16 Apr 2017

[Maksa Cerita] Tunnel

Annyeong haseyo~

Kembali lagi bersama gue, calon istri masa depannya Park Bo Gum yang sekarang kebetulan sedang menyandang status sebagai pacar resminya Nam Joo Hyuk sekaligus gebetannya Park Hae Jin, dan belum lama ini, gue baru saja mengakhiri hubungan gue dengan Lee Min Ho (padahal Lee Min Ho bersikeras ngga mau putus sama gue, loh).

Semua ini karena gue kasian sama mBae Suzy, yaa, sesama cewee, gue ngerti banget lah gimana perasaan mBae Suzy ini. Gue tau kok gimana rasanya digantungin gitu aja sama gebetan.

Hvft,

Pukpuk mBae Suzy...

RIP yang ngedit. V:

Loh?! Mau kemana? Jangan close tab dulu... 
Jangan pokoknya!

Soalnya sekarang gue mau maksa cerita lagi nih, dan nggak mau tau, pokoknya kalian harus baca…..

Kalau tetep enggak mau….

Mmmm

Ya nggak apa-apa juga sih...

Tapi kalau nanti kalian lagi bawa motor/mobil, terus remnya mendadak blong, itu berarti ulah gue, ya..

ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ....!!!  (ketawa anaq hitz Korea)

Kali ini gue akan menceritakan sebuah drama Korea yang sekarang ini sedang tayang di Korea. Yaitu Tunnel.


Drama yang berjudul Tunnel/터널/Terowongan ini mengisahkan seorang detektif yang terlempar ke masa modern. Drama ini memiliki 3 pemeran utama, mereka adalah Choi Jin Hyuk yang baru saja keluar dari Wajib Militernya, lalu kemudian pemain base ball yang dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini sudah menjadi aktor yang dibilang lumayan laris ngalahin tante Anggi, yaitu Yoon Hyun Min, dan yang terakhir, untuk pemeran utama wanita diperankan oleh aktris cantek yang bernama Lee Yoo Young.

Choi Jin Hyuk, Lee Yoo Young, Yoon Hyun Min

Drama ini akan ditayangkan di saluran televisi OCN, Korea, mulai tanggal 18 Maret sampai 7 Mei 2017 (kalau tidak ada perubahan) setiap Sabtu dan Minggu pk 22.00 WKS. Drama ini diperkirakan mempunyai  total 16 episode dengan genre detective, crime, thriller, fantasy yang sayang banget kalau sampai gue lewatkan.

Drama Tunnel adalah drama yang menggantikan drama ‘Voice’, maka dari itu tidak heran kalau gue merasa ada sedikit kemiripan antara drama Voice dan Tunnel ini. Namanya juga satu rumah produksi, ya kan?

Kalau dibandingkan dengan drama Voice, menurut gue, Tunnel itu jalan ceritanya lebih mudah untuk diikuti. Tunnel tidak seperti  Voice yang adegannya 80% adalah adegan kekerasan, bahkan Voice juga sempat  mendapat teguran dari KPK (komisi Penyiaran Korea).

Gimana nggak ditegor, lha wong tiap episodenya berdarah-darah gitu, kok. Gue aja sampai sekarang masih bimbang mau lanjut nonton sampai apa enggak. Mau nonton tapi takut nanti nggak doyan makan, nggak nonton tapi gue pengen liat suami tua gue, aa Yesung. Ah!

Drama‘Tunnel’ ini sendiri disutradarai oleh Kim Kyung Chul dan juga Kim Sung Min. Sementara untuk penulis naskahnya adalah Lee Eun Mi. Selain ketiga pemeran utama yang sudah gue sebutkan di atas drama ini juga dibintangi oleh pemeran pendukung lainnya seperti, N ( Park Kwang Ho 1988), Lee Shi Ah (pemeran istri Kwang Ho 1986), Kang Ki Young (Song Min Ah), Kim Dong Young (Sung Shik muda), Joo Hee Bong (Sung Shik dewasa), dan Kim Byung Chul.

Sinopsis Singkat Drama Kore Tunnel

Pada tahun 1986, Park Kwang Ho (Choi Jin Hyuk) seorang detektif yang tengah dihadapkan dengan sebuah kasus pembunuhan berantai yang sudah merenggut banyak nyawa. Para korban pembunuhan tersebut adalah para perempuan muda berkisar usia 20-30 tahun.

Setelah melakukan pencarian si pembunuh yang memakan waktu cukup lama, akhirnya Park Kwang Ho berhasil menemukan tempat persembunyian pembunuh itu, tepatnya di sebuah terowongan. Ketika sedang berusaha mengejar pembunuh itu, Park Kwang Ho justru diserang oleh pembunuh tersebut sampai dia tidak sadarkan diri.

Beberapa saat setelah itu, akhirnya Park Kwang Ho sadarkan diri. Sambil mencari penjahat yang telah dia kejar sebelumnya, Park Kwang Ho berjalan di dalam terowongan itu. Setelah sampai di luar terowongan, ternyata, dunia yang ada dihadapan Park Kwang Ho saat itu sudah tidak sama lagi dengan dunia yang dia tinggali sebelum dia diserang oleh pembunuh tadi. Park Kwang Ho ada di tahun 2016, yang artinya, dia telah melintasi waktu selama 30 tahun.

Ketika Park Kwang Ho keluar dari terowongan itu, sebenarnya dia belum sadar kalau dunianya sudah berbeda. Dia kemudian berjalan menuju ke kantor polisi tempat dia bekerja. Saat sedang menyebrang jalan, Park Kwang Ho hampir tertabrak oleh mobil yang  dikendarai oleh seseorang yang nantinya akan sangat berpengaruh bagi hidup Park Kwang Ho. Dia adalah Park Kwang Ho yang lahir di tahun 1988.


Park Kwang Ho (1988) adalah seorang Kopral yang baru saja akan di pindah tugaskan ke kantor polisi Hwayang. Namun tidak ada yang mengetahui, kalau ternyata dia sedang diburu oleh seseorang.

Kesalahpahaman pun muncul, ketika Park Kwang Ho (dari 1986) datang ke Kantor polisi Hwayang. Orang-orang mengira bahwa dia adalah Park Kwang Ho (1988), kecuali salah seorang dari mereka, yaitu Kim Sung Shik, ketua team mereka yang mengenali wajah Park Kwang Ho, karena dulu Kim Sung Shik adalah bawahan Park Kwang Ho (tahun 1986).
 

Park Kwang Ho harus menerima nasibnya yaang kini terdampar di tahun 2016. Dia kehilangan semuanya, termasuk istrinya yang tertinggal di tahun 1986.

Sambil mencari cara agar dia bisa kembali lagi ke tahun 1986, karena tidak punya pilihan lain Park Kwang Ho pun memutuskan untuk memakai identidas Park Kwang Ho (1988) agar dia tidak dicurigai orang-orang.

Park Kwang Ho kemudian menjadi partner Kim Sun Jae (Yoon Hyun Min). Kim Sun Jae adalah seorang letnan yang selalu terobsesi untuk menangkap seorang penjahat. Mereka berdua dicap sebagai partner sinting sekaligus menakutkan, karena mereka tidak pernah akur dan sangat tempramental.

BRomance detected nih.. kira-kira bakalan nyaingin the dumb and the dumber ahjussi goblin sama malaikat maut, nggak ya?
Shin Jae Yi (Lee Yoo Young) kemudian hadir ditengah-tengah mereka berdua. Karena dari kecil  Shin Jae Yi sangat menyukai hal-hal yang berbau kriminal, maka dari itu, dia mempelajari psikologis tentang seorang kriminal. Berkat keahliannya itu, BRomance sinting, Park Kwang Ho dan Kim Sun Jae, banyak terbantu olehnya.

Setiap kasus yang mereka bertiga tangani, lama kelamaan mengerucut ke kasus pembunuhan berantai yang sedang diselidiki oleh Park Kwang Ho di tahun 1986. Termasuk keberadaan Park Kwang Ho asli yang tidak diketahui. Seolah semua sudah diatur sedemikian rupa. Ketika Park Kwang Ho dari masa lalu datang, tiba-tiba Park Kwang Ho di masa depan menghilang begitu saja. Demikian juga tentang keberadaan si pembunuh berantai yang kemungkinan besar ikut terbawa ke tahun 2016.

