyor sendiri.

Di pertengahan semester kelas 3 (lupa, waktu itu udah senester atau masih catur wulan), giliran gue yang pindah sekolah. Sama halnya dengan Rama, gue tidak lama pindah dan akhirnya kembali lagi ke sekolah lama gue. Teman-teman gue bilang, saat gue pergi, Rama sering menanyakan tentang gue, mereka bilang Rama menyukai gue dan ingin memberikan sesuatu untuk gue.

Belum lama setelah gue mendengar gosip menyenangkan itu, Rama ternyata sudah pacaran dengan orang lain.

Rama, kelas 4SD sudah pacaran.
Begitulah cinta monyet gue berakhir dengan cara yang sangat cupu.

Pernah beberapa kali gue mencoba untuk mencari Rama di Internet, namun tidak pernah berhasil. Menurut gue, hanya ada dua kemungkinan kenapa gue tidak bisa menemukam Rama ; pertama, bisa saja nama Rama yang selama ini gue ingat ternyata salah. Yang kedua, mungkin saja gue sudah menemukan Rama, tapi Rama sudah banyak berubah, sehingga gue tidak bisa mengenalinya.

Who knows?

Jika suatu saat nanti gue bisa bertemu Rama lagi, gue hanya ingin menanyakan satu hal;
"Rama, apa bener dulu Rama suka Puti?"

***

Saat gue naik kelas 5 SD, tepatnya di sekolah yang berbeda lagi. Ada satu orang murid laki-laki yang namanya paling sulit untuk gue ucapkan “Dedi Pramono”.

Sebenarnya ini adalah ulah teman-teman gue yang selalu mencice-ciyekan gue dan Dedi. Lama-kelaman gue jadi salah tingkah sendiri sampai-sampai untuk mengucapkan namanya saja gue tidak bisa.

Bisa kalian bayangkan betapa geroginya gue saat itu.

Ini kenapa gue jadi senyum-senyum sendiri anjerr!

Setelah gue lulus SD, gue kehilangan kontak semua teman-teman gue di SD, karena ya.. lagi-lagi gue pindah dan memutuskan untuk melanjutkan SMP di daerah lain.

Gue dan Dedi akhirnya bertemu kembali ketika kita berdua masuk SMK yang sama, hanya saja tidak satu kelas seperti dulu. Di SMK, gue bertemu dengan beberapa teman perempuan Dedi saat di SMP, bahkan beberapa diantaranya menjadi  teman kelas gue.

Anehnya, reaksi teman-teman SMP Dedi saat berkenalan dengan gue adalah “Oooh, ini Puti yang katanya pacarnya Dedi pas di SD itu ya?”

W-w-what? Pacar? Nyebut namanya doang aja bikin gue pengin pipis di rok.

Singkat cerita, Dedi akhirya pacaran dengan perempuan lain dan masih langgeng sampai saat ini.

Gue belum sempat memberi tahu Dedi bahwa gue pernah menyukainya (lagi) ketika gue bertemu kembali dengan Dedi di SMK.

Kok jadi sedeh gini sih. Bangque!

Dedi kecil dengan model rambut jambulnya berhasil membuat gue terpesona. Dedi yang sekarang, lebih mirip prajurit korea selatan yang sedang mengikuti wamil, dengan rambut plotos dan mata sipitnya.

Cinta monyet yang sempat besemi kembali akhirnya kandas juga.
Monyet nih dasar!



***

Degg!!

“ini orang kenapa megang tangan gue sih?..”
Di samping gue terlihat seorang anak laki-laki dengan kulit putih yang sedang cengengesan sambil mencoba buat memegang tangan gue.

“Semuanya rentangkan tangan kalian yang benar !” bentak para senior panitia MOS.

Pertama kalinya gue bertemu dengan Acep Maryono saat pembukaan acara MOS di SMP. Siapa sangka ternyata gue dan Acep ditakdirkan menjadi teman satu kelas.

Yang paling gue ingat tentang Acep adalah :
Acep adalah teman sebangku gue.
Acep sering marah karena Acep selalu mendapat peringka ke 2 gara-gara gue.
Acep tidak bisa menyebutkan “s” dengan benar.
Acep dulu sering dibilang (maaf) banci, karena Acep lebih suka bergaul bersama anak-anak perempuann.
Acep selalu marah apabila gue menulis di bukunya. Acep bilang “tulisan kamu itu jelek! Jangan nulis di buku ku” sementara Acep sendiri sangat hobi menulis di buku-buku gue.
Acep adalah musuh gue ketika jam pelajaran berlangsung.

Karena kedekatan gue dan Acep, teman-teman lain sering menyangka kalau secara diam-diam gue dan Acep berpacaran. Meskipun tuduhan mereka tidak benar, tetapi gue tidak menyangkal, kalau sebenarnya gue juga mengharapkan hal itu.

