Welcome Semester 2
Biasanya, awal masuk sekolah itu identik dengan
hal-hal baru. Mata pelajaran baru, guru baru, tas baru, baju baru, badge kelas baru,
buku baru, sepatu baru, gebetan baru (kalau cowok biasanya ngegebet dedeq-dedeq
gemes yang baru masuk).
Minggu ini adalah awal pertemuan dengan dosen
di semester 2. Dari ke-8 dosen yang mengajar, seharusnya gue bertemu dengan 6 dosen baru, tapi entah kenapa, pas masuk, ternyata hanya 4 saja yang baru, 4 lainnya adalah dosen gue di
semester 1 kemarin (tuh kan, ternyata, dosen juga nggak baru semua :’().
Minggu pertama kuliah ini bener-bener penuh
perjuangan. Aslik!
Gimana enggak, 4 kali gue berangkat kuliah, 2 kali gue
diturunin di tengah perjalanan, dan 1 kali gue diomel-omelin sama preman atau anak
punk atau kang ngamen atau apalah itu namanya, itu loh..mereka yang suka nongkrong
di lampu merah.
Semester 2 merupakan semester dengan jumlah sks
terbanyak dibanding dengan semester sebelumnya atau di semester yang akan datang. itulah sebannya, gue mengurungkan niat gue untuk nambah sks. Dari
total 22 sks sendiri, terbagi menjadi 8 mata kuliah, yaitu:
Pengantar Akuntansi 2
Gue heran banget sumpah!
Kalau bang Radit bilang ; "KENAPAAA? KENAPAAA?
KENAPAAAAA?"
Kenapa gue nggak bisa pisah sama yang namanya Akuntansi? Gue kira, mata kuliah ini cuma ada di semester 1 doang, kenapa dia
malah ngintilin gue di semester 2 juga? Lengkap satu paket dengan dosennya
pula.
Kalau diibaratkan cowo, mungkin Akuntansi ini
urat malunya udah bener-bener putus kali, ya? Udah berkali-kali ditolak, tapi
tetep aja ngejar-ngejar.
Belum lagi, dosennya itu loh.. Dia itu adalah
tipe dosen yang nggak mau kalah pinter dari mahasiswa-mahasiswanya. Makanya,
gue males kalau ditanya sama dia. Jawab bener aja masih disalahin, apalagi
jawab salah. Duh!
Kalau di semester 1 kemarin gue belajar
tentang Jurnal, buku Besar, Laporan Keuangan Perusahaan Jasa dan
Perusahaan dagang, di semester 2 akan dilanjutkan dengan Kas, Piutang, Persediaan,
Aset tetap dan Aset tidak tetap. Jujur saja,semuanya sudah pernah gue pelajari
di SMK, malah lebih lengkap. Bukannya gue sombong atau gimana ya, tapi serius,
gue udah lupa semua sama materi itu, makanya gue males nginget-nginget lagi.
He..
He...
Pengantar Management
Ini adalah mata kuliah baru, alhamdulilah
dosennya juga baru. Dari pengamatan sementara gue, dosen ini orangnya lumayan
tegas, tapi nggak kiler, malah cenderung, asik, lucu, gemesin, kayak doraemon, agak gendats gitu deh pokoknya.
Eh.
Gue ini sebenernya anak IT atau anak Ekonomi
sih?
Alasan kenapa gue lebih milih jurusan IT, padahal background gue di
Akuntasi adalah karena gue nggak suka sama teori. Tau sendiri kalau teori kan?
Skill mengingatnya harus kuat, karena harus menghafal banyak materi.
Lah gue? Keluar
kosan mau ngambil anduk sampe di depan jemuran, malah masukin sepatu.
Abis selesai ngomong di telpon, terus nanya ke temen sebelah “barusan aku
ngomong apa ya? Denger ngga?”.
Bisa dibayangkan betapa rendahnya skill
mengingat gue itu.
Balik lagi ke Pengantar Management, untuk
kurang lebih 6 bulan ke depan, gue akan mempelajari hal-hal yang nggak
jauh-jauh dari sumberdaya manusia, organisasi, management ini, management itu,
management nganu, ya pokoknya yang kayak gitu-gitu lah.