Komentar gue tentang Dram Tunnel

ASDSDHFDKJDGNDFNGDFJBVD!!!
Anjir! Gue penasaran banget sama drama ini, kampret! Hih!

Di setiap episode drama ini menceritakan tiap kasus yang berbeda, yang bikin gue mendesah “owh gawd! Kok bisa kepikiran sampe kesitu ya?”

Cerita tentang detective dan thriller yang sangat kental tidak membuat drama ini  menyeramkan, karena diselingi dengan bumbu komedi juga.

Kayak misalkan pas pertama kali Park Kwang Ho sadar kalau dia ada di tahun 2016. Dia nggak tau hal-hal yang berbau-bau modern, dia nggak tau smartphone itu apa? internet itu apa? dia nggak tau gps, dia nggak tau cctv, dia nggak tau komputer. Park Kwang Ho hidup di zaman, dimana laporan masih diketik dengan menggunakan mesin ketik. Dia harus banyak menyesuaikan diri dengan teknologi modern yang digunakan dalam setiap menangani kasus.

Atau adegan dia sama bawahannya dulu, dimana di tahun 2016, bawahannya malah menjadi atasan Kwang Ho. Sung Shik jadi dilema, mau manggil Sunbae, atau manggil nama doang. Karena dilihat dari penampilan, usia Sung Sik jauh lebih tua dibandingkan Kwang Ho.


“Oh, bagai mana cara memasukan foto kedalam benda itu”.
Sambil hpnya digetok-getok

Kalau  kisah cintanya, hmmm gue sih yakin banget kalau Sun Jae naksir sama Prof Shin Jae Yi. Tapi, itu juga cuma sedikit banget diceritainnya. Jadi nggak bakalan bisa bikin kalian bilang “ah cinta-cintaan muluk”

Saat gue nulis postingan ini, drama ini baru tayang 6 episode saja. Kebayang kan gimana penasarannya gue.

Saking penasarannya, gue sampai punya asumsi sendiri perihal drama ini.

Yang pertama
Gue menduga kalau Prof Shin Jae Yi adalah anaknya Park Kwang Ho (dari tahun 1986), kalau nggak salah baca subtitle, istrinya Park Kwang Ho itu lagi hamil muda pas ditinggal sama Park Kwang Ho. Karena biar bagaimanapun, Park Kwang Ho sudah pergi selama 30 tahun. Walaupun disitu diceritakan kalau orang tua Prof Shin Jae Yi sudah meninggal gara-gara kebakaran dan kemudian dia diadopsi pas umur 15 tahun.

Anehnya, sampai Prof Shin Jae Yi dewasa, dia nggak pernah lihat jenazah ibunya, dan kasus kebakaran itu ditutup begitu saja. Hmmm

Belum lagi, Pas Park Kwang Ho nyari identitas Istrinya di tahun 2016 tapi nggak ketemu, malah justru nggak terdaftar sama sekali di Kantor kependudukan, gue curiga kalau ada hal besar yang terjadi dalam kurun waktu 30 tahun itu (bagi Kwang Ho mungkin satu malam). We’ll see..

Ke dua.
Kim Sun Jae adalah anak tentara, yang 30 tahun lalu istrinya ditemukan tewas sama Park Kwang Ho.

Ke tiga.
Si pembunuh berantai tahun 1986, bisa melakukan perjalanan waktu juga. Disini gue malah mencurigai dokter forensic yang selalu meng-autopsi para jenazah korban pembunuhan.

Ke empat.
Park Kwang Ho (1988) sudah mati dibunuh pembunuh berantai itu. Bisa jadi, pembunuh cuma tau nama Park Kwang Ho tapi nggak tau wajah Park Kwang Ho. Soalnya mereka juga ketemunya di lorong terowongan yang gelap. Baik si pembunuh ataupun Park Kwang Ho, masing-masing tidak bisa saling melihat wajah. Jadi pas dia ketemu sama Park Kwang Ho di tahun 2016, dia mengira kalau itu adalah Park Kwang Ho yang dia cari.

Kalau pembunuhnya beneran bisa melakukan perjalanan waktu, berarti drama ini mirip drama W. Soalnya sama-sama bisa keluar masuk dimensi berbeda.

Hmmmm.

Lanjoot

Ke lima.
 
kemuingkinan Park Kwang Ho nggak bisa balik lagi ke tahun 1986 deh, kalaupun bisa balik, mungkin cuma sebentar. Abis itu menetap di tahun 2016.

Ke enam. 
Gue sangat yakin seyakin yakinnya orang yakin, kalau kalian nggak baca semua tulisan gue. Hayolo ngaku!

Dahlahya~
Bukan kalian aja kok yang cape baca postingan gue yang tulisannya awut-awutan ini, soalnya gue yang nulis juga tangannya ngerasa pegel sakpole.

Pokoknya, gue sangat merekomendasikan drama Korea ini. Ceritanya nggak lebay kok! Gue jamin deh. Genrenya emang fantasy, tapi banyak banget pesan moral yang bisa kita ambil dari cerita ini. Intinya tuh kayak; ya memang drama ini menceritakan tentang perjalanan waktu yang nggak mungkin banget ada di dunia nyata, tapi cerita soal kesetiaan, perjuangan, kerja sama, tanggung jawab, cara untuk menghadapi trauma, itu bukan cerita fantasy, kan?


Another story

Gue sebenernya kasian sama N, tokoh yang memerankan Park Kwang Ho 1988. Adegannya cuma sedikit, pas dishoot kamera pas mukanya cemong-cemong gitu, nggak ada dialognya pula. Eh, ketemu-ketemu udah mati gitu aja, boro-boro bisa dialog. Dapet kesempatan buat pamer abs, cuma beberapa detik doang, abis itu perutnya malah bedah karena mau diautopsi. Nasibmuu ya, eN....
wqwqwq



9 Apr 2017

Cerita tentang DDP

Setelah hidup selama hampir 22 tahun, akhirnya gue merasakan bahwa ternyata hidup gue juga bisa berguna untuk orang lain.

*standing applause please..

Muhahaha

Sudah sejak lama gue ingin melakukan donor darah, dan baru kali ini gue berhasil mewujudkannya. Sesaat setelah gue keluar dari gedung PMI, gue merasakan kebahagiaan yang tiada terkira, berbeda dengan teman gue yang terlihat seperti kurang darah (yakali abis donor darah terus jadi kurang darah -_-). Gue justru sangat bersemangat sampai-sampai gue pengin koprol keliling parkiran. Gue merasa kalau gue sudah jadi pahlawan untuk kehidupan seseorang di luar sana. Andai saja gue bisa melakukan sayembara seperti:

“Siapapun yang menerima darah gue nanti, kalau dia laki-laki maka akan gue jadikan suami, dan apabila yang menerima darah gue adalah perempuan, maka perempuan itu harus mempunyai saudara laki-laki yang nantinya akan dijadikan suami gue…”

Ntaps jiwa!

Seperti yang gue katakan, gue memang sudah memendam hasrat ingin melakukan donor darah sejak lama. Selain karena ingin menolong sesama, tujuan utama gue yang sebenernya adalah, gue sangat ingin mengetahui golongan darah gue.

Ha-ha-ha-ha

Puti. 22tahun, belum mengetahui golongan darahnya sendiri

Gara-gara gue tidak tahu golongan darah gue itu apa, gue sering kali mengosongkan pertanyaan di sebuah formulir yang mengharuskan gue untuk mengisi golongan darah gue. Atau kadang, kalau misalkan harus banget diisi, biasanya bakal gue isi asal-asalan (hehe maafkeun~). Kadang-kadang gue isi O, atau AB, atau malah darah suci. 

Dan sepertinya memang gue sudah punya firasat kalau golongan darah gue adalah O, soalnya pas kemarin dicek, golongan darah gue mamang benar-benar O.

Puti Daebak!
Puti Jjang!

*koprolkelilingBlog

Selain masalah pengisian folmulir, ada juga masalah lain yang selama ini sangat membebani batin gue karena ketidaktahuan gue tentang golongan darah gue sendiri. Masalah itu adalah, gue nggak bisa baca artikel tentang sifat-seseorang-berdasarkan-golongan-darah.

