19 Mar 2017

Welcome Semester 2


Biasanya, awal masuk sekolah itu identik dengan hal-hal baru. Mata pelajaran baru, guru baru, tas baru, baju baru, badge kelas baru, buku baru, sepatu baru, gebetan baru (kalau cowok biasanya ngegebet dedeq-dedeq gemes yang baru masuk).

Semuanya berubah ketika sudah 3 bulan pacaran kita sudah kuliah, ya, gue sekarang mengalaminya. Selain mata kuliah dan dosen, tidak ada hal baru lainnya yang gue temukan, seperti baju baru, sepatu baru, tas baru, buku baru (paling kertas binder yang kosong, itu juga masih punya banyak sisaan di semester 1 kemarin), gebetan baru (apalagi ini, nggak usah ditanya). Pokoknya, semua yang masih bisa dipake, ya pake aja sampai bener-bener nggak bisa dipake lagi.
 
Minggu ini adalah awal pertemuan dengan dosen di semester 2. Dari ke-8 dosen yang mengajar, seharusnya gue bertemu dengan 6 dosen baru, tapi entah kenapa, pas masuk, ternyata hanya 4 saja yang baru, 4 lainnya adalah dosen gue di semester 1 kemarin (tuh kan, ternyata, dosen juga nggak baru semua :’().

Minggu pertama kuliah ini bener-bener penuh perjuangan. Aslik! 
Gimana enggak, 4 kali gue berangkat kuliah, 2 kali gue diturunin di tengah perjalanan, dan 1 kali gue diomel-omelin sama preman atau anak punk atau kang ngamen atau apalah itu namanya, itu loh..mereka yang suka nongkrong di lampu merah.

Semester 2 merupakan semester dengan jumlah sks terbanyak dibanding dengan semester sebelumnya atau di semester yang akan datang. itulah sebannya, gue mengurungkan niat gue untuk nambah sks. Dari total 22 sks sendiri, terbagi menjadi 8 mata kuliah, yaitu:

Pengantar Akuntansi 2
Gue heran banget sumpah!
Kalau bang Radit bilang ; "KENAPAAA? KENAPAAA? KENAPAAAAA?"

Kenapa gue nggak bisa pisah sama yang namanya Akuntansi? Gue kira, mata kuliah ini cuma ada di semester 1 doang, kenapa dia malah ngintilin gue di semester 2 juga? Lengkap satu paket dengan dosennya pula.

Kalau diibaratkan cowo, mungkin Akuntansi ini urat malunya udah bener-bener putus kali, ya? Udah berkali-kali ditolak, tapi tetep aja ngejar-ngejar.

Belum lagi, dosennya itu loh.. Dia itu adalah tipe dosen yang nggak mau kalah pinter dari mahasiswa-mahasiswanya. Makanya, gue males kalau ditanya sama dia. Jawab bener aja masih disalahin, apalagi jawab salah. Duh!

Kalau di semester 1 kemarin gue belajar tentang  Jurnal, buku  Besar, Laporan Keuangan Perusahaan Jasa dan Perusahaan dagang, di semester 2 akan dilanjutkan dengan Kas, Piutang, Persediaan, Aset tetap dan Aset tidak tetap. Jujur saja,semuanya sudah pernah gue pelajari di SMK, malah lebih lengkap. Bukannya gue sombong atau gimana ya, tapi serius, gue udah lupa semua sama materi itu, makanya gue males nginget-nginget lagi.

He..
He...

Pengantar Management
Ini adalah mata kuliah baru, alhamdulilah dosennya juga baru. Dari pengamatan sementara gue, dosen ini orangnya lumayan tegas, tapi nggak kiler, malah cenderung, asik, lucu, gemesin, kayak doraemon, agak gendats gitu deh pokoknya.
Eh.

Gue ini sebenernya anak IT atau anak Ekonomi sih? 
Alasan kenapa gue lebih milih jurusan IT, padahal background gue di Akuntasi adalah karena gue nggak suka sama teori. Tau sendiri kalau teori kan? Skill mengingatnya harus kuat, karena harus menghafal banyak materi.
Lah gue? Keluar  kosan mau ngambil anduk sampe di depan jemuran, malah masukin sepatu. 
Abis selesai ngomong di telpon, terus nanya ke temen sebelah “barusan aku ngomong apa ya? Denger ngga?”. 
Bisa dibayangkan betapa rendahnya skill mengingat gue itu.

Balik lagi ke Pengantar Management, untuk kurang lebih 6 bulan ke depan, gue akan mempelajari hal-hal yang nggak jauh-jauh dari sumberdaya manusia, organisasi, management ini, management itu, management nganu, ya pokoknya yang kayak gitu-gitu lah.

Setiap pertemuan, di 30 menit terakhir, akan ada persentasi dari setiap kelompok, 20 menit untuk baca slide, 10 menit untuk sesi tanya jawab. 

Jangan tanya siapa aja anggota kelompok gue, sedih lah kalau disebutinmah. Semoga aja ini cuma ketakutan gue doang, tapi mereka pernah satu kelompok sama gue, dulu.. aaahhh :”

Kalkulus
Kalau denger kata kalkulus, gue pasti inget sama mr Bean. Kenapa? pikir aja ndiri…
#digampar

Dosen kalkulus gue adalah dosen Algoritma di semester 1. Feeling gue udah mulai nggak enak, mengingat kemarin cuma mata kuliahnya dia doang yang dapet B.

Setelah membahas sedikit tentang materi yang akan dipelajari selanjutnya, gue yakin kalau gue bakalan muntah beling di setiap pertemuan. Jangankan buat dapet A, bisa dapet B aja kayaknya gue bakalan terseok-seok.

Gue sangat menyayangkan kenapa mata kuliah penting seperti Algoritma dan Kalkulus justru diampu oleh dosen yang tidak terlalu peduli dengan mahasiswanya.

“Kalau ada yang tidak mengerti, tanyakan. Kalau diam berarti kalian mengerti”

Lah, pak, kita diam karena kita bingung mau nanyain apa, semuanya nggak ngerti.