Karena merasa tidak enak dengan teman-teman, apalagi saat itu Acep sudah mempunyai seorang pacar, akhirnya gue perlahan menjauhi Acep. Kalau tidak salah ingat, gue dan Acep memang sepakat untuk membatasi diri masing-masing agar tidak sedekat sebelumnya. Akhirnya gue dan Acep benar-benar menjadi jauh.

Jujur, itu adalah sakit hati pertama yang gue rasakan.

Melihat Acep dekat dengan banyak siswa perempuan membuat gue sangat marah. Puncaknya ketika gue melihat Acep memegang tangan salah seorang kakak kelas di depan mata gue sendiri saat acara PerJuSa (Perkemahan Jum’at Sabtu) ketika api unggun sedang berlangsung.

Acep seperti telah benar-benar melupakan gue, sementara perasaan gue terhadap Acep semakin besar. 

Tidak hanya itu, saat kenaikan kelas 8, ternyata gue dan Acep berbeda kelas. Gue semakin kehilangan sosok Acep, orang yang dulu sering bersama gue.

Untuk menyembunyikan kesedihan gue, sering kali gue mengabaikan Acep apabila tidak sengaja gue berpapasan dengannya di Sekolah. Hubungan gue dan Acep semakin memburuk, sampai akhirnya gue pindah sekolah lagi. ( Tapi gue pindah sekolah bukan gara-gara Acep juga sih).

Selesai upacara 17-an(th 2008), gue memutuskan untuk berpamitan dengan semua teman-teman gue termasuk Acep. Setelah tidak bertegur sapa selama beberapa bulan (iya, gue marah nggak jelas sama Acep cuma gara-gara cemburu), gue memberanikan diri untuk menemui Acep. Dengan tangan gemetar, gue mengucapkan salam perpisahan kepada Acep dan meminta maaf atas sikap gue selama beberapa bulan kebelakang.
Jujur aku tak kuasa, Saat terakhirku genggam tanganmu.
Namun yang pasti terjadi, kita mungkin tak bersama lagi.
Bila nanti esok hari, kutemukan dirimu bahagia.
Ijinkan aku titipkan, kisah cinta kita selamanya.
- Kerispatih (Demi Cinta) menjadi lagu favorite gue selama beberapa waktu.

Setelah gue pindah ke Jakarta, entah kenapa pertemanan gue dan Acep kembali membaik. Kita sering telponan untuk sekadar menanyakan materi perlajaran.

Suatu hari, tanpa disangka tiba-tiba Acep menyatakan perasaannya sama gue lewat telpon. Acep mengajak gue untuk pacaran. Gue bahagia bukan main, ternyata cinta gue tidak bertepuk sebelah tangan.

Begonya, gue malah menolak Acep.

Mungkin ini alasan, kenapa sampai saat ini gue merasa masih ada hal yang belum selesai dengan Acep. Padahal, mungkin Acep sendiri sudah tidak ingat lagi kalau dia pernah meminta gue untuk menjadi pacarnya


***


Karena hubungan gue dan Dedi mempunyai tingkat kemustahilan yang sangat tinggi utuk bisa berlanjut kejenjang pacaran, dengan menyisakan senyum kecut,  gue putuskan untuk mengikhlaskan Dedi.


Dan, Violaa!

Tidak lama setelah itu, gue akhirnya kembali menemukan sosok laki-laki yang berhasil mencuri perhatian gue. Dia adalah teman satu kelas sepupu gue, namanya Saefur Amin.

Berbeda dengan teman-teman sepupu gue yang lain, yang sering mengganggu gue, Saefur Amin justru orang yang sangat pendiam. Dia jarang bergabung dengan teman-teman sekelasanya. Tanpa sadar,hal itu lah yang membuat gue tertarik dengan Amin.

"Kenapa sih suka sama Amin? Dia kan orangnya aneh, mending sama yang lain aja dari pada sama dia?" kata sepupu gue suatu ketika.
 
Kesalahan terbesar gue adalah, membiarkan seluruh dunia tau kalau gue menyukai Amin. Padahal mungkin hal itu malah membuat Amin jadi Ilfeel sama gue.

Meskipun begitu, Amin tidak lantas menunjukan ketidak sukaannya terhadap gue secara langsung. Dia tetap mau membalas sms gue.

Sampai suatu ketika, sepupu gue membajak hp gue untuk meng-sms Amin dan menyatakan perasaan gue. Hasilnya, gue ditolak dengan alasan Amin belum boleh pacaran sama bapaknya
.
Xianying!

Gini amat nasib gue!

Berita tentang gue dan Aminpun akhirnya menyebar dengan cepat. Parahnya, yang justru nyiyirin gue adalah kakak-kakak kelas.