Syedih rasanya.

Jadi selama ini gue tetap bertahan membaca ramalan bintang doang.

Hvft.

Balik lagi ke masalah donor darah. Gue dan ketiga teman gue yang lain, yaitu Mba Anis, Iswati, dan Isti sepakat untuk pergi ke PMI di daerah Curug, Tangerang, dengan menggunakan Grab, kebetulan juga, hari itu gue ada jadwal kuliah, dan lokasi PMI tersebut memang tidak jauh dari kampus.

"Habis donor langsung kuliah..." fikir gue

Belum apa-apa, mba Anis yang notaben-nya adalah orang yang selfie-addict sudah mewanti-wanti gue.
“Puti, nanti aku dicandid ya…”


Sementara gue sedang sibuk ngurusin kode promo Grab, mereka dengan tidak tahu malu malah selfie di dalem mobil.
ah, elah, punggung gue ngga fotogenik banget woy! :')

Sesampainya disana, kami berempat disambut oleh gerombolan bapak-bapak yang lagi rumpi-rumpi nggak ganteng

"Dek mau kemana?..." dengan tatapan tidak bersahabat

"Anu pak, mau donor darah..."

Seketika wajah bapak-bapak itupun berubah menjadi sedikit bersahabat.

"Oh ya, silahkan, langsung masuk saja ya..." menunjuk pintu masuk.

Gedung PMI saat itu kebetulan sedang sepi, jadi suara percakapan gue dan teman-teman gue yang sebenernya cuma bisik-bisik doang menjadi terdengar sangat keras karena gema.

"Ini kita terus ngapain?" tanya gue bingung.

"Ngisi formulir dulu mbak.." jawab Isti

"Lah aku nggak bawa ktp weeh..."  Kata iswati polos.

Kami semua memandang iswati dengan tatapan yakali-Is-kita-mau-daftar-pemilu.

hening sesaat lalu terdengar percakapan lainnya.

"Iswati, nanti candid aku ya,,," pinta mba Anis

"Aku juga pokonya..."  Isti nggak mau kalah.

Kini giliran gue dan Iswati yang saling menatap.

Akhirnya setelah semua percakpan tidak berfaedah itu, kami memutuskan untuk mengisi formulir..... sambil candid.

bangqe.

Mba yang jilbab merah itu nggak bisa akting dikit kali ya, kalau senyum-senyum gitu nanti nggak keliatan kalau lagi dicandid.

Auto Tidak pokoknya.
Setelah selesai mengisi formulir, kami berempat masuk ketempat registrasi. Disana sudah ada petugas PMI yang nantinya akan menginput data kita, apabila kita belum terdaftar, mengecek apakan HB kita cukup untuk melakukan donor darah, memeriksa tensi kita dan tentunya hal yang gue tunggu yaitu, memeriksa golongan darah kita. 

#flashback, 6 Jam sebelum donor.

"Mba Put, nanti kalau aku nggakbisa donor gimana ya? soalnya itu ku takut kurang gara-gara jarang makan sayur.." kata Iswati khawatir,

"Itu? itu apa? oh iya, BH ya?" jawab gue sotoy.

"Kok BH sih? HB kali mbak Put.... #@%$&%##%*####$^&*&)(...."

"Muahahahaha, aku lupa, serius!"

Yang pertama melakukan pemeriksaan adalah mba Anis. Sambil memeriksa, petugas itu juga menanyakan banyak hal seperti.

"Tidur cukup?"

"Sedang haid?" 

"Sedang mengkonsumsi obat?"

"Punya alergi?"

Mba Anis cuma ngangguk-ngangguk sama geleng-geleng doang persis kayak personil band Projectpop yang lagi manggung.

"leng geleng geleng geleng geleng geleng geleng...
guk angguk-angguk angguk angguk guk..."

Akhirnya gue mengetahui satu hal, kalau ternyata bukan cuma gue doang yang belum memngetahui golongan darahnya sendiri, tapi Mba Anis dan Iswati juga sama-sama belum tahu golongan darah mereka masing-masing.

Setelah pengecekan selesai, akhirnya mba Anis divonis tidak bisa melakukan donor darah karena darah dia adalah darah suci.

Bohong ding. 

Mba Anis nggak bisa donor karena apa yang Iswati khawatirkan sebelumnya terjadi sama mba Anis, yaitu, HBnya kurang. HB mba Anis hanya 12.5 saja, sedangkan syarat untuk melakukan donor darah HB harus diatas 12.5. 

"Berat badan nggak mempengaruhi HB ya, mas?" tanya gue penasaran.

"Enggak, HB ini pengaruhnya sama makanan, kita harus makan banyak sayuran sama kacang-kacangan"

"Kalau kurang tidur?"

 "Bisa juga sih..."

Gue kemudian teringat kalau malamnya gue baru tidur setelah jam setengah dua pagi, gue mungkin sering makan kacang-kacangan tapi jadwal tidur gue yang acak-acakan bisa membuat gue terancam gagal donor lagi.

Dari pada penasaran, gue akhirnya meminta untuk langsung dites.

Pertanyaan pertanyaan yang sama dari petugas PMI yang sebelumnya ditanyakan ke Mbak Anis, kembali ditanyakan ke gue.

"Tidur cukup..?"

Gue diem sesaat dan berfikir "Yeah, berbohong demi kebaikan itu nggak apa-apa kok"

"Cukup banget... saya tidur jam berapa ya, sore banget deh pokoknya, mas.."

Tensi gue lumayan tinggi, yaitu sekitar, 130, tapi itu masih normal, kok.

HB gue juga lolos, karena mencapai 12.9, ini semua berkat bubur kacang ijo semalam.

Itu artinya, gue bisa melakukan donor darah.

Tjie, akhirnya ada yang mau megang tangannya.
A-sa!!

Dilanjutkan dengan Isti, yang juga lolo, lalu kemudian Iswati. Sayang sekali Iswati tidak lolos karena tensi dia yang rendah, yaitu dibawah 110.

"Ini anak penyabar banget kayaknya.." batin gue.

Kami semua digiring menuju padang Mashar tempat dimana gue dan Isti akan menyerahkan sekantong darah kami berdua. Antara grogi dan antusias bercampur menjadi satu. Gue sama sekali tidak merasa takut, hanya saja, gue tidak berani untuk melihat jarum suntik yang digunakan untuk menyedot darah gue. Ngilu banget rasanya, liat jarum segede gitu.

Untuk merileks-kan pikiran gue, gue mulai menanyakan banyak hal sama si petugas PMI. salah satunya adalah:

"Mas, sakitan diputusin pas lagi sayang-sayangnya atau ditusuk jarum itu?"

Teman-teman gue malah histeris sendiri mendengar pertanyaan gue.

Demi menjaga situasi agar tetap kondusif, gue akhirnya menggani pertanyaan gue yang lebih berbobot. seperti :

"Manurut mas, darah suci itu golongan darahnya apa, ya?"

Masnya cuma diem, senyum, sambil nahan emosi. Mungkin saat itu dia berfikir untuk menyedot darah gue sampai habis, supaya gue nggak berisik. 

10 menit berlalu, kantong darah gue tidak kunjung terisi penuh, gue juga melihat kalau darah gue warnanya hampir hitam. Kata mas-mas petugasnya, itukarena gue kurang minum air putih.

Ya iya lah, orang gue kalau aus minumnya air bening -_-

Mas-mas Petugas itu lalu memberikan gue sebuah bola kecil, teksturnya lumayan kenyal, kemudian dia meminta gue untuk meremas-remasnya secara perlahan.

"Mba, kalau takut bilang aja, janga tegang..."

Kalimat mas-mas petugas itu langsung menohok harga diri gue.

Akhirnya ketahuan juga kalau gue sebenernya takut setengah mampus.

Karena gue terlalu tegang, akibatnya sampai sekarang postingan ini gue publish, tangan gue masih kerasa banget sakitnya.

Sial.

Meskipun begitu, gue sama sekali tidak kapok untuk kembali mendonorkan darah gue lagi. Setelah tiga bulan, gue akan berjanji akan kembali lagi untuk mengunjungi mas-mas petugas PMI.