Padahal Logika Algoritma itu adalah pondasi awal yang harus dimiliki oleh seorang IT. Kenyatannya, ngambang doang gini, kayak pondasi rumah apung yang ada di laut. Termbang-abing, kayak hubunganmu sama dia, nggak tau mau dibawa kemana.

Belum apa-apa, gue udah dikasih tugas buat bikin makalah , nggak tau apa, kalau internet di pc gue udah diblock sama pabrik. Aaarrhhhh! Syaithoon!

Dari sini gue menyadari satu hal. Untungnya ketemu dosen baru adalah, pas pertemuan awal pasti bakalan kita habiskan buat perkenalan. Kan mayan.

Kalau ketemunya sama dosen lama, kejadiannya bakal kayak gini;

“Kita langsung saja ke materi yang pertama..”

“Kenalan dulu lah, pak…. ”

“Kan udah kenal..”

“Jangankan sama bapak, caranya nulis aja kita udah lupa…”

“Oh, gitu ya, yaudah, biar kalian inget caranya nulis, nanti tolong bikin makalah ini… blaa… blaaa. Blaa…”

Struktur Data
Sudah bisa dipastikan, kalau di mata kuliah ini gue bakalan dibikin mabok sama angka 0 dan 1, sama True and False.

Di semester 1 kemarin, gue bertemu dengan dosen ini di mata kuliah PTI. Agak kesel juga sih, karena metode belajar yang dia pake cara full presentasi yang dilakukan oleh mahasiswa.

Kabar baiknya, sekarang dia tidak memberikan tugas untuk presentasi lagi. Dan, kabar baik selanjutnya adalah, gue tidak dipertemukan dengan kajur gue di mata kuliah ini (e: Bu Nurasiah). Padahal, semester sebelumnya, kajur gue ngajar MK Struktur Data. Kenapa gue bilang kabar baik? Pikir- (hmm takut digampar lagi) karena kesan pertama gue waktu kali pertama ketemu kajur, adalah, Ngeri. Sejenis perasaan ngeri yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Matematika Diskrit
“Lu jangan sombong jadi orang, baru juga Aljabar, kita semua disini banyak yang udah nyelesein Kalkulus sama Matematika Diskrit” kata seseorang yang gue kenal dulu.

Gue diem.

Gue minder.

Gue tersinggung.

Waktu itu gue juga nggak tau apa itu Kalkulus dan Matematika Diskrit.

Walaupun kata-kata itu bukan ditujukan untuk gue, tapi gue merasa tertohok, karena saat itu kebetulan gue juga sedang dihadapkan sama soal Aljabar yang kampret abis.

“Yes! Akhirnya gue sekarang bisa ketemu sama kalkulus dan matematika diskrit” sorak gue dalam hati, sesaat setelah pengisian KRS.

Namun apa yang terjadi kawan-kawan? Gue teramat sangat menyesali perkataan gue tersebut.
Bayangan gue tentang Matematika Diskrit yang gue kira nggak bakal jauh beda sama Matematika pada umumnya ternyata salah.

Eh iya nggak sih? Kok gue malah disuruh belajar program php, program java, belajar pake vb, dan lain-lain. 
Jadi Matematika Diskrit itu pelajaran program? Atau bukan?
(kemudian inget tugas akhir disuruh bikin poject dari salah satu program itu)

Terangkanlahhh…
Terangkanlahhh….


PKn
MasyaAllah.. ini adalah sebuah keajaiban yang terjadi di hidup saya. Setelah 23746228311923 tahun lamanya tidak dipertemukan dengan mata pelajaran PKn, akhirnya, pada kesempatan kali ini saya bisa kembali menghapalkan pasal-pasal UUD 1945. Klik like dan ketik angka 1 di kolom komentar, lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya dosen yang ditunggupun masuk ke kelas.

“Kok saya nggak dipanggil ya, saya kan ada di ruang dosen” katanya sinis

“Anjiss! Roman-romannya horror ya ini dosen?” bisik gue sama Musa.

“Yasudah, kita mulai masuk ke materi!”

Hening seperempat detik

“Yaaah, pak, kita kan belum kenalan pak” kata anak-anak kompak, mirip paduan suara, cuma kurang dirigennya doang.

“Emang perlu ya? Belum tau nama saya?” sambil nunjukin map Absen

“Nih, nama saya…” lanjutnya lagi.

Gue kira dia itu beda dari dosen yang lain, tapi ternyata,

55 menit berlalu….

Dia masih cerita tentang dirinya,  anak-anaknya, tentang pekerjaannya dulu.

“Saya pernah jadi Camat, jadi Komandan di polri, saya pernah jadi anggota birokrat, bla..bla..bla..bla.. anak saya yang pertama dokter, yang kedua gelarnya doctor, yang ketiga, jadi perawat di rumah sakit anu, yang bungsu sekarang jadi pengacara, dia lulusan UI, nongkrongnya di anu-anu-anu…”

Di akhir cerita, dia tutup dengan.

“Seperti biasa, penilaian saya tidak jauh berbeda dengan dosen yang lain. 40% UAS, 30% UTS, 10% absensi, dan 20% Tugas..”

“Tugasnya individu atau kelompok, pak?” tanya gue.

“Tugas saya mudah ya, kalian tinggal membeli buku ini, kebetulan saya yang menulis ini…” papar dia sambil mengacung-acungkan bukunya.

“Modus, sia pak!” desis mulut salah seorang mahasiswa. 

Belakangan diketahui, kalau itu adalah mulut gue.

Coba aja ya kalau para penulis punya metode pamasaran yang jitu seperti dosen PKn gue untuk jual buku mereka.

English For Computer 
Di semester 1, sebenernya gue sudah belajar Bahasa inggris, tapi lebih ke Generalnya. Setiap kali pertemuan, kami diwajibkan untuk presentasi di depan kelas. Kami semua diberi waktu 60 detik untuk mengucapkan maksimal 20 kalimat.

Yang gue suka dari dosen ini adalah, dia tidak mewajibkan kami dibebaskan dalam hal grammar.