Belakangan gue tahu ternyata, kakak kelas yang nyiyirin gue adalah teman-teman dari pacarnya Amin. Dan setelah kejadian ini gue sangat yakin kalau Aminlah yang menyebarkan berita penolakan dia sama gue.

Hari itu juga gue langsung datang ke kelas nya Amin. Dalam bahasa gaul, kita biasa menyebutnya dengan melabrak. Gue menemui Amin untuk mengklarifikasi bahwasanya, yang mengirimi dia sms bukanlah gue, tapi sepupu gue.

Dia tidak pernah mengatakan dia tidak menyukai gue, dia tetap berhubungan baik dengan gue, dan tanpa sepengetahuan gue, dia malah sudah berpacaran dengan orang lain. 

Sudah kena php, eh malah ditinggal jadian sama orang lain.

Seketika, gue yang awalnya sangat respect sama Amin, berubah menjadi benci setengah mati.


***
Gue baru sadar, ternyata gue tidak punya kisah kasih di sekolah. Dari SD sampai gue lulus SMK,  gue bertahan menyandang predikat sebagai jomblo yang lumayan ngenes.

Benar-benar sebuah konsistensi yang sangat warbyasak!

Demikian sekelumit kisah asmara gue yang sama sekali tidak menginspirasi, tapi gue harap ada pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman-pengalaman kurang beruntung gue. Seperti ; jangan terlalu percaya perkataan teman tentang gebetan kita dan yang paling penting, tetap waspada karena sekarang tukang php populasinya semakin banyak.

"Halah~ bilangnya di-phpin, padahal elunya aja yang gampang baper !"
- pembelaan mainstream seorang laki-laki

  38 komentar:

  1. Pertamax......

    Nice post kak puti, kk mau jadi kk aq gk? Wqwq

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini ketawanya ngapa ikutan wqwq, ya? Hm.

      Hapus
    2. mang M.Attar..modusinnya ...modus kuno banget deh ih

      Hapus
    3. ia ihhh... wqwqwqwq

      mang lembu juga modusin nih.. ia kan, serahin ke yang muda dong mang. giliran yg muda yang berkreasi di dunia permodusan.

      Hapus
    4. masih mending nggak ngetik "kakak mau jadi pacar aku enggak?"

      Hapus
    5. Kk mau jadi pacar aq nggk?.......xixixixi

      Hapus
  2. Ya Ampuun..!! Aku juga gak pernah pacaran dari SD-SMA. Kalo dari SD-SMP emang gak ada yang nembak tapi waktu SMA udah bisa ambil keputusan sendiri. Intinya waktu itu aku selalu jomlo. Whahahaa

    Tapi Put, masa iya kamu kelas 3 SD sudah suka ama temenmu? Umur segitu aku masih dimandiin sih.. Yha salam!

    BalasHapus
    Balasan
    1. buset.. masih dimandiin..

      mungkin karena faktor masih sering dimandiin itu, kamu jadi kurang dewasa. wqwq

      padahal aku aja masih minum asi sampai 4 tahun.

      Hapus
  3. aku pas esde pernah disukai adek kelas cewek, sampe si cewek itu rela lho masuk SMPku. Tapi pas pacaran, eh dianya yg grogi bin malu2 kucing jadinya putus aja gitu
    lama gak ketemu eh dia udah nikah, sendiri lagi deh gue

    btw mbak, apa penyebab pertambahan populasi PHP dewasa ini?

    #bukanpertanyaanrumusanmasalah

    BalasHapus
    Balasan
    1. masa udah smp masih malu-malu kucing, nga percay ah saya..

      mungkin global warming mas.

      Hapus
  4. Duh sedihnya, tapi dibalik kesedihan itu pasti ada "celah" jalan menuju kebahagiaan, cuma karena "celah"nya gak kelihatan jadi rada keringetan nyarinya...he.he.he...tetap semangat ya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. celah apaan tuh yang bikin keringetan. njay!
      wqwqwq

      Hapus
  5. Puti nasibmu ngenes amat sampai nangis gue bacanya..

    Jaman SD gue suka jajan tapi terhalang gak ada duit Put.

    Jaman SMP gue punya pacar tapi gak pernah jalan bareng

    Jaman SMA gue Jomblo

    Jaman kuliah masih jomblo

    Ternyata ketampanan gue semakin menurun, seperti katamu yg di komentar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nangis? nggak malu sama jambangnya mas?

      jajannnya suka sama kamu juga nga?

      kalau mau bareng ya harus pake bakyak.. wqwq

      sekarang?
      enggak jomblo dong ya tentunya...

      Hapus
  6. Bahahaha. Segitunya mat, sih, kisah lu? Yakali sampai SMK gak ada kisah kasih. :(
    Gue nggak ngerti kenapa harus ada ngelabrak segala. Jahat gitu buat gue. Klarifikasi kan bisa baik-baik. Halah.