Perlahan tapi pasti, akhirnya kantung darah gue terisi penuh. Gue menatap takjub kantung itu.

"Darahku, kau harus berguna bagi orang lain ya..." 


Begitulah cerita tentang Donor Darah Pertama gue.
Semoga nanti gue bisa cerita lagi tentang Donor Darah ke-Dua dan seterusnya.

2 Apr 2017

Lagu dan Permaian Yang Menemani Gue Tumbuh

Hampir semua orang sepakat, bahwa anak yang lahir di tahun 1990-2000 adalah anak-anak dengan masa kecil yang paling bahagia. Dimana di masa itu, kita masih belum terpengaruh dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini. Anak-anak jaman sekarang lebih sering menghabiskan waktu dengan duduk sambil main gadget. Berbeda dengan kita (anak 90-an) dulu, kita adalah anak-anak  yang sangat aktif bahkan gue mungkin termasuk anak yang aktifnya kebangetan

Oke, dari pada ngomongin “kita”, takutnya gue nanti malah jadi baper sendiri (you know, laahh…) lebih baik gue ngomongin diri gue sendiri sebagai anak 90-an yang mempunyai masa kecil nan ceria dan bahagia.

Seperti yang sudah gue katakan sebelumnya, gue adalah anak yang lumayan hyperaktif. Gue cenderung lebih suka main keluar rumah dari pada main di dalam rumah (main boneka misalnya).

Ada begitu banyak hal yang bisa gue lakukan diluar rumah, apalagi dulu gue memang tinggal di Desa. Apapun bisa dijadikan permainan, yah, bisa dikatakan sarana dan prasarana permainan di Desa itu udah memenuhi SNA (Standar Nasional Alam).

Ngomongin masalah permainan jaman gue kecil dulu, gue jadi inget satu hal, hampir semua permainan yang pernah gue lakukan, ada beberapa yang juga diiringi dengan sebuah lagu. Dan beberapa diantaranya masih sangat gue hafal. Nada dari setiap lagu sebenernya hampir sama, begitupun dengan daerah lain sepertinya, mungkin cuma liriknya aja kali ya yang diganti?

Ini adalah contoh beberapa lagu pengiring permainan yang masih gue inget sampai sekarang. Berhubung masa kecil gue dulu dihabiskan di tanah Sunda, maka lagu pengiring permainan yang gue akan sebutkan di bawah, tentunya kebanyakan dengan menggunakan Bahasa Sunda.



Lagu pengiring:
    Cing ciripit
    Satulang sabajing
    Saha nu kajepit..
    Omeng!

Cara bermain:
Lagu ini biasanya digunakan untuk menentukan pemburu (omeng) dalam sebuah permainan kejar-kejaran. Si pemburu nantinya wajib menangkap salah satu teman yang berlarian ke berbagai arah.

Penentuan pemburu dilakukandengan cara:
Salah satu teman akan membuka telapak tangannya untuk ditempati telunjuk semua peserta permainan. Ketika lagu Cing ciripit telah selesai dinyanyikan, tanpa aba-aba terlebih dulu, telapak tangan yang dijadikan tempat untuk menaruh jari telunjuk semua peserta itu, akan menangkap salah satu telunjuk yang berada pada telapak tangannya yang lamban untuk mengangkat jari telunjuknya. Jika hal itu terjadi, maka telunjuk yang tertangkap, maka ia diwajibkan menjadi pemburunya.



Lagu Pengiring :
    Slep dur, slep dur
    Dilas dipan dipan debur
    Kahijina kaduana
    Katiluna kaopatna
    Kalimana kagenepna
    Katujuhna nu pandeuri

Cara bermain :
Lagu ini biasa dimainkan untuk memerangkap seorang teman dalam sebuah permainan. Cara memerangkapnya, sejumlah teman harus berbaris dan bergiliran masuk ke dalam terowongan yang dibangun oleh dua pasang tangan. Ketika lagu Slep Dur selesai, terowongan yang terbuat dari  sepasang tangan tadi seolah-olah mendadak runtuh hingga teman yang sedang lewat dibawahnya.

Sebelum itu, si dua pasangan ini telah menentukan benda apa yang nantinya akan dipilih oleh setiap peserta yang terperangkap.

Misalnya, teman gue pilih anting, dan gue kalung, nantinya kita akan menanyai teman kita yang terperangkap itu, untuk memilih anting atau kalung. Kalau dia memilih kalung maka dia akan menjadi anggota gue.

Setelah semua peserta berhasil tertangkap, maka akan terbentuk dua grup, yaitu grup anting dan kalung. Setelah itu kita akan melalukan Tarik tambang, yang kalah, bertugas untuk menggendong pemenangnya.




Lagu pengiring :
    Paciwit-ciwit lutung
    Si lutung pindah ka tung-tung
    Paciwit-ciwit lutung
    Si lutung pindah ka tung-tung

Cara bermain :
Gue sekarang lagi mikir, kok dulu gue bisa bahagia banget ya mainin permainan ini. Padahal mainnya cuma nyubit punggung tangan temen-temen yang lain sampai membentuk sebuah tumpukan yang tinggi.
Setiap kali kata “silutung pindah ka tung-tung” diucapkan, maka otomatis tangan yang paling bawah akan pindah keatas untuk mencubit punggung tangan yang paling atas.
Kalu dipikir-pikir, permainan ini sampai kapanpun nggak bakalan ada ujungnya.

Lagu pengiring:
    Eundeuk-eundeukkan lagoni
    Meunang peucang sahiji
    Leupas deui ku aki
    Beunang deui ku nini

    Eundeuk-eundeukkan lagoni
    Meunang peucang sahiji
    Leupas deui ku nini
    Beunang deui ku aki

Cara bermain :
Lagu ini dinyanyikan ketika kita semua, ah, maksud gue ketika gue dan teman-teman gue berada diatas pohon. Sambil menggoyang-goyangkan pohonnya, gue dan teman-teman gue akan menyanyikan lagu tersebut secara bersahut-sahutan.

Semakin keras goyangannya, semakin seru, dan semakin tinggi juga kemungkinan kita jatuh dari pohon karena dahannya patah.




Lagu pengiring:
    Ucang-ucang angge
    Mulung muncang ka parangge
    Digogog ku anjing gede
    Anjing gede nu pa lebe
    Ari gog, gog cungungung

Cara bermain:
Sebenernya ini bukan permainan, sih. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh orang tua kepada anaknya atau kakak yang lagi ngemong adiknya, atau siapa aja deh yang lagi jagain anak kecil.

Si anak kecil itu akan ditaruh dipunggung kaki sambil diayun-ayunkan. Di penghujung lagu “cungungung….” Maka ayunan akan dilakukan lebih tinggi, setelah itu akan terdengar suara tawa anak kecil tersebut.

Kalau gue emang nggak tau diri sih orannya, walaupun udah gede, tapi masih sering minta ucang angge sama emak gue, ya walaupun yang didapet cuma jitakan doang. Setidaknya gue sudah berusaha.

Lagu pengiring:
    Punten mangga, ari ga
    Gatot kaca, ari ca
    Cau ambon, ari bon
    Bonteng asak, ari sak
    Sakit perut, ari rut
    Rujak asem, ari sem
    Sempal-sempil, ari pil
    Pilem rame, ari me
    Meja makan, ari kan
    Kantong kosong, ari song
    Songsong lampu, ari pu
    Pulau Jawa, ari wa
    W*DUK SIA!!!!!

Cara bermain :
Lagu ini bisa dinyanyikan tanpa permainan, bisa juga dinyanyikan dengan permainan. Gue sendiri bingung mau jelasin permainannya. Yang jelas, permainan ini dilakukan oleh dua orang dengan melakukan high five berulang-ulang.

#pembaca mulai ngebayangin

Haduh! Bukan kayak gituu… bukan!

Lagu ini sebenarnya berurutan dengan lagu-lagu yang lain.