“Pokoknya, kalian harus ngomong pake Bahasa inggris dulu, grammarnya belakangan. Bapak yakin kalian sudah pintar dalam hal grammar. Setidaknya kalian sudah 9 tahun belajar grammar. Iya kan?”

Bener juga sih, selama ini, justru grammar yang menghambat gue untuk belajar Bahasa Inggris. Bikin ribet, jadinya malah males. Lagian, orang luar negri juga grammar-nya nggak bagus-bagus amat, malah kadang lebih berantakan dari kita.

Coba aja kalau selama 9 tahun kemarin gue lebih fokus sama belajar Bahasa Inggris tanpa dibayang-bayangi dengan grammar yang membingungkan.
mungkin sekarang...

Kayaknya sama aja sih, nggak bakal ada yang berubah.
wqwq

Mari kita tinggalkan semester 1.

“Beda dosen, beda juga cara nmengajarnya..” kata pertama yang diucapkan oleh dosen baru Bahasa inggris gue.

“Kemarin sama Pak Wahid, mungkin kalian dibebaskan dalam hal grammar, tapi tidak dikelas saya…” lanjutnya lagi.

KMVRTZ!

Padahal di krs jelas-jelas kalau Bahasa Inggris harusnya sama Pak Wahid, kenapa musti ganti dosen segala coba?

Sebelum gue ketemu sama pak Sir. Iya, namanya emang Sir. Gue juga nggak tau kenapa kok dia bisa punya nama Sir. Apa pas lahir ibunya sudah punya firasat kalau anaknya bakalan jadi dosen Bahasa Inggris? Cuman jadi awkward banget gitu pas gue manggil “Pak Sir…” (Pak Pak?), masa iya, gue mau manggil Sir doang... Atau lebih ena Sir Sir?

Nah, pak Sir ini terkenal sebagai dosen denga level ke-baper-annya yang tinggi. Gue sering denger ceritanya dari anak-anak yang pernah diajar sama dia.

Dia pernah minta mahasiswanya buat bikin semacam petisi ke FO supaya Pak Sir ini bisa ngajar di kelas mereka. Padahal, anak-anaknya sendiri seneng banget kalau nggak diajar sama dia.

Gue Rasa sih emang bener, terlebih pas dia bilang;
“Saya sebenarnya ngerasa kalau 2 sks itu masih kurang untuk mata kuliah saya. Bahkan dulu saya mau ngajar 3 sks, padahal saya dibayar untuk 2 sks saja…”

“Sabodo teuing lah, pak kuSir..
(Anjir kumisnya!!)

Program Web Design
Malam harinya, gue sempet download beberapa video-video 3gp kakek legend tentang Web Design. Bukan apa-apa, gue cuma nggak mau kelihatan terlalu polos aja di mata kuliah ini. Walaupun, ya, baru nonton semenit, gue udah nguap-nguap terus, akhirnya gue memutuskan untuk tetap lanjut nonton drama Korea sampai pagi. Keren!

Dari namanya, udah ketauan apa yang bakal gue pelajari di mata kuliah ini, yang pasti nggak bakal jauh dari ngoding, bikin web, dan ngedesign web. Kuncinya cuma satu, kita harus bisa kreatif.

Bagi yang udah nggak asing lagi sama dunia per-web-an, mungking ini jadi mata kuliah yang paling menyenangkan. Tapi bagi yang bener-bener buta sama dunia per-web-an macam gue ini, jangan ditanya deh.

Gue cuma plenggongan doang pas dosen lagi ngejelasin materinya, berasa kayak semua kata yang keluar dari mulut dosen mental gitu aja, nggak ada yang bisa terserap ke otak gue.

Sip, kayaknya gue memang salah jurusan.
“Kiri bang, saya berhenti disini aja, kayaknya udah kelewat jauh nih. Tadi kan saya mau ke pasar Pedok, kenapa jadi nyasar ke pasar Minggu?”
*kriik

Wuiiihhh kok jadi panjang banget gini ya?

Bentar… bentar, belum selesai, dikit lagi kok.

Untuk jadwal kuliah, seharusnya nggak ada masalah, kalau aja mata kuliah Web Design jadwlanya nggak bentrok sama jadwal kerja gue.

Yakali gue punya pintu kemana saja, gue keluar kerja jam setengah 3, kuliah juga mulainya setengah 3, buka pintu, langsung nyampe.

Akhirnya, mau tidak mau, gue harus nebeng di kelas lain.

Yaah..namanya nebeng, pasti jauh dari kata nyaman dong.

Ya Allah, mana ini nebengnya satu semester full, lagi.

Apa mending gue maksain diri ikut kelas sendiri ya? Tapi dengan resiko, gue pasti bakalan telat setidaknya satu jam.

12 Mar 2017

Random~

Ternyata minggu kemarin gue tidak memposting tulisan apapun…

ck.
Kadang hidup memang se-kampret ini.

Tapi, bukan Puti namanya kalau nggak punya segudang alasan untung membela diri atas kesalahan yang telah dia lakukan sendiri pada dirinya sendiri. 

Nah? Puyeng kan bacanya?

SAMA.

Minggu-minggu ini gue emang lagi sibuk banget. Walaupun katanya lagi libur kuliah, tapi kan tau sendiri kalau gue tetep kerja.

Sebenarnya, kalau aja gue mau melihat dari sisi baiknya, gue bisa mengatakan kalau gue beruntung. Karena untungnya, pas kerjaan lagi ribet-ribetnya, kuliah sedang libur. Tapi, ya gitu deh, gue lagi males mikir dari sisi yang baik. Yang jelas, badan gue sukses dibikin ringsek sama kerjaan.

DASAR KAU SAUS TAR-TAR! RAJUNGAN JELEK!! HUH!

Coba aja hari kebalikan itu benar-benar ada, mungkin gue yang akan balik ngerjain kerjaan gue, dan bikin kerjaan gue cape setengah hidup!

Gimana, tambah puyeng kan bacanya?