    Btw, kok namanya PerJuSa? Gue dulu PerSaMi deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kagaaa adaa,,, hiks.
      apalagi jaman sma. aku lagi macho-machonya banget. tiap kali ada cowo yang aku suka, malah kabur duluan cowonya.
      takut, katanya.

      iya, kan jum'at sabtu.

      Hapus
  7. Pada masanya emang kayak gimana gitu. Naksir sama cewek pas masih bocah gitu~

    BalasHapus
  8. Mata keranjang?
    Matanya terbuat dari keranjang apa berbentuk keranjang
    Tapi pas abang liat kok sama. Bentuknya kayak bentuk mata
    .
    Coba dah kalo mw nyari rama pasang j potonya di tiang listrik
    Dicari orang hilang
    Gampangkan
    .
    Acep g bisa ngomong s dngan benar
    Trus dy gimana tuh ngomong s nya?
    Lah udah seneng cintanya g bertepuk tangan m acep
    Malah ditolak
    Belajr lagi sana biar pinter
    .

    BalasHapus
    Balasan
    1. rama disamain kayak promo sedot wc. jahad kamu bang..

      kayak ngomong "tsa"

      hahha, ajarin lah bang, abang kan udah pro dalam masalah percintaan.

      Hapus
  9. wah, kalau gadis cantiknya sejak kecil emang udah kodratnya disukai oleh lawanjenisnya, maka wajar jika kelas 3 SD pun jadi udah suka sama lawan jenisnya...atau bisa jadi karena emang udah bawaan lahirnya juga sih...#ehh

    BalasHapus
    Balasan
    1. lah, aku yang suka duluan mang.

      soal si Rama suka sama aku itu, kebenarannya masih simpang siur.

      Hapus
  10. wadaw sejak sd kelas 4 sudah cinta monyet :))

    salut kamu berani nyatain perasaan walaupun ujung2nya ditolak dan dibuly kakak kelas. tapi gak masalah kan? bisa pindah sekolah lagi dan lagi #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, baligh sebelum waktunya :')

      kan bukan aku yang nyatain ih..
      (jawaban karena ditolak)

      coba kalau diterima, pasti jawabnya bukan kayak gitu.

      Hapus
  11. Hai kak, salam Kenal ya. ceritanya menarik banget. kayanya kita sama deh, forever alone dari SD sampe SMP wkwk. eh tapi kita pas SMK gak sama ya! . kalau saya gak Alone lagi pas SMK hehehe *Peace .

    BalasHapus
    Balasan
    1. berati nggak sama -_-

      belajar woy...! anak sekolah dilarang pacaran, apalagi kalau suka dipamerin di depan umum.
      kesian yang jones dek. :'(

      Hapus
  12. hahaha, udah mulai merasakan penyesalan2 dengan bertanya "kenapa dulu gue".. itu rasanya... pasti flashback! pasti deh :). Senyum2 sendiri itu tanda cerita masa lalunya sangat manis untuk dikenang, walau kadang miris untuk diingat. Jomblo itu cuma masalah waktu kok.. tenang saja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kaga ada manis-manisnya inimah.

      jomblo itu masalahnya cuma satu, yaitu, nggak ada yang mau.
      jangan salahin waktu.

      Hapus
  13. wah intinya flasback tentang cimon yeee :D

    BalasHapus
  14. oh Acep, marah nggk jelas menurut gue sih cemburu, itu biasa terjadi karena ada rasa yang beda gitu
    hehe

    BalasHapus
  15. lucu juga ka kisah cinta monyet nya hehe
    salam kenal ya ka puti ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ketawanya masa cuma "hehe"doang..

      iya, salam kenal juga..

      Hapus
  16. Sungguh kisah cinta yang tidak ambivalen.

    Kayaknya dari dulu. Di zaman smp sampai smk itu metode melabrak irang dengan cara mendatangi ke kelas korban dan teriak2 ga jelas itu udah menjadi budaya ya. Di sekolah gue juga sering tuh ada labrak2an. Seru, heboh, ada yg sampe bedarah2 pula. E& pokoknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku nggak teriak-teriak nggak jelas oiii.
      teriakanku jelas dan nyaring, cetar membahana..

      Hapus
  17. kalo kita ngerasain catur wulan berarti kita udah agak dewasa dikit mba, wqwqwqwq

    ntar gak kerasa udah tua deh.

    salam kenal mba puti dari blogger depok

    BalasHapus
    Balasan
    1. uhuk. tua gitu ya maksudnya. wqwq

      salam kneal juga mas pai... :)

      Hapus

Tinggalin jejak dulu ya sebelum close tab,.. ^0^
Biar bisa dikunjungin balik \m/

Aku Adalah

Puti Andini

Pengabdi Wifi Telkom...

Bagian dari

Your Lucky Number

Kategori