Setiap pertemuan, di 30 menit terakhir, akan
ada persentasi dari setiap kelompok, 20 menit untuk baca slide, 10 menit untuk
sesi tanya jawab.
Jangan tanya siapa aja anggota kelompok gue,
sedih lah kalau disebutinmah. Semoga aja ini cuma ketakutan gue doang, tapi
mereka pernah satu kelompok sama gue, dulu.. aaahhh :”
Kalkulus
Kalau denger kata kalkulus, gue pasti inget
sama mr Bean. Kenapa? pikir aja ndiri…
#digampar
Dosen kalkulus gue adalah dosen Algoritma di semester 1. Feeling gue udah mulai nggak enak, mengingat kemarin cuma
mata kuliahnya dia doang yang dapet B.
Setelah membahas sedikit tentang materi yang
akan dipelajari selanjutnya, gue yakin kalau gue bakalan muntah beling di
setiap pertemuan. Jangankan buat dapet A, bisa dapet B aja kayaknya gue bakalan
terseok-seok.
Gue sangat menyayangkan kenapa mata kuliah
penting seperti Algoritma dan Kalkulus justru diampu oleh dosen yang tidak
terlalu peduli dengan mahasiswanya.
“Kalau ada yang tidak mengerti, tanyakan. Kalau
diam berarti kalian mengerti”
Lah, pak, kita diam karena kita bingung mau
nanyain apa, semuanya nggak ngerti.
Padahal Logika Algoritma itu adalah pondasi
awal yang harus dimiliki oleh seorang IT. Kenyatannya, ngambang doang gini,
kayak pondasi rumah apung yang ada di laut. Termbang-abing, kayak hubunganmu
sama dia, nggak tau mau dibawa kemana.
Belum apa-apa, gue udah dikasih tugas buat
bikin makalah , nggak tau apa, kalau internet di pc gue udah diblock sama
pabrik. Aaarrhhhh! Syaithoon!
Dari sini gue menyadari satu hal. Untungnya
ketemu dosen baru adalah, pas pertemuan awal pasti bakalan kita habiskan buat
perkenalan. Kan mayan.
Kalau ketemunya sama dosen lama, kejadiannya
bakal kayak gini;
“Kita langsung saja ke materi yang pertama..”
“Kenalan dulu lah, pak…. ”
“Kan udah kenal..”
“Jangankan sama bapak, caranya nulis aja kita
udah lupa…”
“Oh, gitu ya, yaudah, biar kalian inget caranya
nulis, nanti tolong bikin makalah ini… blaa… blaaa. Blaa…”
Struktur Data
Sudah bisa dipastikan, kalau di mata kuliah ini
gue bakalan dibikin mabok sama angka 0 dan 1, sama True and False.
Di semester 1 kemarin, gue bertemu dengan dosen ini di mata kuliah PTI. Agak kesel juga sih, karena metode belajar yang dia pake cara full presentasi yang dilakukan oleh mahasiswa.
Kabar baiknya,
sekarang dia tidak memberikan tugas untuk presentasi lagi. Dan, kabar baik
selanjutnya adalah, gue tidak dipertemukan dengan kajur gue di mata kuliah ini (e: Bu Nurasiah).
Padahal, semester sebelumnya, kajur gue ngajar MK Struktur Data. Kenapa gue
bilang kabar baik? Pikir- (hmm takut digampar lagi) karena kesan pertama gue
waktu kali pertama ketemu kajur, adalah, Ngeri. Sejenis perasaan ngeri yang
tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Matematika Diskrit
“Lu jangan sombong jadi orang, baru juga Aljabar, kita semua disini banyak yang udah nyelesein Kalkulus sama Matematika Diskrit” kata seseorang yang gue kenal dulu.
Gue diem.
Gue minder.
Gue tersinggung.
Waktu itu gue juga nggak tau apa itu Kalkulus dan Matematika Diskrit.
Walaupun kata-kata itu bukan ditujukan untuk
gue, tapi gue merasa tertohok, karena saat itu kebetulan gue juga sedang
dihadapkan sama soal Aljabar yang kampret abis.
“Yes! Akhirnya gue sekarang bisa ketemu sama
kalkulus dan matematika diskrit” sorak gue dalam hati, sesaat setelah pengisian
KRS.
Namun apa yang terjadi kawan-kawan? Gue teramat
sangat menyesali perkataan gue tersebut.