Apalagi gue, yang nulis.
Wqwq

Bukan cuma badan yang ringsek, gue sekarang nggak bisa bedain antara tangan gue dan pelabuhan. Liat aja nih, banyak kapal yang menepi di tangan gue ini. Selain mirip sama palabuhan, sepertinya tangan gue bisa digunakan untuk memarut kelapa juga, lho. 

Penderitaan gue semakin sempurna, karena  beberapa hari yang lalu, gue juga baru saja pindah kontrakan. Tau kan gimana capenya pindahan? Yaudah, nggak usah dibahas. Pokoknya capek banget kalau diceritain mah.

Alasan kenapa gue pindah kontrakan, karena salah satu temen gue mau nikah. Berhubung, barang-barang gue yang paling sedikit, makanya dengan perasaan tahu diri gue yang sangat besar, gue lah yang memutuskan untuk pindah.

Untung aja, kontrakan yang mau gue tempati nggak begitu jauh dari kontrakan lama gue.

Sebeloem

Sesoedah
hestek PutiYangTeroesir
Sebelum sama sesudah kok nggak ada bedanya ya?  

Anehnya, udah seminggu lebih gue menempati kontrakan baru , gue sama sekali belum pernah pupup. Padahalkan, kaatanya, kalau kita pupup di suatu tempat , itu tandanya kita betah di tempat tersebut.

Aahh, gue jadi galau nich gaes..

Tolong beri gue motivasi dong, untuk menghadapi ujian ini.

Tapi, bukan berati gue nggak pupup selama seminggu lohj ya. Gue pupunya selalu di tempat kerja.

Selain masalah pupup, gue juga punya masalah-masalh lain selama gue menempati kontrakan baru. 
- Kran air kamar mandi yang rusak, mau benerin tapi nggak bisa

- Nggak ada kulkasnya T.T
Iyalah! Kan kulkasnya punya temen gue di kontrakan lama.
Pengen beli kulkas, tapi pas inget saldo ATM... tiba-tiba gue mendengar salah satu lagunya Oppick yang seketika membuyarkan lamunan gue,
“Terangkanlahhh…terangkanlaaah…”
Belakangan diketahui, kalau ternyata temen gue lagi nonton FTV di Indos*ar.

- Kontrakannya panas
Soalnya ketutup bangunan yang lain yang lebih tinggi. Gue yang biasanya anti kipas, sekarang sama sekali nggak bisa jauh-jauh dari dia.

Yang mau bilang so sweet gue lempar batako nih! 

- Kunjungan pacar temen gue yang hampir setiap hari.
Awalnya sih gue biasa aja, tapi lama-lama kok, aduh… mereka sungguh sangat tidak ber-peri-ke-asmara-an! 

Tuhan kirim kan lah aku, kekasih yang baik hati..
yang seperti Nam Joo Hyuk,
yang seperti Park Hae Jin,
yang seperti Park Bo Gum,
yang seperti Yang Se Jong,
yang seperti Kim Woo Bin, 
yang seperti Lee Jong Seok,
yang mencintai aku, apa adaaaanyaaa......



Puti udah sehat kok, oppa. Kalau dinikahin oppa, pasti jadi sempurna.

Efek kebanyakan menghayal, gue sampai nggak ngeh, kalau ternyata beberapa hari lagi gue udah mulai kuliah.

Semester 2 tjoy…!

HAHAHAHHAHA
HAHAHA
HAHA
HA

Kuliah lagi…..

Xianjir! Mana Drama Korea lagi banyak yang bagus.
Huft :’(

Semangaat!
Walaupun umur udah bakalan nambah lagi beberapa bulan, gue nggak boleh kalah sama dedek-dedek gemes itu. Gue nggak boleh loyo..!
(Kemudian inget kalau kemaren gagal dapet IPS 4)
Loyo juga nggak apa-apa lah, namanya juga udag tua, wajar....

Gara-gara B setitik, rusak IPS sebelanga~
Tapi, nggak apa-apa, dari pada dapet D, mending B kemana-mana lah.

Jadi, kejadiannya gini..
Beberapa hari sebelum KHS dibagikan, semua nilai terlebih dulu diupload di web kampus. Mata gue tiba-tiba berkaca-kaca, ketika gue liat pengumuman nilai yang di web kampus. Berulangkali gue cek, siapa tau mata gue mines nya nambah, tapi ternyata apa yang gue lihat itu benar. Ya, gue sempet mau berhenti kuliah, pas gue tau kalau gue dapet nial D di salah satu mata kuliah.

Malu banget rasanya , apalagi semua nilai itu bisa dilihat sama semua mahasiswa. Siapa tahu calon jodoh gue ternyata ikutan lihat, dan dia tiba-tiba ilfeel setelah tau kalau gue se-bego itu.

"Jeongsincharyeo Puti, Jebal .." kata gue dalam hati.
(Sok Korea banget anjir!
oh iya, yang mau muntah, saya persilahkan)

Segera, gue kirim email perihal nilai gue itu sama dosen yang bersangkutan. Sambil menunggu balasan, gue kembali mengingat-ngingat apakah gue pernah membuat kesalahan selama UAS kemarin. Apakah gue ketahuan nyontek? tapi gue nggak nyontek kok, serius. Kalau nanya temen, iya. Apa gue tanpa sengaja telah menyinggung dosen gue itu? karena gue menyaingi kecantikannya? Tapi kan, cantik gue ini udah bawaan dari lahir.

Alhamdulillah, setelah dibikin deg-degan selama beberapa jam, akhirnya beliau membalas email gue, beliau mengatakan kalau ternyata ada salah penginputan nilai. Dan, akhirnya gue dapet nilai A untuk mata kuliah tersebut. 

Semoga aja di semester 2 gue bisa lebih baik lagi dari semester sebelumnya. 
Amiin..

Sekian postingan random dari gue, yang seperti biasa isinya ngelantur kemana-mana..

26 Feb 2017

Gagal Fokus

*lirik jam (padahal nggak punya jam dinding)

Eh ada kok, tapi udah mati lebih dari satu tahun yang lalu, dan di antara kami bertiga (gue, Fitroh dan Mba Susi)  tidak ada satupun yang mempunyai cukup waktu untuk mengganti baterainya.