Yang pertama diawali dengan lagu
    Mi mi mi mi
    Mi atas mi bawah
    Mi depan mi belakang
    Mi 1 2 3
    Mi 3 2 1
    Mi gulung gulung  (menggulung-gulungkan kedua tangan)
    Mi gulung gulung
    Mi ciut..ciut (posisi semua jari dibentuk moncong)
    Mi ciut..ciut
    Mi keplek…keplek (mengepak-ngepakan ketek)
    Mi keplek.. keplek

 Setelah selesai lalu mulai dengan high five diiringi lagu.

    bapak bawa apa pak, bawa lemari..
    kuncinya dimana pak, ada di susii..
    susi minta susu pak, ada di sapi..
    sapi minta rumput pak, ada di sawah..
    sawah minta air pak, ada di gunung..
    gunung minta api pak, ada di kompor..
    kompor minta minyak pak, ada di warung..
    warung minta uang pak, ada di bank..

Dua kali high five dilanjut dengan.
    Bang-bang-bang..
    Kalima-lima gobang-bang..
    Bangkong ditengah-tengah sawah-wah..
    Wahai tukang bajigur-gur..
    Guru sakola desa-sa..
    Saban poe ngajajar-jar..
    Jarum paragi ngaput-put..
    Purti nu gareulis-lis..
    Lisung kadua-dua halu-lu..
    Luhur kapal udara-ra..
    Rangrag di Jakarta-ta..
    Taun dua rebu-bu..
    Buah meunang ngala-la..
    Lauk meunang nga jaring-ring..
    Ringkok aki-aki.. Aki ngaringkuk disuguan t*i orok lila-lila jadi montok...

Udah gitu doang.. kentang banget kan lagu nya?

Lagu pengiring:
    Cing ogo-ogo..
    Kalau mancing bogo..
    Sidakep bari balem..

Cara bermain:
Semua peserta permainan harus jongkok. Aturannya, nggak boleh keliatan gigi, ketawa, keliatan celana dalam (kalau anak cewek dulu sering pake rok), atau baju/roknya nempel ketanah. Kalau itu terjadi, berarti dia nanti yang jadi kucing.

Setelah ada yang jadi kucing (pokonya kita akan mencari kesalahan sekecil apapun, kalau tetep nggak ada pelanggaran, bisa jadi "gerak" juga termasuk pelanggaran), nanti dia harus nangkep salah satu temen lain supaya dia nggak jadi kucing lagi.

Aturan selanjutnya, setiap kucing tidak bisa menangkap kita kalau kita jongkok, jadi kalau misalkan kita sudah mau ketangkap, kita harus buru-buru jongkok. Yang jongkokpun tidak sembarang bisa bangun, dia harus dibangunkan dulu oleh peserta lain yang sudah bangun.

Kalau dipikir-pikir sekarang, ngapain ya kita minta dibangunin kalau nantinya bakalan dikejar sama kucing, mending juga jongkok aja sambil scrolling TL Instagram.

Eh, gimana deh?


Lagu pengiring:
    Kotak pos mari kita isidengan para pelaku,
    Yang ditanya harus menjawab…

    Kita sudah buat kesepakatan nama- nama yang akan dipakai untuk permaian ini, misalkan nama hewan.

    Mainnya sambil bikin lingkaran, telapak tangan kita ditumpuk sama telapak tangan sebelah kita, cara mainnya dengan menepuk tangan teman di sebelah kita.

    Si Puti minta hurup M (orang Sunda nggak bisa ngomong ef)
    Lama-lama menjadi Monyet..

    Nah, pas “nyet”nya itu berakhir ditangan siapa, maka dialah nanti yang akan mempunyai nama samaran Monyet.

Cara bermain:
Setelah semuanya mempunyai nama samaran, tersisa satu orang tanpa nama samara, biasanya yang paling akhir, maka kita akan mulai bermain kucing-kucingan (lagi), bedanya, yang jadi kucing matanya harus ditutup kain.

Si kucing harus menghafal semua nama samara, sebab kalau dia berhasil menangkap salah seorang pemain, dia harus menyebutkan nama samarannya. Kalau salah, berarti gagal.

Disini yang jadi kucing bakalan apes banget deh pokoknya. Kalau nggak hati-hati bisa-bisa benjol karena nabrak sesuatu yang tidak diinginkan.

Lagu pengiring:
    Pak camat jualan tomat
    Yang beli harus hormat
    Bu siti jualan anting
    Yang beli orang sinting

    Pak camat ketiban papan
    Matinya jam delapan
    Dikubur tahun depan
    Yang bergerak anaknya setan

Cara bermain:
Setelah lirik terakhir diucapkan, seketika kita semua tidak akan bergerak layaknya patung. Nanti kalau ada yang gerak berarti dia kalah.

Terus diapain? Cuma diketawain doang, abis itu nyanyi lagi, gitu terus berulang-ulang sampai pak camat ketiban papan beneran..

Lagu pengiring:
    Ampar-ampar pisang..
    pisang ku belum matang..
    masak sebiji digulung blai-bali..
    mangga lepok mangga lepok..
    masak sayur lepok...
    Bengkok dimakan api..
    apinya cang kesurupan...  (akibat lupa lirik)
    Bengkok dimakan api...
    apinya cang kesurupan..

Cara bermain:
Lagu ini dinyanyikan oleh dua orang dengan cara...

mmmm ...

Mainnya pake kaki gitu deh.

#pembaca mencoba ngebayangin lagi.

Bukan tendang-tendangan juga, masya Allah..!!

Ah udah nga usah dibayangin. Salah muluk!

Lagu pengiring:
    Minyak kayu putih digosok kebadan,
    Bendera merah putih, tandanya menang.

Cara bermain:
Lagu ini dipakai kalau mau suit. Sama halnya kayak,

Lagu pengiring:
    Cang kacang panjang,
    Nu panjang omeng!

Cara bermain:
Biasanya lagi-lagu pendek kayak gitu dipakai cuma buat mennentukan siapa kucingnya doang.

"Mau main apa neeh kita teman-teman?"

"Petak umpet aja yu..."

"Yang jaga siapa?"

"Yaudah, pake minyak kayu putih aja.."

Selain lagu pengiring mainan, ada juga lagu yang hanya dinyanyikan saja, tanpa ada permainan khususnya.

Nah, lagu ini biasanya dipake buat mengejek seseorang, atau temen yang nyebelin. Kalau sekarang kan biasanya sindir-sindirannya pake status di medsos, kalau dulu pake lagu.

    Trang trang kolentrang
    Si londok paeh nundutan
    Tikusruk kana durukan
    Mesat gobang kabuyutan
    Nyeh prot, nyeh prot
    Bujur kudu cecendeteun
    Dibura ku laja tuhur
    Laja tuhur beunang ngunun
    Beunang ngunun tujuh taun
    Kadalapan di burakeun

Kalau yang diatas mungkin cuma sebatas menyindir atau mengejek, lagu yang satu ini digunakan untuk mengajak berkelahi.

Kalau tawurannya Genji mungkin diawali dengan “Genji---eeeeh !!! Urrrryaaaa…!” kalau tawuran ala gue kecil dulu, ya dengan lagu itu,  tapi kita nggak pernah sampain berantem beneran juga, sih.
Biasanya aksi saling ejek ini terjadi antara kubu anak laki-laki dan anak perempuan.

    Tampolong bahe,
    Belut ditalian,
    Ulang ngomong bae,
    Gelut sakalian.

    Putih-putih melati Alibaba..
    Merah-merah delima Pinochio..
    Siapa yg baik hati Cinderella..
    Tentu disayang Mama..
    Aa masa? Ya gengsi dong..

    Apa lo liat-liat...
    Bapak lo jago silat...
    Ta* nya bulat-bulat..
    Seperti kue donat..

    Telur-telur... ulet-ulet,,,
    kepompong kupu-kupu,,
    kasihan deh lu...

Kalau yang terakhir ini mungkin lebih familiar ya? Gue dulu sampai hafal beberapa variasi gerakan tangannya. Kalian iya nggak?

Terus yang terakhir, lagu yang bahkan sampai sekarang gue nggak ngerti apa maksudnya.

    Ja leuleu ja
    Tulak tuja eman gog
    Seureuh leuweung bay
    Jambe kolot (je) bug
    Ucing katinggang songsong ngek!

Yang gue tau artinya cuma kalimat terakhir doang. Tapi kok dulu gue sering banget ya nyanyiin lagu itu ?

Masih menjadi sebuah misteri.