Bayangan gue tentang Matematika Diskrit yang
gue kira nggak bakal jauh beda sama Matematika pada umumnya ternyata salah.
Eh iya nggak sih? Kok gue malah disuruh belajar program
php, program java, belajar pake vb, dan lain-lain.
Jadi Matematika Diskrit itu
pelajaran program? Atau bukan?
(kemudian inget tugas akhir disuruh bikin poject
dari salah satu program itu)
Terangkanlahhh…
Terangkanlahhh….
PKn
Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya dosen yang ditunggupun masuk ke kelas.MasyaAllah.. ini adalah sebuah keajaiban yang terjadi di hidup saya. Setelah 23746228311923 tahun lamanya tidak dipertemukan dengan mata pelajaran PKn, akhirnya, pada kesempatan kali ini saya bisa kembali menghapalkan pasal-pasal UUD 1945. Klik like dan ketik angka 1 di kolom komentar, lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Kok saya nggak dipanggil ya, saya kan ada di
ruang dosen” katanya sinis
“Anjiss! Roman-romannya horror ya ini dosen?”
bisik gue sama Musa.
“Yasudah, kita mulai masuk ke materi!”
Hening seperempat detik
“Yaaah, pak, kita kan belum kenalan pak” kata
anak-anak kompak, mirip paduan suara, cuma kurang dirigennya doang.
“Emang perlu ya? Belum tau nama saya?” sambil
nunjukin map Absen
“Nih, nama saya…” lanjutnya lagi.
Gue kira dia itu beda dari dosen yang lain,
tapi ternyata,
55 menit berlalu….
Dia masih cerita tentang dirinya, anak-anaknya, tentang pekerjaannya dulu.
“Saya pernah jadi Camat, jadi Komandan di
polri, saya pernah jadi anggota birokrat, bla..bla..bla..bla.. anak saya yang
pertama dokter, yang kedua gelarnya doctor, yang ketiga, jadi perawat di rumah
sakit anu, yang bungsu sekarang jadi pengacara, dia lulusan UI, nongkrongnya di
anu-anu-anu…”
Di akhir cerita, dia tutup dengan.
“Seperti biasa, penilaian saya tidak jauh
berbeda dengan dosen yang lain. 40% UAS, 30% UTS, 10% absensi, dan 20% Tugas..”
“Tugasnya individu atau kelompok, pak?” tanya
gue.
“Tugas saya mudah ya, kalian tinggal membeli
buku ini, kebetulan saya yang menulis ini…” papar dia sambil mengacung-acungkan
bukunya.
“Modus, sia
pak!” desis mulut salah seorang mahasiswa.
Belakangan diketahui, kalau itu adalah mulut gue.
Coba aja ya kalau para penulis punya metode pamasaran yang jitu seperti dosen PKn gue untuk jual buku mereka.
Coba aja ya kalau para penulis punya metode pamasaran yang jitu seperti dosen PKn gue untuk jual buku mereka.
English For Computer
Di semester 1, sebenernya gue sudah belajar Bahasa inggris, tapi lebih ke Generalnya. Setiap kali pertemuan, kami diwajibkan untuk presentasi di depan kelas. Kami semua diberi waktu 60 detik untuk mengucapkan maksimal 20 kalimat.
Di semester 1, sebenernya gue sudah belajar Bahasa inggris, tapi lebih ke Generalnya. Setiap kali pertemuan, kami diwajibkan untuk presentasi di depan kelas. Kami semua diberi waktu 60 detik untuk mengucapkan maksimal 20 kalimat.
Yang gue suka dari dosen ini adalah, dia tidak
mewajibkan kami dibebaskan dalam hal grammar.
“Pokoknya, kalian harus ngomong pake Bahasa inggris
dulu, grammarnya belakangan. Bapak yakin kalian sudah pintar dalam hal grammar.
Setidaknya kalian sudah 9 tahun belajar grammar. Iya kan?”
Bener juga sih, selama ini, justru grammar yang
menghambat gue untuk belajar Bahasa Inggris. Bikin ribet, jadinya malah males. Lagian,
orang luar negri juga grammar-nya nggak bagus-bagus amat, malah kadang lebih
berantakan dari kita.