Gimana sih? Katanya nggak punya jam dinding, tapi ada..

Ya punya, tapi jamnya mati..

Yang bener punya atau nggak punya? Nggak jelas banget dah!

Eh! Berantem aja yuk!

Yaah, biasalah, kami bertiga memang sibuk.
Mba Susi sibuk telponan sama pacarnya,
Fitroh sibuk diapelin pacarnya,
Puti sibuk mencampuri  urusan orang lain  dengan drama Korea-nya.

Oke daripada nanti ada yang beneran ribut, lirik jam diganti sama liat jam di pojok kanan bawah laptop aja…

“Wuooh daebak!!” (Eh, maaf. Kayaknya gue barusan kerasukan arwah Bae Zusy deh)
#kriik -_-

Bagi drakor freaks macham gue ini, marathon drama sampai jam segini itu udah nggak aneh lagi. Buka laptop dari jam 3 siang, tau-tau liat jam udah jam setengah 3 pagi (diselingi makan, mandi, sama sholat, kok).

Kalau difikir-fikir gue sama pencandu rokok itu hampir tidak ada bedanya, kalau pecandu rokok, sebelum ngapa-ngapain, dia pasti bilang “sebat duls ah…” dan baru bisa berhenti, disebat yang ke-12. Kalau gue, setiap kali buka laptop, pasti bilang  “ah, nonton satu episode dulu ngga apa-apa kali, cuma sejam, itung-itung pemanasan mata”.

Satu jam berlalu, dan satu episode selesai.

“Lah, nanggung banget, penasaran, satu lagi deh…”

Gitu aja terus sampai tau-tau udah mau episode terakhir.

Kayak sekarang ini, tadinya gue hampir saja khilaf buat menghatamkan drama yang baru saja gue tonton (Qur’an noh dikhatamin). Untung aja gue sadar, kalau ternyata besok itu hari Sabtu, jadwal gue untuk bikin postingan di blog.

Xianjiir! Penting banget emang?!
 
Penting lah, untuk menunjukan sama diri gue sendiri kalau gue bisa konsisten sama diri gue sendiri juga. Muehehe

Drama yang barusan gue tonton adalah drama Korea yang sudah cukup lama tayang di Korea, hmmm sekitar bulan Juli 2016, judulnya adalah “Uncontrollably  Fond”.

Ada yang tau? Enggak ada?

Oh. Oke. :’””)

Gue sendiri nggak tau apa arti dari Uncontrollably Fond, jangan kan artinya, untuk melafalkannya saja, lidah gue rasanya mau kecengklak. Nah, maka dari itu demi keselamatan lidah gue, lebih ena kalau gue menyingkatnya menjadi  “UF”.

Sip! Puti memang cerdas!

Bentar,
Kok gue mules…
-
-

Ini serius gue abis dari kamar mandi beneran loh..
#kriik -_-(2)

Kamar mandi di kontrakan gue gelap karena lampunya mati beberapa bulan yang lalu, dan lagi-lagi, diantara kami bertiga, tidak ada satupun yang mau menggantinya.

Tapi kali ini bukan karena kami kami nggak punya waktu, melainkan karena “Langit-langitnya tinggi banget, anjeer!”, jadi, yaudah pasrah aja. Meskipun, saat malam kami harus lebih waspada terhadap makhluk yang tidak diharapkan hadir di kamar mandi. Apalagi kalau bukan....

kecoa.

Kecoa merupakan makhluk mitologi kuno yang konon bagi orang-orang tertentu kehadirannya lebih menakutkan dari pada kehadiran mantan. Orang-orang tertentu yang dimaksud adalah gue sendiri.

Entah kenapa, gue bisa biasa aja setiap hari ketemu mantan, dan bahkan masih sering di-ciye-ciye-in sama juga temen kerja. Gue bisa dengan mudah mengabaikan mantan gue ketika kita berdua papasan. Lain halnya dengan kecoa, bahkan sebelum kita papasaan (dengan jarak masih 2 meter-an lah), gue udah histeris duluan, kabur dan langsung mencari perlindungan buat ngumpet.

Padahal dibandingkan dengan mantan gue, ukuran kecoa itu berkali-kali lipat jauh lebih kecil (menurut analisa sementara gue, mungkin kira-kira lebih dari 720x lipatnya).

Ah iya, gue inget.

Dari segi ukuran, mungkin ukuran kecoa kalah jauh dari ukuran mantan gue. Tapi, di luar itu semua, ternyata gue punya lebih banyak kenangan buruk dengan kecoa-kecoa lucknut itu dibandingkan dengan kenangan buruk dari mantan gue.

Inilah beberapa kenangan bersama kecoa yang masih terekam dengan jelas di memori otak gue.

Kenangan pertama.
Puti Andini saat remaja, pernah iseng nyemprot sarang kecoa dengan semprotan nyamuk baygon, yang berakhir dengan penyerbuan yang dilakukan oleh  gerombolan warga kecoa yang ada di sarang tersebut.

Hal itu menyebabkan trauma yang sangat mendalam bagi gue, dan juga adik gue, Aldo. Padahal saat itu, Aldo sama sekali nggak tau apa-apa.  Aldo yang sedang khusyuk nonton tv di ruang tamu, tiba-tiba kaget liat gue lari pontang panting kayak dikejar Satpol PP. 

Setelah tau kalau kakaknya ternyata dikejar oleh banyak sekali kecoa, kemudian barulah Aldo ikut-ikutan bereaksi. Berdiri-teriak-panik-nangis.

Kalau ngebayangin kondisi gue dan Aldo saat itu, rasanya bikin bulu kuduk gue merinding.  Pokoknya, setelah kejadian itu, gue jadi tau satu hal; ‘Rasa takut Aldo terhadap kecoa lebih besar dari pada gue”

Kenangan kedua.
Kejadian bermula ketika sekolah sedang melakukan fogging. Setelah fogging selesai, para siswapun diminta untuk masuk kembali ke kelasnya masing-masing. 