Sebenernya masih ada banyak lagi lagu pengiring dan permainan yang pernah gue mainkan. Tapi gue cuma ulas beberapa aja, soalnya takut kepanjangan juga. Kasian yang baca, mending kalau ngerti, kalau enggak?

Yang jelas, gue sangat berterimakasih kepada pengarang lagu-lagu itu dan juga tentunya para penemu permainan-permaian tersebut. Karena berkat kalian semua, masa kecil gue menjadi sangat menyenangkan.

Mau nutup postingan pakai kalimat apaan ya?

hmmm..

Yaudahlah, pakai pertanyaan aja..

Coba dong sebutin lagu pengiring permainan dan permaianan di daerah kalian apa aja?

sumber semua gambar: Google images

19 Mar 2017

Welcome Semester 2


Biasanya, awal masuk sekolah itu identik dengan hal-hal baru. Mata pelajaran baru, guru baru, tas baru, baju baru, badge kelas baru, buku baru, sepatu baru, gebetan baru (kalau cowok biasanya ngegebet dedeq-dedeq gemes yang baru masuk).

Semuanya berubah ketika sudah 3 bulan pacaran kita sudah kuliah, ya, gue sekarang mengalaminya. Selain mata kuliah dan dosen, tidak ada hal baru lainnya yang gue temukan, seperti baju baru, sepatu baru, tas baru, buku baru (paling kertas binder yang kosong, itu juga masih punya banyak sisaan di semester 1 kemarin), gebetan baru (apalagi ini, nggak usah ditanya). Pokoknya, semua yang masih bisa dipake, ya pake aja sampai bener-bener nggak bisa dipake lagi.
 
Minggu ini adalah awal pertemuan dengan dosen di semester 2. Dari ke-8 dosen yang mengajar, seharusnya gue bertemu dengan 6 dosen baru, tapi entah kenapa, pas masuk, ternyata hanya 4 saja yang baru, 4 lainnya adalah dosen gue di semester 1 kemarin (tuh kan, ternyata, dosen juga nggak baru semua :’().

Minggu pertama kuliah ini bener-bener penuh perjuangan. Aslik! 
Gimana enggak, 4 kali gue berangkat kuliah, 2 kali gue diturunin di tengah perjalanan, dan 1 kali gue diomel-omelin sama preman atau anak punk atau kang ngamen atau apalah itu namanya, itu loh..mereka yang suka nongkrong di lampu merah.

Semester 2 merupakan semester dengan jumlah sks terbanyak dibanding dengan semester sebelumnya atau di semester yang akan datang. itulah sebannya, gue mengurungkan niat gue untuk nambah sks. Dari total 22 sks sendiri, terbagi menjadi 8 mata kuliah, yaitu:

Pengantar Akuntansi 2
Gue heran banget sumpah!
Kalau bang Radit bilang ; "KENAPAAA? KENAPAAA? KENAPAAAAA?"

Kenapa gue nggak bisa pisah sama yang namanya Akuntansi? Gue kira, mata kuliah ini cuma ada di semester 1 doang, kenapa dia malah ngintilin gue di semester 2 juga? Lengkap satu paket dengan dosennya pula.

Kalau diibaratkan cowo, mungkin Akuntansi ini urat malunya udah bener-bener putus kali, ya? Udah berkali-kali ditolak, tapi tetep aja ngejar-ngejar.

Belum lagi, dosennya itu loh.. Dia itu adalah tipe dosen yang nggak mau kalah pinter dari mahasiswa-mahasiswanya. Makanya, gue males kalau ditanya sama dia. Jawab bener aja masih disalahin, apalagi jawab salah. Duh!

Kalau di semester 1 kemarin gue belajar tentang  Jurnal, buku  Besar, Laporan Keuangan Perusahaan Jasa dan Perusahaan dagang, di semester 2 akan dilanjutkan dengan Kas, Piutang, Persediaan, Aset tetap dan Aset tidak tetap. Jujur saja,semuanya sudah pernah gue pelajari di SMK, malah lebih lengkap. Bukannya gue sombong atau gimana ya, tapi serius, gue udah lupa semua sama materi itu, makanya gue males nginget-nginget lagi.

He..
He...

Pengantar Management
Ini adalah mata kuliah baru, alhamdulilah dosennya juga baru. Dari pengamatan sementara gue, dosen ini orangnya lumayan tegas, tapi nggak kiler, malah cenderung, asik, lucu, gemesin, kayak doraemon, agak gendats gitu deh pokoknya.
Eh.

Gue ini sebenernya anak IT atau anak Ekonomi sih? 
Alasan kenapa gue lebih milih jurusan IT, padahal background gue di Akuntasi adalah karena gue nggak suka sama teori. Tau sendiri kalau teori kan? Skill mengingatnya harus kuat, karena harus menghafal banyak materi.
Lah gue? Keluar  kosan mau ngambil anduk sampe di depan jemuran, malah masukin sepatu. 
Abis selesai ngomong di telpon, terus nanya ke temen sebelah “barusan aku ngomong apa ya? Denger ngga?”. 
Bisa dibayangkan betapa rendahnya skill mengingat gue itu.

Balik lagi ke Pengantar Management, untuk kurang lebih 6 bulan ke depan, gue akan mempelajari hal-hal yang nggak jauh-jauh dari sumberdaya manusia, organisasi, management ini, management itu, management nganu, ya pokoknya yang kayak gitu-gitu lah.

Setiap pertemuan, di 30 menit terakhir, akan ada persentasi dari setiap kelompok, 20 menit untuk baca slide, 10 menit untuk sesi tanya jawab. 

Jangan tanya siapa aja anggota kelompok gue, sedih lah kalau disebutinmah. Semoga aja ini cuma ketakutan gue doang, tapi mereka pernah satu kelompok sama gue, dulu.. aaahhh :”

Kalkulus
Kalau denger kata kalkulus, gue pasti inget sama mr Bean. Kenapa? pikir aja ndiri…
#digampar

Dosen kalkulus gue adalah dosen Algoritma di semester 1. Feeling gue udah mulai nggak enak, mengingat kemarin cuma mata kuliahnya dia doang yang dapet B.

Setelah membahas sedikit tentang materi yang akan dipelajari selanjutnya, gue yakin kalau gue bakalan muntah beling di setiap pertemuan. Jangankan buat dapet A, bisa dapet B aja kayaknya gue bakalan terseok-seok.

Gue sangat menyayangkan kenapa mata kuliah penting seperti Algoritma dan Kalkulus justru diampu oleh dosen yang tidak terlalu peduli dengan mahasiswanya.

“Kalau ada yang tidak mengerti, tanyakan. Kalau diam berarti kalian mengerti”

Lah, pak, kita diam karena kita bingung mau nanyain apa, semuanya nggak ngerti.

Padahal Logika Algoritma itu adalah pondasi awal yang harus dimiliki oleh seorang IT. Kenyatannya, ngambang doang gini, kayak pondasi rumah apung yang ada di laut. Termbang-abing, kayak hubunganmu sama dia, nggak tau mau dibawa kemana.

Belum apa-apa, gue udah dikasih tugas buat bikin makalah , nggak tau apa, kalau internet di pc gue udah diblock sama pabrik. Aaarrhhhh! Syaithoon!

Dari sini gue menyadari satu hal. Untungnya ketemu dosen baru adalah, pas pertemuan awal pasti bakalan kita habiskan buat perkenalan. Kan mayan.

Kalau ketemunya sama dosen lama, kejadiannya bakal kayak gini;

“Kita langsung saja ke materi yang pertama..”

“Kenalan dulu lah, pak…. ”

“Kan udah kenal..”

“Jangankan sama bapak, caranya nulis aja kita udah lupa…”

“Oh, gitu ya, yaudah, biar kalian inget caranya nulis, nanti tolong bikin makalah ini… blaa… blaaa. Blaa…”

Struktur Data
Sudah bisa dipastikan, kalau di mata kuliah ini gue bakalan dibikin mabok sama angka 0 dan 1, sama True and False.

Di semester 1 kemarin, gue bertemu dengan dosen ini di mata kuliah PTI. Agak kesel juga sih, karena metode belajar yang dia pake cara full presentasi yang dilakukan oleh mahasiswa.