Coba aja kalau selama 9 tahun kemarin gue lebih
fokus sama belajar Bahasa Inggris tanpa dibayang-bayangi dengan grammar yang
membingungkan.
mungkin sekarang...
Kayaknya sama aja sih, nggak bakal ada yang berubah.
wqwq
Mari kita tinggalkan semester 1.
“Beda dosen, beda juga cara nmengajarnya..”
kata pertama yang diucapkan oleh dosen baru Bahasa inggris gue.
“Kemarin sama Pak Wahid, mungkin kalian
dibebaskan dalam hal grammar, tapi tidak dikelas saya…” lanjutnya lagi.
KMVRTZ!
Padahal di krs jelas-jelas kalau Bahasa Inggris harusnya sama Pak Wahid, kenapa musti ganti dosen segala coba?
Sebelum gue ketemu sama pak Sir. Iya, namanya
emang Sir. Gue juga nggak tau kenapa kok dia bisa punya nama Sir. Apa pas lahir
ibunya sudah punya firasat kalau anaknya bakalan jadi dosen Bahasa Inggris? Cuman
jadi awkward banget gitu pas gue manggil “Pak Sir…” (Pak Pak?), masa iya, gue
mau manggil Sir doang... Atau lebih ena Sir Sir?
Nah, pak Sir ini terkenal sebagai dosen denga level ke-baper-annya yang tinggi. Gue sering
denger ceritanya dari anak-anak yang pernah diajar sama dia.
Dia pernah minta mahasiswanya buat bikin semacam petisi ke FO
supaya Pak Sir ini bisa ngajar di kelas mereka. Padahal, anak-anaknya sendiri
seneng banget kalau nggak diajar sama dia.
Gue Rasa sih emang bener, terlebih pas dia
bilang;
“Saya sebenarnya ngerasa kalau 2 sks itu masih
kurang untuk mata kuliah saya. Bahkan dulu saya mau ngajar 3 sks, padahal saya
dibayar untuk 2 sks saja…”
“Sabodo teuing lah, pak (Anjir kumisnya!!) |
Program Web Design
Malam harinya, gue sempet download beberapa
video-video 3gp kakek legend tentang Web Design. Bukan apa-apa, gue cuma
nggak mau kelihatan terlalu polos aja di mata kuliah ini. Walaupun, ya, baru
nonton semenit, gue udah nguap-nguap terus, akhirnya gue memutuskan untuk tetap
lanjut nonton drama Korea sampai pagi. Keren!
Dari namanya, udah ketauan apa yang bakal gue
pelajari di mata kuliah ini, yang pasti nggak bakal jauh dari ngoding, bikin
web, dan ngedesign web. Kuncinya cuma satu, kita harus bisa kreatif.
Bagi yang udah nggak asing lagi sama dunia
per-web-an, mungking ini jadi mata kuliah yang paling menyenangkan. Tapi bagi
yang bener-bener buta sama dunia per-web-an macam gue ini, jangan ditanya deh.
Gue cuma plenggongan doang pas dosen lagi
ngejelasin materinya, berasa kayak semua kata yang keluar dari mulut dosen
mental gitu aja, nggak ada yang bisa terserap ke otak gue.
Sip, kayaknya gue memang salah jurusan.
“Kiri bang, saya berhenti disini aja, kayaknya
udah kelewat jauh nih. Tadi kan saya mau ke pasar Pedok, kenapa jadi nyasar ke
pasar Minggu?”
*kriik
Wuiiihhh kok jadi panjang banget gini ya?
Bentar… bentar, belum selesai, dikit lagi kok.
Untuk jadwal kuliah, seharusnya nggak ada masalah, kalau aja mata kuliah Web Design jadwlanya nggak bentrok sama
jadwal kerja gue.
Yakali gue punya pintu kemana saja, gue keluar
kerja jam setengah 3, kuliah juga mulainya setengah 3, buka pintu, langsung
nyampe.
Akhirnya, mau tidak mau, gue harus nebeng di kelas
lain.
Yaah..namanya nebeng, pasti jauh dari kata nyaman dong.
Yaah..namanya nebeng, pasti jauh dari kata nyaman dong.
Ya Allah, mana ini nebengnya satu semester
full, lagi.
Apa mending gue maksain diri ikut kelas sendiri ya? Tapi dengan resiko, gue pasti bakalan telat setidaknya satu jam.