Awalnya memang tidak terjadi apa-apa. Tapi beberapa menit setelah asap fogging hilang, bencana mulai datang, tidak tanggung-tanggung, bukan cuma segerombol warga kecoa lagi yang muncul, mungkin semua populasi kecoa yang ada di sekolah gue saat itu berhamburan keluar.
Ada kecoa yang terbang.
Ada kecoa yang terlentang sambil muter-muter.
Ada kecoa yang jalan.
Ada kecoa yang lari.
Ada kecoa yang kayang.
Mungkin malah ada kecoa yang cinlok juga.

Hampir semua siswa dibuat panik oleh gaya para kecoa itu, mereka (siswa) berteriak histeris, bahkan ada satu orang siswi perempuan yang nekat naik keatas meja, kemudian berlari dari satu meja ke meja lainnya menuju ke arah pintu keluar sambil nangis.

Iya, itu gue.

Kenangan ketiga.
Gue juga pernah dikunjungi geng kecoa (gue inget banget jumlahnya ada 6) , pas tengah malem . Karena kamar gue full poster artis-artis Korea, otomatis suara kaki kecoa yang sedang merabat di tembok yang ada posternya berhasil bikin gue terbangun dan terusir dari kamar gue sendiri.
Sedeh!! :’(

Kenangan ke-empat.
Ini yang paling epic dari semuanya!
Saat itu, gue baru saja pulang dari nyasar sama pacar gue (yang sekarang udah jadi mantan). Muter-muter selam 3 jam di daerah karawaci sukses bikin gue marah sama dia. Sepanjang perjalanan pulang gue memilih untuk mendiamkan dia.

Ketika gue sedang fokus manyun, tiba-tiba ada sesuatu yang nemplok di muka gue! deket idung, deket mulut! Yaa, disitu lah pokoknya.  Kalian tau itu apa? IYA, KECOA!

Ada kecowah nemplok di muka gue woy!!!

Bisa kalian bayangin nggak gimana perasaan gue?
Enggak kan?

Hah? Kok bisa nemplok di muka? Emang nggak pake helm?

Pake lah! Cuma….. kacanya gue buka… :””)

Selain 4 kenangan buruk itu,  ada kenangan awkward bersama kecoa yang pernah gue alamin juga.

Waktu itu, gue sama Meta lagi makan di salah satu angkringan yang ada di Citra Raya. Saat sedang asik-asiknya makan sambil ngobrol, munculah satu kecoa yang berlari ke arah gue dan Meta. Gue langsung sigap berdiri, dan siap-siap untuk lari, sementara itu Meta masih duduk sambil ngetawain gue yang lagi panik.

“Puti lebay banget sih?! Tuh kecoanya udah ilang tuh, mana nggak ada? udah duduk lagi aja sih"

“Takut sama kecoa itu wajar kali, dari pada kamu, takut sama kucing, kan malah aneh!”

“Kecoa itu kan lucu, Put”

“Lucu ko ndine, Ta?”

Itu lah Meta, takut sama kucing dan malah bilang kalau kecoa itu lucu.

Setelah memastikan bahwa kecoa itu sudah pergi, gue kembali duduk untuk melanjutkan makan.

“Eh, tadi ngomong-ngomong kecoanya kemana ya, Put?”

“Lah, nggak tau, tadi katanya udah pergi?”

“Jangan-jangan kecoanya masuk ke gelas ini lagi?” Meta nunjuk gelas yang berisi jahe susu miliknya.

Meta masih belum berhenti ngeledekin gue, sampai tiba-tiba…
 “Putiiii…. Ini apaaaan?!!”

“Apasih, Ta?!”

 “Inii…” Meta menyodorkan piring makannya.

“ANJEEERRRR!”

Ternyata kecoa yang tadi menghilang, bukan nyemplung ke jahe susu tapi malah bersarang di makanannya Meta.

“Masih untung nggak kamu makan ya, Ta? Kan nggak keliatan kayak kecoa, siapa tau kamu mikirnya itu baso bakar”

Setelah kejadian itu, gue sama Meta nggak pernah datang lagi ke angringan tersebut. Padahal sebelumnya itu adalah tempat favorite kami berdua.

Sek.. sek…
Loh? Iki ngopo dadi ngomongke coro yo?
Wah Puti iki, cen ra beres uteke..

Oh , iya ya? Tadi kan di atas lagi ngomongin drama Korea kan ya? Kenapa malah jadi gagal fokus ngebahas kecoa?

Ehm..

Uncontrollably Fond atau UF..

Nganu…

Lah, gue lupa mau cerita apaan jadinya…

#kriik -_-(3)

***

Meanwhile di dunia kecoa



Sedikit informasi buat kalian juga nih,
Menurut komik chibimarukochan yang pernah gue baca "jika kita melihat 1 kecoa, maka ada 40 kecoa lainnya yang sedang bersembunyi"


19 Feb 2017

Kasih yang tak Sampai

Ada beberapa hal di masalalu yang sampai sekarang ini masih membebani perasaan gue. beberapa hal tersebut memang belum terselesaikan, sehingga masih menggantung sedemikian rupa dan meninggalkan sebuah pertanyaan seperti ; “Gimana jadinya kalau dulu gue…?”

Wuanjer! Pembukaannya kenapa jadi drama banget gini?
Tolong kasih Puti nasi bungkus, teman-teman!

Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, gue sudah mulai menyukai seseorang. Bisa dibilang gue adalah perempuan mata keranjang (bahkan mungkin sampai sekarang). Gue bisa dengan mudahnya menyukai seseorang yang baru saja gue kenal.
  
Yeah Puti memang SWAG dari kecil!

"Ramanda Pratama Hardiansyah.... "
Seorang anak laki-laki dengan mata bulat dan gigi kelinci maju ke depan kelas, saat ibu guru memanggil namanya untuk membagikan buku tabungan.