Kabar baiknya, sekarang dia tidak memberikan tugas untuk presentasi lagi. Dan, kabar baik selanjutnya adalah, gue tidak dipertemukan dengan kajur gue di mata kuliah ini (e: Bu Nurasiah). Padahal, semester sebelumnya, kajur gue ngajar MK Struktur Data. Kenapa gue bilang kabar baik? Pikir- (hmm takut digampar lagi) karena kesan pertama gue waktu kali pertama ketemu kajur, adalah, Ngeri. Sejenis perasaan ngeri yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Matematika Diskrit
“Lu jangan sombong jadi orang, baru juga Aljabar, kita semua disini banyak yang udah nyelesein Kalkulus sama Matematika Diskrit” kata seseorang yang gue kenal dulu.

Gue diem.

Gue minder.

Gue tersinggung.

Waktu itu gue juga nggak tau apa itu Kalkulus dan Matematika Diskrit.

Walaupun kata-kata itu bukan ditujukan untuk gue, tapi gue merasa tertohok, karena saat itu kebetulan gue juga sedang dihadapkan sama soal Aljabar yang kampret abis.

“Yes! Akhirnya gue sekarang bisa ketemu sama kalkulus dan matematika diskrit” sorak gue dalam hati, sesaat setelah pengisian KRS.

Namun apa yang terjadi kawan-kawan? Gue teramat sangat menyesali perkataan gue tersebut.
Bayangan gue tentang Matematika Diskrit yang gue kira nggak bakal jauh beda sama Matematika pada umumnya ternyata salah.

Eh iya nggak sih? Kok gue malah disuruh belajar program php, program java, belajar pake vb, dan lain-lain. 
Jadi Matematika Diskrit itu pelajaran program? Atau bukan?
(kemudian inget tugas akhir disuruh bikin poject dari salah satu program itu)

Terangkanlahhh…
Terangkanlahhh….


PKn
MasyaAllah.. ini adalah sebuah keajaiban yang terjadi di hidup saya. Setelah 23746228311923 tahun lamanya tidak dipertemukan dengan mata pelajaran PKn, akhirnya, pada kesempatan kali ini saya bisa kembali menghapalkan pasal-pasal UUD 1945. Klik like dan ketik angka 1 di kolom komentar, lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya dosen yang ditunggupun masuk ke kelas.

“Kok saya nggak dipanggil ya, saya kan ada di ruang dosen” katanya sinis

“Anjiss! Roman-romannya horror ya ini dosen?” bisik gue sama Musa.

“Yasudah, kita mulai masuk ke materi!”

Hening seperempat detik

“Yaaah, pak, kita kan belum kenalan pak” kata anak-anak kompak, mirip paduan suara, cuma kurang dirigennya doang.

“Emang perlu ya? Belum tau nama saya?” sambil nunjukin map Absen

“Nih, nama saya…” lanjutnya lagi.

Gue kira dia itu beda dari dosen yang lain, tapi ternyata,

55 menit berlalu….

Dia masih cerita tentang dirinya,  anak-anaknya, tentang pekerjaannya dulu.

“Saya pernah jadi Camat, jadi Komandan di polri, saya pernah jadi anggota birokrat, bla..bla..bla..bla.. anak saya yang pertama dokter, yang kedua gelarnya doctor, yang ketiga, jadi perawat di rumah sakit anu, yang bungsu sekarang jadi pengacara, dia lulusan UI, nongkrongnya di anu-anu-anu…”

Di akhir cerita, dia tutup dengan.

“Seperti biasa, penilaian saya tidak jauh berbeda dengan dosen yang lain. 40% UAS, 30% UTS, 10% absensi, dan 20% Tugas..”

“Tugasnya individu atau kelompok, pak?” tanya gue.

“Tugas saya mudah ya, kalian tinggal membeli buku ini, kebetulan saya yang menulis ini…” papar dia sambil mengacung-acungkan bukunya.

“Modus, sia pak!” desis mulut salah seorang mahasiswa. 

Belakangan diketahui, kalau itu adalah mulut gue.

Coba aja ya kalau para penulis punya metode pamasaran yang jitu seperti dosen PKn gue untuk jual buku mereka.

English For Computer 
Di semester 1, sebenernya gue sudah belajar Bahasa inggris, tapi lebih ke Generalnya. Setiap kali pertemuan, kami diwajibkan untuk presentasi di depan kelas. Kami semua diberi waktu 60 detik untuk mengucapkan maksimal 20 kalimat.

Yang gue suka dari dosen ini adalah, dia tidak mewajibkan kami dibebaskan dalam hal grammar.

“Pokoknya, kalian harus ngomong pake Bahasa inggris dulu, grammarnya belakangan. Bapak yakin kalian sudah pintar dalam hal grammar. Setidaknya kalian sudah 9 tahun belajar grammar. Iya kan?”

Bener juga sih, selama ini, justru grammar yang menghambat gue untuk belajar Bahasa Inggris. Bikin ribet, jadinya malah males. Lagian, orang luar negri juga grammar-nya nggak bagus-bagus amat, malah kadang lebih berantakan dari kita.

Coba aja kalau selama 9 tahun kemarin gue lebih fokus sama belajar Bahasa Inggris tanpa dibayang-bayangi dengan grammar yang membingungkan.
mungkin sekarang...

Kayaknya sama aja sih, nggak bakal ada yang berubah.
wqwq

Mari kita tinggalkan semester 1.

“Beda dosen, beda juga cara nmengajarnya..” kata pertama yang diucapkan oleh dosen baru Bahasa inggris gue.

“Kemarin sama Pak Wahid, mungkin kalian dibebaskan dalam hal grammar, tapi tidak dikelas saya…” lanjutnya lagi.

KMVRTZ!

Padahal di krs jelas-jelas kalau Bahasa Inggris harusnya sama Pak Wahid, kenapa musti ganti dosen segala coba?

Sebelum gue ketemu sama pak Sir. Iya, namanya emang Sir. Gue juga nggak tau kenapa kok dia bisa punya nama Sir. Apa pas lahir ibunya sudah punya firasat kalau anaknya bakalan jadi dosen Bahasa Inggris? Cuman jadi awkward banget gitu pas gue manggil “Pak Sir…” (Pak Pak?), masa iya, gue mau manggil Sir doang... Atau lebih ena Sir Sir?

Nah, pak Sir ini terkenal sebagai dosen denga level ke-baper-annya yang tinggi. Gue sering denger ceritanya dari anak-anak yang pernah diajar sama dia.

Dia pernah minta mahasiswanya buat bikin semacam petisi ke FO supaya Pak Sir ini bisa ngajar di kelas mereka. Padahal, anak-anaknya sendiri seneng banget kalau nggak diajar sama dia.

Gue Rasa sih emang bener, terlebih pas dia bilang;
“Saya sebenarnya ngerasa kalau 2 sks itu masih kurang untuk mata kuliah saya. Bahkan dulu saya mau ngajar 3 sks, padahal saya dibayar untuk 2 sks saja…”

“Sabodo teuing lah, pak kuSir..
(Anjir kumisnya!!)

Program Web Design
Malam harinya, gue sempet download beberapa video-video 3gp kakek legend tentang Web Design. Bukan apa-apa, gue cuma nggak mau kelihatan terlalu polos aja di mata kuliah ini. Walaupun, ya, baru nonton semenit, gue udah nguap-nguap terus, akhirnya gue memutuskan untuk tetap lanjut nonton drama Korea sampai pagi. Keren!

Dari namanya, udah ketauan apa yang bakal gue pelajari di mata kuliah ini, yang pasti nggak bakal jauh dari ngoding, bikin web, dan ngedesign web. Kuncinya cuma satu, kita harus bisa kreatif.

Bagi yang udah nggak asing lagi sama dunia per-web-an, mungking ini jadi mata kuliah yang paling menyenangkan. Tapi bagi yang bener-bener buta sama dunia per-web-an macam gue ini, jangan ditanya deh.

Gue cuma plenggongan doang pas dosen lagi ngejelasin materinya, berasa kayak semua kata yang keluar dari mulut dosen mental gitu aja, nggak ada yang bisa terserap ke otak gue.