Tidak banyak memori yang gue ingat tentang Rama. Hal yang gue ingat hanyalah, Rama pindah sekolah saat kelas 1 SD dan kembali lagi ketika kami semua naik kelas 3. Rama adalah anak nakal yang suka bolos.

Gue tahu rumah Rama ketika gue dan teman-tenan sekelas datang ke rumahnya untuk mencoba membujuk Rama setelah rama bolos sekolah sekitar 2 minggu. 

Setelah gue tahu rumah Rama, gue semakin sering jalan lewat di jalan dekat rumah Rama, berharap saat gue lewat, gue bisa melihat Rama. Tapi sayang, gue sama sekali tidak pernah melihatnya.
 
Pukpuk  Puti

"lewat situ kan kejauhan, Put!" protes salah seorang teman gue.

"Hehe, yaudah, nanti kita ketemu di depan aja yah" jawab gue sambil ngeloyor sendiri.

Di pertengahan semester kelas 3 (lupa, waktu itu udah senester atau masih catur wulan), giliran gue yang pindah sekolah. Sama halnya dengan Rama, gue tidak lama pindah dan akhirnya kembali lagi ke sekolah lama gue. Teman-teman gue bilang, saat gue pergi, Rama sering menanyakan tentang gue, mereka bilang Rama menyukai gue dan ingin memberikan sesuatu untuk gue.

Belum lama setelah gue mendengar gosip menyenangkan itu, Rama ternyata sudah pacaran dengan orang lain.

Rama, kelas 4SD sudah pacaran.
Begitulah cinta monyet gue berakhir dengan cara yang sangat cupu.

Pernah beberapa kali gue mencoba untuk mencari Rama di Internet, namun tidak pernah berhasil. Menurut gue, hanya ada dua kemungkinan kenapa gue tidak bisa menemukam Rama ; pertama, bisa saja nama Rama yang selama ini gue ingat ternyata salah. Yang kedua, mungkin saja gue sudah menemukan Rama, tapi Rama sudah banyak berubah, sehingga gue tidak bisa mengenalinya.

Who knows?

Jika suatu saat nanti gue bisa bertemu Rama lagi, gue hanya ingin menanyakan satu hal;
"Rama, apa bener dulu Rama suka Puti?"

***

Saat gue naik kelas 5 SD, tepatnya di sekolah yang berbeda lagi. Ada satu orang murid laki-laki yang namanya paling sulit untuk gue ucapkan “Dedi Pramono”.

Sebenarnya ini adalah ulah teman-teman gue yang selalu mencice-ciyekan gue dan Dedi. Lama-kelaman gue jadi salah tingkah sendiri sampai-sampai untuk mengucapkan namanya saja gue tidak bisa.

Bisa kalian bayangkan betapa geroginya gue saat itu.

Ini kenapa gue jadi senyum-senyum sendiri anjerr!

Setelah gue lulus SD, gue kehilangan kontak semua teman-teman gue di SD, karena ya.. lagi-lagi gue pindah dan memutuskan untuk melanjutkan SMP di daerah lain.

Gue dan Dedi akhirnya bertemu kembali ketika kita berdua masuk SMK yang sama, hanya saja tidak satu kelas seperti dulu. Di SMK, gue bertemu dengan beberapa teman perempuan Dedi saat di SMP, bahkan beberapa diantaranya menjadi  teman kelas gue.

Anehnya, reaksi teman-teman SMP Dedi saat berkenalan dengan gue adalah “Oooh, ini Puti yang katanya pacarnya Dedi pas di SD itu ya?”

W-w-what? Pacar? Nyebut namanya doang aja bikin gue pengin pipis di rok.

Singkat cerita, Dedi akhirya pacaran dengan perempuan lain dan masih langgeng sampai saat ini.

Gue belum sempat memberi tahu Dedi bahwa gue pernah menyukainya (lagi) ketika gue bertemu kembali dengan Dedi di SMK.

Kok jadi sedeh gini sih. Bangque!

Dedi kecil dengan model rambut jambulnya berhasil membuat gue terpesona. Dedi yang sekarang, lebih mirip prajurit korea selatan yang sedang mengikuti wamil, dengan rambut plotos dan mata sipitnya.

Cinta monyet yang sempat besemi kembali akhirnya kandas juga.
Monyet nih dasar!



***

Degg!!

“ini orang kenapa megang tangan gue sih?..”
Di samping gue terlihat seorang anak laki-laki dengan kulit putih yang sedang cengengesan sambil mencoba buat memegang tangan gue.

“Semuanya rentangkan tangan kalian yang benar !” bentak para senior panitia MOS.

Pertama kalinya gue bertemu dengan Acep Maryono saat pembukaan acara MOS di SMP. Siapa sangka ternyata gue dan Acep ditakdirkan menjadi teman satu kelas.

Yang paling gue ingat tentang Acep adalah :
Acep adalah teman sebangku gue.
Acep sering marah karena Acep selalu mendapat peringka ke 2 gara-gara gue.
Acep tidak bisa menyebutkan “s” dengan benar.
Acep dulu sering dibilang (maaf) banci, karena Acep lebih suka bergaul bersama anak-anak perempuann.
Acep selalu marah apabila gue menulis di bukunya. Acep bilang “tulisan kamu itu jelek! Jangan nulis di buku ku” sementara Acep sendiri sangat hobi menulis di buku-buku gue.
Acep adalah musuh gue ketika jam pelajaran berlangsung.

Karena kedekatan gue dan Acep, teman-teman lain sering menyangka kalau secara diam-diam gue dan Acep berpacaran. Meskipun tuduhan mereka tidak benar, tetapi gue tidak menyangkal, kalau sebenarnya gue juga mengharapkan hal itu.

Karena merasa tidak enak dengan teman-teman, apalagi saat itu Acep sudah mempunyai seorang pacar, akhirnya gue perlahan menjauhi Acep. Kalau tidak salah ingat, gue dan Acep memang sepakat untuk membatasi diri masing-masing agar tidak sedekat sebelumnya. Akhirnya gue dan Acep benar-benar menjadi jauh.

Jujur, itu adalah sakit hati pertama yang gue rasakan.

Melihat Acep dekat dengan banyak siswa perempuan membuat gue sangat marah. Puncaknya ketika gue melihat Acep memegang tangan salah seorang kakak kelas di depan mata gue sendiri saat acara PerJuSa (Perkemahan Jum’at Sabtu) ketika api unggun sedang berlangsung.

Acep seperti telah benar-benar melupakan gue, sementara perasaan gue terhadap Acep semakin besar. 

Tidak hanya itu, saat kenaikan kelas 8, ternyata gue dan Acep berbeda kelas. Gue semakin kehilangan sosok Acep, orang yang dulu sering bersama gue.

Untuk menyembunyikan kesedihan gue, sering kali gue mengabaikan Acep apabila tidak sengaja gue berpapasan dengannya di Sekolah. Hubungan gue dan Acep semakin memburuk, sampai akhirnya gue pindah sekolah lagi. ( Tapi gue pindah sekolah bukan gara-gara Acep juga sih).

Selesai upacara 17-an(th 2008), gue memutuskan untuk berpamitan dengan semua teman-teman gue termasuk Acep. Setelah tidak bertegur sapa selama beberapa bulan (iya, gue marah nggak jelas sama Acep cuma gara-gara cemburu), gue memberanikan diri untuk menemui Acep. Dengan tangan gemetar, gue mengucapkan salam perpisahan kepada Acep dan meminta maaf atas sikap gue selama beberapa bulan kebelakang.
Jujur aku tak kuasa, Saat terakhirku genggam tanganmu.
Namun yang pasti terjadi, kita mungkin tak bersama lagi.
Bila nanti esok hari, kutemukan dirimu bahagia.
Ijinkan aku titipkan, kisah cinta kita selamanya.
- Kerispatih (Demi Cinta) menjadi lagu favorite gue selama beberapa waktu.

Setelah gue pindah ke Jakarta, entah kenapa pertemanan gue dan Acep kembali membaik. Kita sering telponan untuk sekadar menanyakan materi perlajaran.

Suatu hari, tanpa disangka tiba-tiba Acep menyatakan perasaannya sama gue lewat telpon. Acep mengajak gue untuk pacaran. Gue bahagia bukan main, ternyata cinta gue tidak bertepuk sebelah tangan.

Begonya, gue malah menolak Acep.

Mungkin ini alasan, kenapa sampai saat ini gue merasa masih ada hal yang belum selesai dengan Acep. Padahal, mungkin Acep sendiri sudah tidak ingat lagi kalau dia pernah meminta gue untuk menjadi pacarnya


***


Karena hubungan gue dan Dedi mempunyai tingkat kemustahilan yang sangat tinggi utuk bisa berlanjut kejenjang pacaran, dengan menyisakan senyum kecut,  gue putuskan untuk mengikhlaskan Dedi.


Dan, Violaa!

Tidak lama setelah itu, gue akhirnya kembali menemukan sosok laki-laki yang berhasil mencuri perhatian gue. Dia adalah teman satu kelas sepupu gue, namanya Saefur Amin.

Berbeda dengan teman-teman sepupu gue yang lain, yang sering mengganggu gue, Saefur Amin justru orang yang sangat pendiam. Dia jarang bergabung dengan teman-teman sekelasanya. Tanpa sadar,hal itu lah yang membuat gue tertarik dengan Amin.

"Kenapa sih suka sama Amin? Dia kan orangnya aneh, mending sama yang lain aja dari pada sama dia?" kata sepupu gue suatu ketika.
 
Kesalahan terbesar gue adalah, membiarkan seluruh dunia tau kalau gue menyukai Amin. Padahal mungkin hal itu malah membuat Amin jadi Ilfeel sama gue.

Meskipun begitu, Amin tidak lantas menunjukan ketidak sukaannya terhadap gue secara langsung. Dia tetap mau membalas sms gue.

Sampai suatu ketika, sepupu gue membajak hp gue untuk meng-sms Amin dan menyatakan perasaan gue. Hasilnya, gue ditolak dengan alasan Amin belum boleh pacaran sama bapaknya
.
Xianying!

Gini amat nasib gue!

Berita tentang gue dan Aminpun akhirnya menyebar dengan cepat. Parahnya, yang justru nyiyirin gue adalah kakak-kakak kelas.

Belakangan gue tahu ternyata, kakak kelas yang nyiyirin gue adalah teman-teman dari pacarnya Amin. Dan setelah kejadian ini gue sangat yakin kalau Aminlah yang menyebarkan berita penolakan dia sama gue.

Hari itu juga gue langsung datang ke kelas nya Amin. Dalam bahasa gaul, kita biasa menyebutnya dengan melabrak. Gue menemui Amin untuk mengklarifikasi bahwasanya, yang mengirimi dia sms bukanlah gue, tapi sepupu gue.

Dia tidak pernah mengatakan dia tidak menyukai gue, dia tetap berhubungan baik dengan gue, dan tanpa sepengetahuan gue, dia malah sudah berpacaran dengan orang lain. 

Sudah kena php, eh malah ditinggal jadian sama orang lain.

Seketika, gue yang awalnya sangat respect sama Amin, berubah menjadi benci setengah mati.


***
Gue baru sadar, ternyata gue tidak punya kisah kasih di sekolah. Dari SD sampai gue lulus SMK,  gue bertahan menyandang predikat sebagai jomblo yang lumayan ngenes.

Benar-benar sebuah konsistensi yang sangat warbyasak!

Demikian sekelumit kisah asmara gue yang sama sekali tidak menginspirasi, tapi gue harap ada pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman-pengalaman kurang beruntung gue. Seperti ; jangan terlalu percaya perkataan teman tentang gebetan kita dan yang paling penting, tetap waspada karena sekarang tukang php populasinya semakin banyak.

"Halah~ bilangnya di-phpin, padahal elunya aja yang gampang baper !"
- pembelaan mainstream seorang laki-laki

Aku Adalah

Puti Andini

Pengabdi Wifi Telkom...

Bagian dari

Your Lucky Number

Kategori