Sip, kayaknya gue memang salah jurusan.
“Kiri bang, saya berhenti disini aja, kayaknya udah kelewat jauh nih. Tadi kan saya mau ke pasar Pedok, kenapa jadi nyasar ke pasar Minggu?”
*kriik

Wuiiihhh kok jadi panjang banget gini ya?

Bentar… bentar, belum selesai, dikit lagi kok.

Untuk jadwal kuliah, seharusnya nggak ada masalah, kalau aja mata kuliah Web Design jadwlanya nggak bentrok sama jadwal kerja gue.

Yakali gue punya pintu kemana saja, gue keluar kerja jam setengah 3, kuliah juga mulainya setengah 3, buka pintu, langsung nyampe.

Akhirnya, mau tidak mau, gue harus nebeng di kelas lain.

Yaah..namanya nebeng, pasti jauh dari kata nyaman dong.

Ya Allah, mana ini nebengnya satu semester full, lagi.

Apa mending gue maksain diri ikut kelas sendiri ya? Tapi dengan resiko, gue pasti bakalan telat setidaknya satu jam.

12 Mar 2017

Random~

Ternyata minggu kemarin gue tidak memposting tulisan apapun…

ck.
Kadang hidup memang se-kampret ini.

Tapi, bukan Puti namanya kalau nggak punya segudang alasan untung membela diri atas kesalahan yang telah dia lakukan sendiri pada dirinya sendiri. 

Nah? Puyeng kan bacanya?

SAMA.

Minggu-minggu ini gue emang lagi sibuk banget. Walaupun katanya lagi libur kuliah, tapi kan tau sendiri kalau gue tetep kerja.

Sebenarnya, kalau aja gue mau melihat dari sisi baiknya, gue bisa mengatakan kalau gue beruntung. Karena untungnya, pas kerjaan lagi ribet-ribetnya, kuliah sedang libur. Tapi, ya gitu deh, gue lagi males mikir dari sisi yang baik. Yang jelas, badan gue sukses dibikin ringsek sama kerjaan.

DASAR KAU SAUS TAR-TAR! RAJUNGAN JELEK!! HUH!

Coba aja hari kebalikan itu benar-benar ada, mungkin gue yang akan balik ngerjain kerjaan gue, dan bikin kerjaan gue cape setengah hidup!

Gimana, tambah puyeng kan bacanya?

Apalagi gue, yang nulis.
Wqwq

Bukan cuma badan yang ringsek, gue sekarang nggak bisa bedain antara tangan gue dan pelabuhan. Liat aja nih, banyak kapal yang menepi di tangan gue ini. Selain mirip sama palabuhan, sepertinya tangan gue bisa digunakan untuk memarut kelapa juga, lho. 

Penderitaan gue semakin sempurna, karena  beberapa hari yang lalu, gue juga baru saja pindah kontrakan. Tau kan gimana capenya pindahan? Yaudah, nggak usah dibahas. Pokoknya capek banget kalau diceritain mah.

Alasan kenapa gue pindah kontrakan, karena salah satu temen gue mau nikah. Berhubung, barang-barang gue yang paling sedikit, makanya dengan perasaan tahu diri gue yang sangat besar, gue lah yang memutuskan untuk pindah.

Untung aja, kontrakan yang mau gue tempati nggak begitu jauh dari kontrakan lama gue.

Sebeloem

Sesoedah
hestek PutiYangTeroesir
Sebelum sama sesudah kok nggak ada bedanya ya?  

Anehnya, udah seminggu lebih gue menempati kontrakan baru , gue sama sekali belum pernah pupup. Padahalkan, kaatanya, kalau kita pupup di suatu tempat , itu tandanya kita betah di tempat tersebut.

Aahh, gue jadi galau nich gaes..

Tolong beri gue motivasi dong, untuk menghadapi ujian ini.

Tapi, bukan berati gue nggak pupup selama seminggu lohj ya. Gue pupunya selalu di tempat kerja.

Selain masalah pupup, gue juga punya masalah-masalh lain selama gue menempati kontrakan baru. 
- Kran air kamar mandi yang rusak, mau benerin tapi nggak bisa

- Nggak ada kulkasnya T.T
Iyalah! Kan kulkasnya punya temen gue di kontrakan lama.
Pengen beli kulkas, tapi pas inget saldo ATM... tiba-tiba gue mendengar salah satu lagunya Oppick yang seketika membuyarkan lamunan gue,
“Terangkanlahhh…terangkanlaaah…”
Belakangan diketahui, kalau ternyata temen gue lagi nonton FTV di Indos*ar.

- Kontrakannya panas
Soalnya ketutup bangunan yang lain yang lebih tinggi. Gue yang biasanya anti kipas, sekarang sama sekali nggak bisa jauh-jauh dari dia.

Yang mau bilang so sweet gue lempar batako nih! 

- Kunjungan pacar temen gue yang hampir setiap hari.
Awalnya sih gue biasa aja, tapi lama-lama kok, aduh… mereka sungguh sangat tidak ber-peri-ke-asmara-an! 

Tuhan kirim kan lah aku, kekasih yang baik hati..
yang seperti Nam Joo Hyuk,
yang seperti Park Hae Jin,
yang seperti Park Bo Gum,
yang seperti Yang Se Jong,
yang seperti Kim Woo Bin, 
yang seperti Lee Jong Seok,
yang mencintai aku, apa adaaaanyaaa......



Puti udah sehat kok, oppa. Kalau dinikahin oppa, pasti jadi sempurna.

Efek kebanyakan menghayal, gue sampai nggak ngeh, kalau ternyata beberapa hari lagi gue udah mulai kuliah.

Semester 2 tjoy…!

HAHAHAHHAHA
HAHAHA
HAHA
HA

Kuliah lagi…..

Xianjir! Mana Drama Korea lagi banyak yang bagus.
Huft :’(

Semangaat!
Walaupun umur udah bakalan nambah lagi beberapa bulan, gue nggak boleh kalah sama dedek-dedek gemes itu. Gue nggak boleh loyo..!
(Kemudian inget kalau kemaren gagal dapet IPS 4)
Loyo juga nggak apa-apa lah, namanya juga udag tua, wajar....

Gara-gara B setitik, rusak IPS sebelanga~
Tapi, nggak apa-apa, dari pada dapet D, mending B kemana-mana lah.

Jadi, kejadiannya gini..
Beberapa hari sebelum KHS dibagikan, semua nilai terlebih dulu diupload di web kampus. Mata gue tiba-tiba berkaca-kaca, ketika gue liat pengumuman nilai yang di web kampus. Berulangkali gue cek, siapa tau mata gue mines nya nambah, tapi ternyata apa yang gue lihat itu benar. Ya, gue sempet mau berhenti kuliah, pas gue tau kalau gue dapet nial D di salah satu mata kuliah.

Malu banget rasanya , apalagi semua nilai itu bisa dilihat sama semua mahasiswa. Siapa tahu calon jodoh gue ternyata ikutan lihat, dan dia tiba-tiba ilfeel setelah tau kalau gue se-bego itu.

"Jeongsincharyeo Puti, Jebal .." kata gue dalam hati.
(Sok Korea banget anjir!
oh iya, yang mau muntah, saya persilahkan)

Segera, gue kirim email perihal nilai gue itu sama dosen yang bersangkutan. Sambil menunggu balasan, gue kembali mengingat-ngingat apakah gue pernah membuat kesalahan selama UAS kemarin. Apakah gue ketahuan nyontek? tapi gue nggak nyontek kok, serius. Kalau nanya temen, iya. Apa gue tanpa sengaja telah menyinggung dosen gue itu? karena gue menyaingi kecantikannya? Tapi kan, cantik gue ini udah bawaan dari lahir.

Alhamdulillah, setelah dibikin deg-degan selama beberapa jam, akhirnya beliau membalas email gue, beliau mengatakan kalau ternyata ada salah penginputan nilai. Dan, akhirnya gue dapet nilai A untuk mata kuliah tersebut. 

Semoga aja di semester 2 gue bisa lebih baik lagi dari semester sebelumnya. 
Amiin..

Sekian postingan random dari gue, yang seperti biasa isinya ngelantur kemana-mana..

Aku Adalah

Puti Andini

Pengabdi Wifi Telkom...

Bagian dari

Your Lucky Number

Kategori